Anda juga Bisa kok Menjadi Penulis (Tamugusi ke 183)
Oleh: Siti Nurhayati
Judul di atas merupakan kata-kata yang diucapkan teman saya sepuluh tahun yang lalu. Beliau adalah guru Pendidikan Agama Islam di sebuah SMK swasta terkenal di Yogyakarta, SMK Penerbangan milik Yayasan istri TNI AU Ardya Garini. Saat itu saya juga mengajar di sekolah yang sama dengan beliau.
Kini beliau sudah menjadi seorang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta yang besar di Ponorogo yaitu Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Beliau adalah Doktor PAUD. Dari seorang guru PAI menjadi dosen yang ahli di bidang Pendidikan Anak Usia Dini. Sangat luar biasa. Posturnya kecil namun ide-idenya besar.
Saat itu kami sering bincang di ruang guru saat istirahat tiba. Kebetulan berteman di facebook sehingga sering saling melihat status yang di tulis di wall FB masing-masing. Statusnya yang ditulis tentang progress buku yang sedang ditulisnya, atau buku-buku yang telah berhasil cetak dan terbit. Biasanya saya komen pada statusnya yang sangat menginspirasi.
Saat ada kesempatan bincang di sekolah saya bertanya, “Pak Fadil, saya senang loh baca status Fb bapak. Luar biasa. Kok bapak bisa sih menulis buku-buku dan terbit. Bapak bisa menghasilkan uang dari penulisan buku-buku bapak. Bagaimana yah bisa seperti itu. Saya jadi tertarik pingin jadi penulis seperti pak Fadil.”
Beliau menjawab dengan santai, “Itu tinggal kemauan ibu saja kok. Anda juga bisa kok jadi penulis jika mau.”
“Kok pak Fadil bisa bilang begitu?”
“Iya lah bisa. Saya juga sering baca status ibu di FB. Bukankah kita berteman di FB. Saya membaca tulisan pada status itu bagus-bagus loh. Sangat menginspirasi. Ibu bisa mengembangkan tulisan itu menjadi sebuah artikel.”
“Benarkah demikian pak Fadil?”
“Ya jelas benar to bu. Itu artinya anda punya bakat. Tinggal mau apa tidak bakat itu dikembangkan. Semua orang memiliki potensi menjadi penulis. Menulis itu seperti bicara hanya pembicaraan itu ditulis.”
Sayangnya petunjuk dari pak Fadil itu tidak saya tanggapi serius. Saya tetap senang menulis status di sosmed, namun belum terpikirkan untuk menulis secara serius. Saya menyesali hal itu sekarang. Sangat terlambat untuk menjadi seorang penulis. Mengapa menunggu sepuluh tahun untuk menekuni dunia tulis menulis. Tapi tidak apalah terlambat dari pada semakin terlambat. Orang Inggris bilang, “Better late than never.”
*****
Saya menjadi facebooker sejak tahun 2009. Itu artinya saya sudah menulis banyak status juga komen di FB. Keinginan menjadi seorang penulis masih tersimpan dalam hati, namun belum muncul menjadi sebuah tindakan nyata. Entahlah mengapa hal itu belum mewujud, saya pun tidak paham.
Suatu malam saat sedang membuka laman FB ada muncul sebuah iklan tentang pelatihan menulis on line. Ada beberapa testimoni dari mereka yang sudah alumni memamerkan buku-buku yang berhasil mereka tulis. Saya menjadi gemes banget dengan diri sendiri. Mereka saja bisa kenapa sih saya tidak. Lalu saya klik “DAFTAR SEKARANG”.
Setelah mendaftar dan transfer sejumlah uang, tetiba saya sudah masuk ke dalam grup WA yaitu “KMO Non Fiksi Batch 30.” Saya heran sudah sampai Angkatan ke 30 kok saya baru tahu. Lagi-lagi saya terlambat. Namun tak masalah terlambat dari pada tidak sama sekali.
Dalam grup tersebut kami disambut oleh admin, dan diminta saling mengenalkan diri dan…ternyata pesertanya banyak ibu dan bapak juga remaja dari seantero negeri dari berbagai latar belakang yang sangat beragam. Setelah itu kami diberi link materi yang harus didownload untuk dipelajari secara mandiri. Itu semacam modul pembelajaran.
