Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Operasi Tiroid - Bagian ke 8 ( Tamugusi ke 172 )
Operasi Tiroid

Operasi Tiroid - Bagian ke 8 ( Tamugusi ke 172 )

Bagian 8. Di Ruang ICU

Saya tidak tahu apa yang terjadi 8 jam di ruang bedah. Operasi yang ditargetkan 3-5 jam selesai ternyata harus memakan waktu hingga 8 jam. Yang saya tahu pagi itu diajak berdoa oleh dokter anastesi terus tidak ingat apa-apa lagi dan saat terjaga saya sudah berada di ruang ICU. Sekitar jam 12 malam saya terjaga, rasanya linglung bingung tidak tahu sedang berada dimana.

Leher saya terbalut perban, dada dipenuhi kabel-kabel yang terhubung ke monitor, dua jempol tangan dijepit sesuatu yang juga terhubung ke monitor. Ada selang panjang nempel di leher yang diujungnya ada wadah untuk menampung darah yang terus mengalir dan juga ada kateter untuk menampung urine dan tentu saja infus untuk mengalirkan nutrisi ke tubuh saya. Ternyata terjadi pendarahan yang lumayan hebat, karena itu saya diistirahatkan di ruang ICU untuk antisipasi jika hal-hal yang lebih membutuhkan penanganan intensif terjadi.

Saat saya bilang haus dengan suara yang amat pelan, perawat jaga bilang, “Pasien sudah sadar.” Kemudian dia menyodorkan minum susu dengan pipet dimasukkan ke mulut saya. Rasanya ingin menghabiskan satu gelas susu yang dia sodorkan namun saat mau menelan susah. Saya merasakan aneh karena minum yang biasanya mudah jadi susah. Dalam hati berkata “La haula wala kuwwata ila billah” (Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah semata). Saat sudah berhasil menelan saparoh gelas tetiba perut sangat mual dan susu yang susah payah tertelan harus keluar semua hingga membasahi perban di leher.

Perawat seketika mengambil kain lap untuk membersihkan muntahan susu. Dia kesusahan untuk mengelap susu yang mengenai perban di leher saya. Dokter berpesan untuk mengganti perban jika jahitan bekas operasi sudah mengering sekitar 4 hari kemudian. Dia hanya mengelap plastik alas tidur. Saya mengucapkan terimakasih dalam hati dengan isyarat mata dan kepala sedikit mengangguk.

Faktanya adalah saya terbangun dari tidur yang sangat panjang, dari jam 07.00 – 12 malam. Ada juga dua pasien yang terbaring tak berdaya di sebalah kiri. Saya tetap bersyukur dalam hati bahwa masih ada kehidupan pada diri ini. Berusaha mengatur nafas saya terus berzikir dalam hati. Memasrahkan segala kemungkin yang akan terjadi kepada yang Maha Memberi Kehidupan.

Sekitar subuh saya laksanakan sholat subuh dengan tetap berbaring jadi hanya dengan isyarat, tetiba terdengar ada seseorang yang masuk dan menyentuh tangan saya. Si sulung menyentuh tangan saya sambil bilang, “Alhamdulillah, mama sudah sadar.” Dia memperhatikan kondisi saya yang membuat dia trenyuh hingga menetes air mata. Kemudian dia dipanggil perawat untuk menerima separoh tiroid saya yang diangkat oleh dokter Gede untuk segera diperiksakan di laboratorium RS Sarjito untuk mengetahui adakah ia termasuk tumor ganas apa bukan.

Anakku bilang, “Masha Allah besar banget ya bu (perawat) seperti buah manggis.”

Perawat bilang, “Iya mas. Segera nanti dibawa ke Sarjito ya mas. Hasilnya nanti akan diberitahukan pihak sana. Biasanya dua atau tiga hari sesudahnya.”

Anakku bilang, “Siap laksanakan bu.”

Pagi-pagi menantu bersama orangtuanya menjenguk di ICU secara bergantian. Mereka menjenguk saya sebentar karena tidak boleh lama-lama oleh perawat. Suami belum menjenguk karena masih berada di Jakarta. Sekitar jam 07.00 baru akan mendarat di bandara Yogyakarta naik pesawat Garuda flight pertama dari bandara Suta. Saya dengan suara pelan bertanya pada perawat sampai kapan saya di ruang ICU. Perawat bilang bahwa sekitar jam 07.00 akan dijemput perawat bangsal untuk dibawa kembali ke ruang rawat inap.

Saya menunggu jemputan perawat yang dari bangsal. Muntahan yang terkena di perban membuat semakin tidak nyaman. Ingin saya lepasi semua peralatan medik yang menempel di tubuh. Pingin lari ke kamar mandi dan membasahi tubuh ini dengan semprotan air dari shower. Ya Allah betapa nikmatnya sehat. Bisa melakukan ini dan itu dengan leluasa. Apa daya tubuh ini harus terbaring lemah di ruang ICU. Saya hanya berpikir jika obat anti nyeri saya habis, sudah bisa dipastikan saya tidak bisa tenang. Perih bekas sayatan pisau dokter akan membuat saya meronta-ronta kesakitan. Saya membayangkan sakarotil maut. Astaghfirullahal’adziem.

Saya melirik jam dinding di ruang ICU telah menunjukkan jam 07.00. Kenapa perawat yang akan menjemput saya belum juga tiba. Tak lama terdengar ada suara sepatu masuk. Kemudian perawat itu bilang akan menjemput saya dikembalikan ke bangsal. Perawat ICU melepaskan seluruh kabel yang menempel didada saya juga penjempit jempol. Setelah semua yang harus dilepas terlepas, tertinggal selang penampung darah bekas operasi, kateter dan juga infus, secara perlahan perawat bangsal menarik ranjang saya keluar dari ruang ICU.

Diikuti oleh anak-anak dan besan saya, perawat itu terus mendorong ranjang saya perlahan tapi pasti melewati lorong rumahsakit menuju ruang di bangsal tempat saya dirawat inap. Setelah sampai, ranjang didorong masuk ruang lalu diposisikan seperti semula. Matahari di luar ruangan nampak cerah tak lama suami saya datang langsung berkaca-kaca melihat saya terbaring dengan leher diperban putih yang sedikit menguning karena bekas muntah yang mengering. Saya melihat suami saya hanya berusaha senyum namun tidak berkata-kata. Saya hanya merasa bersyukur dan lega karena suami telah kembali ke Yogyakarta dengan selamat.

Putri saya yang mengantar saya ke ruang operasi tidak tahu kalau saya di ruang ICU. Karena operasinya lama sekali sehingga putri saya balik ke bangsal dan tertidur. Saat ayahnya menelepon untuk mengetahui bagaimana perkembangan saya, dia tidak angkat karena tertidur. Dia tahu saat perawat memberitahukan dia bahwa mamanya diistirahatkan di ruang ICU setelah operasi selesai.

Bersambung.

Banyumas, 29 November 2020

Sumber gambar: alodokter.com. bscmitra.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post