Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ibu Mertua Sakit (Tamugusi ke - 162)
Sakit

Ibu Mertua Sakit (Tamugusi ke - 162)

Birrul walidain atau membahagiakan kedua orangtua adalah wajib hukumnya bagi seorang anak. Berbakti kepada suami adalah wajib bagi seorang istri. Dalam rangka membahagiakan kedua orangtuanya maka suami wajib mendidik istri untuk berbakti kepada mertua. Sorga anak terletak pada telapak kaki orangtua terutama adalah ibu.

Saat menikah saya masih kuliah. Ibu mertua hadir saat itu. Kebetulan beliau sedang berada di Jakarta di tempat kakak sehingga bisa hadir bersama kakak ipar. Saat saya hamil tua anak pertama, kedua orangtua suami ikut kami di Yogyakarta. Saat itu ibu mertua sedang sakit diabetes. Sehingga kondisinya lemah dan harus melakukan diet ketat. Padahal jika ibu sedang sehat suka menenun kain etnik Timur.

Tak lama kemudian anak pertama saya lahir di RS Sardjito Yogyakarta. Lahir seorang bayi laki-laki sehat pada tanggal 18 Agustus 1990 saat terdengar azan subuh, makanya dikasih nama Ziaulfalaq, falaq artinya subuh. Setelah tiga hari di Rumkit, saya pulang bersama bayi saya dan suami naik taksi Jass. Tentu saja kami pulang ke tempat kontrakan kami.

Saat bayi saya berusia 40 hari kami harus pindah kontrakan yang tidak terlalu jauh dari kontrakan lama. Kontrakan lama sebenarnya boleh saja diperpanjang namun harganya dinaikkan dua kali lipat karena rumahnya memang besar terdiri lima kamar dan dapur. Alasan pindah karena biaya kontrakan terlalu mahal dan yang kedua rumahnya berdampingan dengan kandang sapi. Kami tidak tahan dengan bau kotoran sapi, maka terpaksa kami pindah ke rumah kontrakan baru.

Kami mendapatkan kontrakan rumah model lama. Rumahnya sangat besar dan harganya terjangkau dengan kantong suami yang belum punya pekerjaan dengan penghasilan yang cukup. Sayangnya rumah itu terdiri dari tiga keluarga yaitu tuan rumah dengan banyak anak, keluarga anak sulung dengan satu anak dan keluarga saya sendiri enam jiwa yaitu saya, suami, bayi saya, adik ipar dan kedua orangtua suami. Satu rumah disekat menjadi tiga bagian.

Bisa dibayangkan betapa repotnya saya. Punya bayi, masih kuliah, ibu mertua sakit. Untungnya suami, adik ipar laki-laki dan ayah mertua semua sehat walafiat. Setiap hari saya harus mencuci baju, urus bayi dan masak untuk ibu mertua yang sedang sakit dan keluarga. Jika suami dan adik ipar tidak repot, mereka membantu pekerjaan rumah tangga. Ibu mertua walau sakit tidak bisa menggendong cucu yang masih bayi, namun bisa menjaganya saat saya letakkan di kasur tanpa dipan. Tempat tidur hanya satu dipakai saya, dipinjami dipan oleh yang punya rumah satu untuk tidur mertua kemudian adik ipar tidur di kasur beralas tikar.

Untuk keperluan dapur, saya jarang ke pasar tetapi beli di tukang sayur keliling. Suami yang ke pasar jika membeli ikan laut dan singkong atau ubi. Suami berasal dari Flores sehingga ikan menjadi lauk utamanya. Ibu mertua tidak makan nasi namun makan singkong dan ubi yang dikukus dengan lauk ikan.

Suatu hari saya sangat repot sehingga terlambat membuatkan minum dan sarapan untuk ibu mertua. Tiba-tiba beliau bangun jalan tertatih menggunakan tongkat ke dapur mencari saya minta dibuatkan sarapan. Saya minta maaf karena belum sempat membuatkan sarapan. Kemudian segera saya angkat singkong dan ubi dari kukusan. Saya hidangkan dengan minuman air putih hangat. Kadang tidak tega namun apa daya. Beliau harus mengurangi asupan gula.

Suami beberapa kali membawa ibunya ke dokter untuk mengobati diabetesnya, namun tak kunjung sembuh. Ibu sering mengeluh sakit dan seperti tidak punya tenaga. Untung ayah mertua sangat sayang terus memperhatikan dan menghibur ibu mertua. Keuangan suami belum bagus jadi kami sangat prihatin.

Ibu mertua menggunakan obat alternatif untuk menurunkan kadar gula darahnya. Obatnya adalah pete China atau lamtoro kering disangrai lalu ditumbuk halus seperti kopi. Sehari dua kali pagi dan petang menyeduh satu sendok makan bubuk lamtoro dengan air mendidih tanpa gula. Kemudian diminum setelah agak dingin.Hal itu dilakukan secara rutin disertai doa dan semangat untuk sembuh. Alhamdulillah saat diperiksa dokter kadar gulanya normal. Ibu mertua sembuh dari diabetes. Saya sangat bersyukur obatnya sangat sederhana, yang utama adalah cinta kasih yang tulus dari anak-anak dan suaminya.

Maguwoharjo, 16 November 2020

Sumber gambar: aliefteknik.wordpress.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post