Operasi Tiroid Bagian akhir (Tamugusi k2 173)
Bagian 9. Pemulihan Paska Operasi Tiroid
Setelah berada di bangsal hari pertama paska operasi saya masih tetap berada di tempat tidur, masih mengenakan baju operasi. Wajah terlihat pucat dan lelah. Hanya diam tak bersuara. Jika menginginkan sesuatu hanya pakai isyarat dan bicara tanpa suara. Setiap berapa jam sekali disuntikkan obat anti nyeri lewat infus, rasanya sungguh tidak nyaman. Setiap kali diinjeksi obat anti nyeri, saya harus menahan nafas beberapa saat.
Sore hari sekitar jam lima, dokter Gede yang mengoperasi tiroid melakukan visit ke ruangan untuk melihat perkembangan saya paska operasi. Beliau menanyakan kabar lalu saya jawab baik dengan sangat pelan. Terus melihat tampungan darah dari leher saya lalu bilang bahwa sudah lumayan tidak terlalu deras. Kalau sudah tidak mengalir lagi darah bekas operasi selang boleh dilepas.
Beliau bilang bahwa mengoperasi saya boyoknya sampai sakit karena berdiri sambil agak membungkuk fokus pada leher. Mulai dari menggaris pada bagian leher yang akan disayat hingga membedah dan mengangkat tiroid yang sebelah kanan hingga menjahit kembali dengan laser. Operasi yang biasanya makan waktu 3 – 5 jam namun saya memakan waktu hingga 8 jam. Itu karena tiroid yang bermasalah cukup besar hingga menekan organ lainnya yakni tenggorokan dan pita suara.
Mendengar dokter Gede cerita, saya hanya menyimak dan berucap terimakasih telah mengatasi penyakit yang telah menahun. Dokter sempat menanyakan apakah mau melihat video pengangakatan tiroid. Jika tidak tahan melihat tidak usah melihat. Saya mengangguk pingin melihat. Lalu dokter memperlihatkan videonya. Namun saya hanya melihat sebentar karena takut. Terus dengan isyarat saya meminta sudah cukup.
Dokter berpesan agar sedapat mungkin puasa bicara agar jahitan terutama jahitan bagian dalam lekas sembuh. Selama di bangsal dokter Gede mengunjungi saya setiap sore. Hari keempat lepas perban di leher dan juga lepas selang untuk darah dan juga kateter. Saat lepas selang di leher terasa nyeri sekali. Setelah perban di leher diganti rasanya lumayan nyaman. Saya sudah bisa jalan ke kamar mandi walau infus masih menempel.
Banyak famili dan teman menjenguk ke rumah sakit membawa buah tangan, namun saya hanya senyum karena tidak boleh bicara banyak. Mereka hanya menjenguk sebentar mendoakan langsung pulang. Semua itu membuat saya haru dan bahagia menambah motifasi saya untuk sembuh.

Hari kelima saat dokter kunjung ke ruangan saya menyampaikan bahwa perkembangan baik. Namun karena itu hari Sabtu sehingga harus menunggu hingga Senin. Senin pagi baru diijinkan pulang dari rumahsakit. Rasanya tak sabar untuk segera melihat rumah.
Senin pagi setelah mendapatkan ijin pulang rasanya senang banget. Setelah mengurus administrasi, mendapatkan satu paket obat dan surat control saya pulang dijemput si sulung dan juga suami.
Setelah berada di rumah, lima hari kemudian saya harus kontrol ke poli Onkologi. Prosesnya seperti biasa, pagi sekali ambil nomor antri kemudian menunggu di lobby untuk dipanggil nomor urutannya, lalu antri di poli. Bergambung dengan pasien lain yang sama-sama menunggu antrian.
Saat menunggu antrian ujian terberat adalah ketemu banyak orang dan biasanya terpancing ngobrol. Padahal saya harus puasa ngobrol supaya leher dan pita suara tidak sakit dan menghambat proses pemulihan. Saya memilih untuk menenggelamkan diri dengan HP atau membawa buku bacaan.
Tiba giliran dipanggil ke dalam ruangan, dokter Gede menanyakan hasil laboratorium Patologi Anatomi penyakit saya di RS Sarjito. Saya menyerahkan amplop hasil PA kemudian beliau membacanya. Beliau lalu tersenyum pada saya sambil bilang bersyukurlah bu Siti karena jaringan tiroid berdasarkan PA menunjukkan bahwa tidak merupakan tumor ganas melainkan jinak.
Kemudian saya diminta bersuara. Saya bilang kalau bicara terasa sakit sekali di tenggorokan. Beliau bilang bersyukur suara masih ada walau volumenya sangat kecil, karena pada kasus yang lain ada yang suaranya hilang sama sekali. Dengan berjalannya waktu suara akan pulih. Harus bersabar. Kemudian saya diminta berbaring di ranjang periksa untuk dilepas perban yang masih nempel di leher oleh perawat. Setelah memeriksa hasil jahitan beliau bilang bagus tapi jangan kena air dulu jika mandi.
Setelah selesai control, saya harus mengambil obat di apotik rumahsakit. Pendek kata ke rumah sakit itu berangkat pagi pulang sore. Tidak pilihan lain semua proses harus dilalui dengan penuh kesabaran. Harus minum beberapa jenis obat dan juga diberi salep untuk dioles dibekas operasi.
Efek dari operasi tiroid adalah pertama, suara saya jadi sangat kecil. Saat bicara lawan bicara harus melihat gerak bibir saya, jika tidak pasti mereka tidak paham apa yang saya bicarakan. Saya bahkan sempat beberapa kali ke dokter THT untuk terapi pita suara. Ini juga sangat menyiksa karena hidung saya ditetesi cairan obat kemudian dimasukin alat, terus saya melihat monitor untuk melihat gerakan pita suara sambil mengucap vocal AAAA, IIIIII, OOOO…dan ternyata pita suara tidak bisa mengatup dengan sempurna. Kedua, sakit saat menelan walaupun itu air. Terakhir adalah stamina melemah. Cepat letih karen kelenjar tiroid tinggal setengahnya sehingga metabolism tubuh menjadi terganggu.
Yang paling menyedihkan adalah awal-awal mengajar paska operasi, suara sangat kecil dan berubah dari suara asli. Saya harus membeli microphone yang portable untuk bisa mengajar. Itupun saya bicara seirit mungkin. Sebelum operasi, suara saya bening dan merdu kalau nyanyi. Sekarang harus ikhlas menerima suara baru yang berubah total. Butuh waktu hampir dua tahun menunggu volume suara agak besar setidaknya lawan bicara bisa tahu maksud ucapan saya. Namun saya tetap bersyukur karena masih ada suara. Alhamdulillah ‘ala qulli hal.
Tamat.
Maguwoharjo, 30 November 2020
Sumber gambar: alodokter.com. dokpri.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
