Operasi Tiroid - Bagian ke 7 ( Tamugusi ke - 171 )
Bagian 7. Operasi Tanpa Suami
Setelah dokter Gede Heriyanto memutuskan menunda operasi tiroid hingga kondisi saya benar-benar siap, maka saya pulang dulu dan bekerja lagi seperti biasa. Saat saya hadir ke sekolah untuk mengajar, kepala sekolah dan rekan guru yang lain terkejut dan heran kenapa tidak jadi operasi.
Saya jelaskan kepada mereka semua termasuk murid-murid yang sudah sempat dipamiti bahwa beberapa hari ke depan saya harus menjalani pengobatan panjang. Mereka memahami apa yang terjadi lalu memotifasi saya agar tidak takut, harus pasrah, terus berdoa agar diangkat penyakit saya. Saya jawab iya terimakasih atas semua perhatian.
Jadwal dokter Gede di poli Ongkologi adalah Senin hingga Jumat. Pada Jumat sore biasanya beliau terbang ke Jakarta untuk pulang ketemu keluarga. Keluarga beliau tinggal di Jakarta tapi beliau dinas di Yogyakarta. Kamis saya mencari surat rujukan supaya Jumat bisa ketemu beliau di poli untuk konsultasi dan menjadwal ulang operasi.
Jum’at pagi sekali saya minta anak saya ambil nomor antrian. Jam tujuh lebih dikit saya berangkat ke rumahsakit Harjolukito. Setelah memberikan nomor antrian, anak saya pulang. Saya duduk di lobby pendaftaran tak lama nomor saya disebut untuk antri dipanggil lagi di poli Onkolog.
Setelah serahkan surat rujukan, fotocopy askes dan ktp, saya dikasih nomor antrian di poli Ongkologi oleh petugas pendaftaran. Saya menuju poli Ongkologi, serahkan berkas lalu duduk menunggu dokternya datang. Biasanya jam 9.30 setelah apel pagi dan visit ke pasien rawat inap baru para dokter dan parawat menuju ke poli masing-masing. Disamping juga menunggu buku rekam medic para pasien diambil baru mulai pemanggilan pasien untuk diperiksa sesuai nomor urut antrian mereka.
Sambil menunggu panggilan dokter saya biasa ngobrol sesama pasien atau keluarga yang mengantar. Setelah mengetahui bahwa mereka dari Wonosari, Purworejo dan tempat-tempat lain yang jauh saya menjadi lebih bersyukur karena tempat saya ke rumahsakit tidak terlalu jauh dibanding mereka.
Tak lama, perawat mulai memanggil pasien baik yang akan menjalani pengobatan maupun mereka yang kontrol paska menjalani operasi satu per satu. Saya mendapat panggilan setelah pasien yang kelima. Beruntung karena saya mendapat nomor kecil. Jika nomor sudah di atas sepuluh bisa samapi sore. Dokter Gede adalah satu-satunya dokter bedah onkolog di rumahsakit tersebut, tidak heran jika pasiennya membludag dari berbagai daerah.
Tiba giliran saya konsultasi, dokternya langsung bilang, “Bagaimana bu Siti apakah sudah benar-benar siap untuk diangkat tiroidnya? Jika sudah mari kita jadwalkan ulang.”
Saya tersenyum sambil bilang, “Sudah sangat siap dokter. Tensi saya sudah normal kembali 120/80.”

Dokter Gede melihat kalender dan melihat jadwal pasien yang harus ditanganinya. Kemudian menunjuk hari dan tanggal eksekusi untuk saya. Saya setuju dengan jadwal tersebut tanpa bilang suami, karena sudah sangat bersemangat untuk menjalani operasi. Saya pun diminta mendaftar lagi ke bagian rawat inap, lalu pulang.
Sore hari setelah suami pulang dari kampus saya bilang kalau sudah mendapatkan jadwal operasi yaitu Senin pekan depan. Suami kaget karena berbarengan dengan jadwalnya ngisi seminar di Jakarta. Suami bertanya apakah tidak bisa ditunda jadwal operasinya atau harus beliau yang membatalkan jadwal seminarnya. Saya katakan untuk jadwal tetap dijalankan dua-duanya. Untuk operasi tidak usah ditungguin tidak masalah kan ada anak-anak. Dengan berat hati suami menyetujui.
Sebelum operasi dijalankan, anak sulung sengaja menyenang-nyenangkan saya dengan membawa saya jalan-jalan di hutan pinus Becici yang jarak tempuhya tak terlalu jauh hanya di Imogiri Bantul. Melihat suasana hutan pinus yang tinggi dan tertata rapi membuat suasana hati sangat rileks. Berjalan santai dan berfoto ria bersama menantu dan cucu sungguh menggembirakan.
Hari H pun tiba. Saya sudah harus menginap di rumahsakit mulai Senin dan Selasa pagi dieksekusi oleh tim bedah. Suami menilpun pagi-pagi sekali dari Jakarta memotifasi dan mendoakan dengan khusuk dan saya amini. Saya juga pesan agar suami menunaikan tugasnya dengan tenang. Namun demikian malah suami yang kepikiran karena tidak bisa menunggui istri menjalani operasi besar.
Sesuai prosedur, perawat menjemput saya ke bangsal sekitar jam tujuh pagi. Meminta saya melepas semua perhiasan dan menitipkan barang berharga pada putri saya. Saya sudah mengenakan baju operasi yang telah disiapkan oleh perawat. Saya pun pasrah saat perawat menarik keluar dari kamar lalu mendorong ranjang saya menuju ruang instalasi bedah diikuti oleh putri saya.
Sampai di ruang bedah ranjang saya di dorong masuk. Sampai di dalam sudah ada beberapa pasien yang juga siap menjalani operasi sesaui dengan dokter bedahnya masing-masing. Ada yang mau operasi amandel, jantung, ambyen dan sebagainya. Kemudian oleh perawat yang akan menjadi tim bedah, saya dipindahkan ke ranjang khusus yang lebih ramping ukurannya lalu saya di dorong masuk ke kamar bedah.
Di dalam kamar bedah sudah menunggu dokter Gede, dokter anastesi dan dua orang perawat. Dokter Gede mengucapkan selamat datang lalu memotifasi agar tenang dan memasrahkan ikhtiar pengobatan pada mereka. Dokter anastesi permisi pada saya untuk mengikat kedua tangan saya di ranjang agar tidak jatuh. Kemudian beliau mengajak saya membaca Alfatihah karena tahu saya muslim dan menyuntikkan sesuatu. Saya pun menuruti saja kemudian saya tidak tahu apa-apa lagi. Saya sudah terbius total untuk waktu yang lama.
Bersambung.
Maguwoharjo, 28 November 2020
Sumber gambar: alodokter.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
