Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Operasi Tiroid - Bagian ke 6 (Tamugusi ke - 170)
Operasi Tiroid

Operasi Tiroid - Bagian ke 6 (Tamugusi ke - 170)

Bagian 6. Operasi Ditunda

Sore itu saya sering membuka gawai untuk mengetahui apakah sudah ada pemberitahuan dari bagian rawat inap tentang kapan harus masuk untuk menjalani perawatan di rumah sakit Harjolukito. Tetiba ringtone berbunyi tanda ada pesan masuk. Isi pesan adalah saya harus ke rumah sakit besok pagi jam 7.30 lengakp dengan persyaratan dan perlatan yang harus dibawa. Setelah mengetahui isi pesan rasanya lega sekaligus cemas karena akan dioperasi tiroid.

Saya mengemasi barang-barang seperlunya lalu dimasukkan ke dalam tas ransel besar. Ada pakaian ganti, handuk, mukena, perlatan mandi. Sempat juga membawa dua buku bacaan ringan untuk baca-baca agar tak jenuh. Tak lupa saya siapkan berkas administrasi termasuk hasil laboraium dan foto rongten.

Besoknya saya berangkat sendiri ke rumah sakit langsung menuju ke tempat pendaftaran rawat inap menunjukkan pesan wa bahwa hari itu harus mulai rawat inap. Mereka minta KTP lalu menyerahkan surat pengantar untuk poli Ongkologi ketemu dokter Gede Hariyanto, Sp. (B) Onkolog yang menyatakan bahwa kamar untuk saya dirawat inap telah disiapkan.

Surat tersebut saya serahkan ke bagian poli Onkologi dan tak lama saya dipanggil masuk ke ruang periksa. Kemudian pak dokter menanyakan kalau sudah siap oparasi, saya jawab sudah. Lalu beliau minta salah satu perawat untuk mengantar saya ke sebuah ruang di bangsal Merpati lantai satu.

Perawat bertanya mau jalan kaki atau naik kursi roda. Saya minta jalan kaki saja karena saya masih sehat. Perawat itu membawa berkas administrasi lalu berjalan beriringan dengan saya yang menggendong ransel. Setelah sampai di ruangan dimaksud saya ditunjukkan tempat tidur dan lemari pasien yang bisa digunakan selama dirawat. Setelah mengantar saya, perawat tersebut pamitan untuk kembali ke poli Ongkolog.

Satu ruang di sekat dengan tirai panjang menjadi dua, sehingga ada dua ranjang untuk dua pasien. Saat itu ada satu pasien yang sudah hampir pulang. Pasien tersebut adalah seorang ibu seumuran saya. Orangnya putih cantik namun kakinya terlihat melepuh dengan kukunya yang hampir lepas. Beliau cerita bahwa sakit diabetes lalu berobat alternatif tapi tidak cocok sehingga malah kakinya melepuh. Saya tidak menanyakan bagaimana ia diobati sehingga menjadi melepuh.

Setelah ibu itu pulang, sorenya sudah ada pasien baru lagi yang tidur di ranjang yang habis dipakai pasien lama tersebut. Sore itu juga perawat ruangan mengukur suhu dan tekanan darah saya sekaligus memasang infus. Tahu sendiri kalau sudah pasang infus pasien tidak leluasa bergerak. Suami saya datang membawakan makanan dan buah-buahan.

Saya merasa aneh karena saya sepertinya tidak sakit kok diinfus. Tapi saat ditensi tekanan darah saya agak tinggi yaitu 150/90. Kemudian perawat bilang agar saya rileks jangan memikirkan yang tidak-tidak. Dokter yang menangani penyakit saya sudah sangat ahli, jadi pasrahkan saja sambil berdoa. Lalu perawat itu memberikan obat turun tensi.

Malam hari perawat ruangan datang lagi untuk ukur suhu dan tekanan darah lagi. Ternyata masih agak tinggi walau sudah turun menjadi 140/90. Dia bilang lagi agar lebih rileks lagi karena besok pagi jam 07.00 sudah harus dijemput untuk dibawa ke ruang operasi. Saya mengangguk dan berusaha rileks. Saya ngobrol dengan suami sambil ketawa-ketawa. Suami berusaha menenangkan hati dan pikiran saya.

Besoknya saya bangun sebelum subuh terus mandi. Agak repot memang karena ada infus. Saya harus menjaga posisi botol infus tetap lebih tinggi dari badan saya. Di kamar mandi infus saya cantelkan di tempat infus lalu saya mandi pakai shower. Setelah mandi dan wudu, saya keluar sudah mengenakan baju operasi yang sudah diantar malamnya oleh perawat. Kemudian saya menuju ranjang pasien sholat subuh dengan posisi duduk.

Jam tujuh kurang perawat sudah menjemput. Saya lepas semua perhiasan dan hanya mengenakan baju operasi berwarna biru muda. Baju operasi seperti piyama tetapi memakainya dibalik sehingga ikatannya di belakang. Saya ditensi lagi tapi tekanan darah masih tinggi yakni 150/90 lagi. Lalu saya diminta minum obat turun tensi lagi. Suami saya menghibur saya lagi agar tenang dan berdoa. Semua akan baik-baik saja.

Posisi masih ditempat tidur, perawat itu menarik ranjang saya yang memang ada rodanya. Pelan namun pasti dengan melewati lorong rumahsakit ranjang terus ditarik dan sampailah saya di ruang operasi. Suami mengikuti dari belakang. Di sana sudah menunggu dokter Gede Hariyanto bersama tim bedah. Bukan tim bedah rumah loh namun tim bedah pasien yang akan dioperasi. Mereka menyambut saya dengan ramah dan memotifasi agar jangan takut menjalani ikhtiar ini. Saya senyum dan mengangguk

Sebelum dokter anastesi membius saya, beliau minta perawat untuk ukur tensi lagi. Karena ini operasi besar maka harus bius total. Posisi penyakit ada di leher kalau tidak bius total tidak memungkinkan operasi berjalan baik. Saya sudah berusaha untuk tenang dan rileks, tapi ternyata tekanan darah saya malah melejit menjadi 190/100. Saya belum pernah mengalami tekanan darah setinggi itu.

Dokter Gede terkejut dan memutuskan operasi ditunda. Sangat berbahaya jika melakukan pembedahan sementara pasien mengalami hypertensi. Dokter Gede bilang bahwa saya tidak rileks. Hal itu terlihat dari tekanan darah yang sangat tinggi. Maka operasi tidak bisa dilanjutkan. Suami saya sebagai yang bertanggungjawab terhadap saya diberitahu dari ruang bedah. Padahal posisi suami lagi sarapan di kantin.

Suami lari secepatnya menuju ruang bedah tapi hanya dipintu. Lalu bersama perawat membawa kembali saya ke ruang rawat inap. Sore hari dokter visit ke ruang saya lalu bilang operasi ditunda pekan depan atau depannya lagi menunggu saya benar-benar siap. Sore itu juga saya pulang dulu ke rumah bersama suami.

Bersambung.

Maguwoharjo, 27 November 2020

Sumber gambar: alodokter.com. dokpri

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post