Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Tak Bisa Diwakilkan  ( Tamugusi ke - 105 )
Prosesi pemakaman Ki Seno Nugroho

Tak Bisa Diwakilkan ( Tamugusi ke - 105 )

Oleh: Siti Nurhayati, S.Ag., M.Pd.

Yogyakarta baru saja kehilangan seorang seniman Jawa yang lagi naik daun atau fenomenal. Beliau adalah seorang dalang wayang kulit dari Sedayu Bantul. Namanya adalah Ki Seno Nugroho. Meninggal dunia dalam usia 48 tahun pada 3 November 2020 karena sakit jantung. Dimakamkan dalam satu liang lahat bersama mendiang ayahnya yang dulunya juga seorang dalang di makam keluarga di Umbul Harjo.

Almarhum memiliki penggemar yang banyak di seluruh Nusantara. Beliau selain mendalang secara langsung juga melalui live streaming menggunakan kanal Youtobe. Sekali mendalang secara live streaming penontonnya mencapai 20.000 an.

Sebelum meninggal, almarhum sempat berpesan agar saat meninggal dunia diiringi dengan gending oleh para pengrawit asuhannya. Adapun gending Jawa yang mengiringi kematian Seno adalah Ladrang Gajah Seno karya Joko Porong. Gending tersebut dinyanyikan oleh 11 sinden di depan rumah duka di Dusun Gayam, Argosari, Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Sambil melaksanakan amanat almarhum mereka tak dapat membendung airmata sambil nangis sesenggukan.

Ki Seno Aji usianya masih muda. Reputasinya sedang menanjak. Tapi saat Allah memanggil dengan mengutus malaikat Izrail, tak seorang pun bisa mewakilinya. Kematian itu otentik. Tidak memandang seseorang itu posisinya apa, sedang apa, dimana jika saatnya meninggal ya meninggal.

Orang Jawa bilang “urip kuwi mung koyo mampir ngombe’ (hidup itu laksana orang yang singgah untuk sekedar minum). Maknanya adalah hidup itu sangat singkat seperti orang pergi ke warung beli minum lalu pulang. Karena tempat yang sejati adalah pada kehidupan setelah mati.

Menurut Nabi Muhammad saw., hidup adalah sebuah perjalanan atau pengembaraan. Manusia digambarkan bagai pengembara, pelancong pengelana atau musafir.

فعن عبد الله بن مسعود – رضي الله تعالى عنه – قال: نَامَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – عَلَى حَصِيرٍ، فَقَامَ وَقَدْ أثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ! لَوْ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً، فَقَالَ: “ما لي وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسَتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا.

(رواه الترمذي وابن ماجه وغيرهما، وقال الترمذي: هذا حديث حسن صحيح)

Ibnu Mas’ud mengatakan, ‘Nabi tidur di atas tikar. Lalu bangun. Tampak di punggungnya bekas tikar itu.’ Aku menawarkan: ‘bolehkah aku ambilkan kasur, wahai Nabi?’ Beliau menjawab: ‘Apalah aku ini. Aku dalam kehidupan di dunia ini bagaikan seorang pengendara yang berhenti sejenak untuk istirahat, bernaung di bawah pohon. Sesudah itu berangkat lagi dan meninggalkan pohon itu’.

Mengingat bahwa hidup adalah sebuah pengembaraan maka cepat atau lambat akan pulang ke kampung yang abadi yang bernama akhirat. Hidup itu dari waktu ke waktu adalah menuju pintu gerbang akhirat yang bernama kematian. Mengingat mati tak bisa diwakilkan, tak bisa ditunda maka yang harus dilakukan adalah membekali diri dengan bekal yang sebaik-baiknya sehingga saat “mudik” tidak dengan “tangan kosong”.

Kematian adalah nasihat yang ampuh untuk melembutkan hati yang keras. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Al-Thabrani, Al baihaqi Rasulullah saw bersabda: “Cukuplah kematian sebagai nasihat.” Dengan mengingat mati maka kita menjadi lebih terkendali dalam menjalani kehidupan ini.

Bawalah bekal akhirat berupa amal shaleh bukan amal salah. Amal saleh adalah bekal kembali ke sorga tempat awal Allah menciptakan moyang manusia yakni Adam dan Hawa. Amal salah adalah bekal untuk kembali ke neraka. Setiap yang kita lakukan di dunai akan ada konsekwensinya di akhirat kelak. Allah berfirma sebagai berikut:

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ

Dan berjaga-jagalah (bersiap-siaplah) kalian akan datangnya suatu hari yang pada saat itu kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). (Q.S. Albaqarah [2]: 281).

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْتَعْمَلُونَ

"Katakanlah. Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, sungguh, kematian itu akan menemui kalian, lalu kalian akan dikembalikan kepada Allah yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Kemudian Dia beritakan pada kalian apa yang telah kalian kerjakan." (QS. al-Jumu'ah: 8)

Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Mari kita saling mengingatkan bahwa masih ada kehidupan yang kekal abadi yakni akhira, supaya kita tidak terlena dengan kehidupan dunia yang penuh tipu daya.

Wallahua’lam bishwab

Disarikan dari berbagai sumber.

**(censored)**

**(censored)**

**(censored)**

Maguwoharjo, 5 November 2020

Sumber gambar : Kompas.co.id. & Republika.co.id

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post