Pro atau Kontra Boleh Saja (Tamugusi ke - 153)
Oleh: Siti Nurhayati, M.Pd.
Bismillahirrahmaanirrahiim
Sekarang ini semua media sedang ramai membicarakan seorang tokoh Islam yang bernama Muhammad Habieb Rizieq. Beliau adalah warga negara Indonesia keturunan Arab pimpinan sebuah ormas yaitu Front Pembela Islam (FPI). Tokoh kontroversial ini baru saja pulang setelah sekian lama berada di Arab Saudi bersama keluarganya. Cerita beragam tentang mengapa beliau berada di negara nenek moyangnya sekian lamanya, namun dapat disimpulkan bahwa tokoh ini diindikasikan konon membahayakan penguasa atau dengan kata lain tersandung masalah politik. Benar tidaknya hanya Tuhan yang tahu.
Penulis tidak akan membahas tentang siapa tokoh ini dan rekam jejaknya di Indonesia. Satu yang bisa dicatat bahwa apapun yang dilakukannya adalah sebuah gerakan dakwah yang memperjuangkan Islam bisa eksis di muka bumi Indonesia sesuai versi atau idiologinya. Sesuatu yang akan dibahas di sini adalah mengenai Pro dan Kontra.
Penulis banyak menyaksikan postingan di Facebook, penulis belum melihat di sosmed lainnya yang pasti banyak postingan tentang tokoh ini yang memang sedang hangat beritanya. Postingan yang terlihat di FB sangat menunjukkan siapa yang pro dan siapa yang kontra pada dirinya. Yang pro tentu menyanjung, sedang yang kontra mengumpat.
Pro dan kontra itu sebenarnya syah-syah saja sepanjang itu tidak berlebihan dan bahkan bisa membahayakan. Selama matahari masih bersinar, selama kehidupan ini masih ada pro dan kontra akan selalu ada. Namun hendaknya bila membenci jangan terlalu, bila mencintai pun jangan terlalu. Sebab yang terlihat belum tentu itu yang sesungguhnya terjadi.
Saat emosi yang sedang menguasai diri, biasanya logika menjadi tumpul sehingga bicaranya sering tidak terkontrol. Kita tau semua bahwa ucapan yang telah lepas dari mulut tidak bisa terhapuskan. Ucapan orang yang mendukung pada sang tokoh biasanya sangat hyperbola, demikian juga ucapan orang yang membencinya penuh caci maki dan hinaan atau hatespeech.
Sangat disayangkan jika ujaran kebencian penuh fitnah terhadap sang tokoh terpampang di sosial media akan dengan mudah menyebar kemana saja yang dapat menyulut amarah para pendukung tokoh tersebut. Demikian juga sanjungan terhadap sang tokoh akan melahirkan pengkultusan sehingga susah melihat sisi buruk sang idola.
Kita akan malu jika yang tadinya pro terus hati dibalikkan Tuhan menjadi kontra, dan sebaliknya. Sedangkan ucapan yang diposting di sosmed sudah terlanjur menyebar seantero. Hal ini bisa menjadi bumerang bagi dirinya. Orang yang pernah tau rekam jejaknya bisa mencibir “Karang menjadi besi, dulu sayang sekarang benci. Salak dimakan ulat, dulu menolak sekarang menjilat ”.
Mau pro silahkan. Mau kontra silahkan. Namun tetaplah berdasar logika berpikir yang jernih. Jika hati dan pikiran keruh karena emosi yang membuncah maka ucapannya menjadi ngawur dan tidak obyektif. Benar dikatakan salah, salah dikatakn benar. Hal ini bisa memporak porandakan sebuah pertemanan dan persaudaraan, memutus tali silaturahmi.
Tidak ada orang atau sesuatu yang sempurna. Yang sempurna hanyalah yang Maha Kuasa. Seseorang atau sesuatu pasti ada sisi baik dan buruknya, ada kurang dan ada lebihnya. Hikmahnya adalah agar satu sama lain saling mengisi kekurangan dengan kelebihan dari pihak lain. Jadi silahkan saja pro atau kontra namun tetaplah obyektif mengakui kekurangan dan kelebihan sang idola supaya tidak terjadi kultus individu.
Wallahu’alam bishawab
Maguwoharjo, 11 November 2020
Sumber gambar : kompasiana.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