Saya pelajari satu per satu. Ada yang berbentuk video kurang lebih 9 video, ada E- book dan ada bonus dua Novel dari penulis terkenal. Saya semakin termotifasi untuk jadi penulis. Luar biasa banget. Uang yang ditransfer tak seberapa dibalas dengan begitu banyak pengetahuan tentang dunia tulis menulis.
Saat itu ada inbox dari admin bahwa setelah saya mempelajari materi yang terkirim, selanjutnya saya akan ditemani oleh seorang mentor yang sudah sangat berpengalaman yakni bapak Cahyadi Takariawan dan co-mentor ibu Ida yaitu istri pak Cahyadi. Alhamdulilah mereka sekeluarga tinggal di Yogyakarta juga.
Metode pembelajaran cukup simple. Yakni diminta membuat resume dari materi yang terdapat di video pembelajaran. Setelah itu diminta menuliskan 33 judul tulisan. Setelah itu diminta untuk memilih tiga judul yang paling menarik. Setelah itu menulis satu paragraph pembuka untuk masing-masing judul yang menarik agar pembaca tertarik untuk membaca tulisan hingga selesai. Setelah itu diminta memilih satu judul dari tiga judul yang telah dibuat paragraph pembuka untuk ditulis menjadi satu tulisan utuh.
Saat itu saya memilih judul “Mengenal Diri Sendiri” untuk saya buat artikel utuh lengkap dengan sumber tulisan yang dikutip. Setelah selesai ditulis, dikirim ke email admin untuk direview dan direvisi. Setelah tiga kali revisi dinyatakan lulus. Lalu admin mengirim sertifikat bahwa telah mengikuti pelatihan dan dinyatakan lulus. Hore.
Setelah lulus, mentor mengarahkan peserta untuk menulis status di sosmed secara konsisten sebanyak 1000 karakter dengan satu tema tertentu. Genap 100 hari maka peserta sudah bisa membuat buku. Namun sayang saya tidak bisa konsisten melakukannya, sehingga belum berhasil menulis sebuah buku pun. Saya hanya menulis artikel lepas di Blogger yang juga sering dikomentari oleh mentor.
*****
Sebelum mengenal KMO (Kelas Menulis On Line) saya sudah dimasukkan ke grup Media Guru Indonesia oleh seorang teman. Saya hanya melihat-lihat tulisan gurusianers yang aktif menulis. Lama-lama saya berani menulis status di MGI. Kemudian saya melihat ada pengumuman tentang pelatihan Sagu Sabu. Kemudian saya mendaftar. Namun ternyata untuk mendaftar harus punya akun di blog gurusiana.
Saya mencoba mengikuti prosedur dengan yang semestinya. Saya mulai menulis asal saja. Awalnya menulis tentang resep masakan. Saat saya mau memposting di blog gurusiana ternyata ada beberapa katagori. Saya asal pencet saja memilih katagori itu. Namun saya harus mengedit berkali-kali masuk katagori apa tulisan saya. Lalu saya berfikir bahwa harus ikut pelatihan di MGI agar paham.
Saya akhirnya ikut pelatihan Sagu Sabu (Satu Guru Satu Buku) yang diadakan oleh MGI berkolaborasi dengan Komnasdik Jawa Timur. Alhamdulillah sudah berhasil menulis satu buku Kumpulan Pentigraf dengan judul Selaksa.
Saya semakin rajin menulis dan mengikuti tantangan menulis gurusiana satu tahun menulis tanpa henti. Ini sudah menjadi komitmen saya untuk mewujudkannya. Saya juga ikut tantangan menulis satu buku karya emak-emak dengan tajuk “Emak Punya Karya” dengan mentor pak Cahyadi Takariawan. Saya akan menulis buku dengan judul “Marvelous Grandma” yang telah disetujui oleh mentor. Semoga bisa terwujud dengan baik. Ibaratnya saya sekolah menulis di dua universitas yakni di MGI dan KMO. Jika saya bisa anda juga bisa kok jadi Penulis. Ayo mulai saja sekarang jangan tunda-tunda.
Maguwoharjo, 11 Desember 2020
Sumber gambar: bimba.aiueo.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
