Sabar terhadap Pujian dan Celaan (Tamugusi ke - 101)
Bismillahirrahmaanirrahiim
Saat artikel saya sempat masuk sebagai artikel popular di blog gurusiana, saya merasa sangat senang. Terlebih setelah saya menyampaikan ke grup MGI bahwa artikel saya hari itu sebagai salah satu artikel favorite, saya lantas dapat pujian. Sebagai manusia tentu hal itu menambah kesenangan saya.namun sebelum tidur saya merenung, saya jadi khawatir bahwa saya telah melakukan dosa ‘riya”. Saya jadi merasa ketakutan bahwa niat saya menulis menjadi tidak lurus. Bukan mengharapkan ridho Allah swt namun malah mengharapkan pujian dari manusia. Astaghfirullah.
Pujian dan celaan adalah merupakan lawan kata. Seperti baik dan buruk, siang dan malam, gelap dan terang. Pujian merupakan kata benda, sedangkan kata kerjanya adalah memuji, mengapresiasi, menghargai terhadap sesuatu atau perilaku yang dianggap baik atau sangat baik.
Meskipun pujian itu menyenangkan namun jangan senang dipuji apalagi sampai gila pujian tentu ini menjadi tidak sehat. Bersikaplah yang wajar saat apa yang kita lakukan memang pantas mendapat penghargaan sehingga terlahir kata-kata pujian. Namun jangan sampai bersedih hati jika tidak ada yang memberi pujian.
Dalam pujian terselip kata ujian. Jadi pujian merupakan ujian untuk keimanan kita. Apakah setelah banjir pujian, kita malah semakin mengakui bahwa semua yang terjadi atas prestasi kita adalah semata-mata campur tangan Allah swt atau malah jadi ujub(sombong).
Orang lain memuji kita karena mereka tidak tau kekurangan kita. Allah yang telah menutup aib-aib kita. Jika Allah buka aib kita yang terjadi adalah sebaliknya, bukan pujian namun celaan.
Ada hadis yang cukup shahih bahwa Rasulullah saw memrintahkan untuk menyiramkan pasir ke wajah orang yang suka memuji. Tentu tidak lantas dipahami hadis ini secara harfiah. Tentu kalau orang yang memuji kita disiramkan pasir ke wajahnya marah. Namun makna tersiratnya adalah dilarang memuji apalagi secara berlebihan dan bertujuan hanya membuat senang orang yang dipuji, lantas orang yang dipuji memberi hadiah. Dalam bahasa kasarnya adalah “menjilat” atau “cari muka”. Ini bisa terjadi pada instansi atau perusahaan agar diberi hadiah jabatan atau apa yang bernilai keduniaan.
Rasulullah juga mengatakan bahwa orang yang suka memuji orang lain laksana sedang mematahkan punggung orang itu atau menyembelihnya. Saya memahami perkataan Rasulullah itu melarang orang memuji orang karena bisa membuat orang yang dipuji lantas sombong dan merasa hebat sehingga malas untuk terus memperbaiki amal atau kinerjanya.
Apakah tidak boleh memuji? Tentu saja boleh sebagai reward dan diniatkan untuk memotivasi orang yang dipuji agar mempertahankan apa yang sudah baik bahkan supaya lebih baik lagi.
Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq mengajarkan do’a saat beroleh pujian atau apresiasi sebagai berikut: dikutip dari **(censored)**,12-10-2011
اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَوَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ
Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.
[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka]
Dalam do’a ini bahwa kita harus menyadari bahwa Allah swt dan diri kita lebih paham tentang kondisi diri kita yang sebenarnya dibanding orang yang memuji kita. Dan berdoa agar menjadi lebih baik dari apa yang disangkakan baik terhadap kita. Dan mohon ampun atas aib kita yang mereka tidak ketahui.
Kita harus sabar terhadap pujian sehingga tidak lantas jadi sombong dan lupa diri. Demikian juga tidak lantas sakit hati dan dendam lantaran kritikan atau celaan dari orang lain. Bagi orang-orang yang ikhlas tentu tidak beda mana pujian atau celaan dari manusia karena mereka semata-mata hanya mengharap ridho Allah swt.
Wallahu a’lam bishawab.
Disarikan dari barbagai sumber.
Maguwoharjo, 2-11-2020
Sumber gambar: iqra.id
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
