Ketemu Mantan Pengasuh (Tamugusi ke - 175)
Kekurangan harta benda tidak menghalangi seseorang untuk tetap bersyukur dan bahagia. Itulah kekayaan hati. Hal itu telah dicontohkan oleh mantan pengasuh saya. Ia telah mengasuh saya bersaudara saat masih kecil dengan segenap kasih sayangnya. Tak heran walau sudah puluhan tahun berpisah, dia tetap dekat di hati kami. Ia adalah bibi Suti.
Saat orangtua tinggal di kota Cilacap, ibu minta bibi Suti yang saat itu masih seorang gadis desa yang polos tinggal bersama kami. Dia berasal dari desa yang sama dengan mendiang ibu. Dengan senang hati beliau mau ikut dan membantu menyelesaikan pekerjaan rumahtangga orangtua serta mengasuh kami anak-anak yang masih kecil.
Setiap hari bibi Suti pergi ke pasar untuk belanja keperluan dapur. Kebetulan rumah kami tidak jauh dari pasar gede sehingg cukup berjalan kaki untuk pergi pulang pasar. Orangnya sangat jujur dan juga terampil menyelesaikan urusan dapur dan menjaga rumah kami bersih dan terawat. Anak-anak juga diurusnya dengan baik. Orangtua saya sangat terbantu dengan kehadirannya.
Bibi Suti perawakannya bagus kulitnya putih bersih. Hingga suatu hari ada seorang pria asli kota itu yang memperhatikan dirinya. Kebetulan dia juga bekerja di pasar itu sebagai kuli panggul. Lantaran hampir tiap hari ketemu di pasar, lama kelamaan mereka saling jatuh cinta. Akhirnya mereka menikah. Sejak saat itu, bibi meninggalkan rumah kami karena mengikutnya suaminya di sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah kami.
Kami tetap menjalin silaturahmi dengan baik walau, orangtua sudah pindah rumah ke desa ibu. Setiap kali ada kesempatan liburan sekolah, ayah yang masih dinas di Cilacap mengajak saya main ke kota itu. Saya nginap di rumah adik ayah lalu main ke rumah bibi Suti yang sudah melahirkan anak-anak hingga empat, dua cowok dua cewek. Saat suaminya meninggal dunia karena sakit kami pun takziah. Rumahnya kecil sangat sederhana namun penuh cinta dan kasih sayang.
*******
Lama saya tidak bertemu dengan bibi Suti lantaran saya pindah ke kota lain. Sempat berkabar saat ia akan menikahkan putri bungsunya. Sayang saya tidak bisa hadir di hari pernikahan itu namun saya sempat transfer uang sekedar tanda kasih.
Hari Sabtu lalu kebetulan saya menjenguk kakak ipar yang sedang sakit di Cilacap. Kami berangkat pagi sekitar jam 9 pagi dari Yogyakarta tiba di Cilacap jam 14.00. Lama sekali tidak kunjung kota Cilacap membuat saya pangling melihat perubahan wajah kota itu.
Kakak ipar perempuan sementara tinggal di rumah adiknya di jalan Tengger untuk menjalani terapi. Saya bersama keluarga menjenguknya di sana. terlihat bahagia sekali saat melihat kehadiran kami. Setelah puas ngobrol dan menghiburnya, kami pamitan. Sebenarnya maunya saya menginap karena sudah jauh-jauh datang kok cuma sebentar namun karena ada keperluan maka waktu harus dibagi. Saya juga bilang kalau mau ketemu bibi Suti yang sudah sangat lama tidak jumpa.
Saya dikasihtau adiknya kakak ipar bahwa alamat bibi Suti masih sama yaitu di jalan Kenari yang di jalan depan rumahnya ada Angkringan Kars. Kemudian anak saya segera menghidupkan google map, tak lama mobil kami sampai dan parkir di pekarangan orang dekat rumahnya.
Saya berjalan ke pintu depan yang sudah terbuka, Saya salam namun tak ada jawaban. Kemudian saya masuk dan mengucapkan, “Assalamu’alaikum wrahmatullah…”
Bibi Suti dari dapur keluar menjawab, “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuhu. Siapa ya seperti pernah lihat?”
Saya candain dia, “Ayo coba diingat, masih ingat tidak?”
“Nur apa yah?” tanyanya.
“Iyaaaa bener banget”
Kemudian saya dipeluk-peluk, dicium-ciumnya. Ia sungguh terkejut didatangi saya dan senang banget bisa melihat saya lagi, yang dulu diasuhnya kini sudah bercucu.
Ia pergi ke dapur lagi karena memang lagi menggoreng mendoan, tahu, pisang dan masih banyak lagi. Sebenarnya bibi Suti sedang menggoreng macam-macam untuk di jual di angkringan. Yang jualan adalah Karsono anak pertamanya. Semua anak cucu masih kumpul dalam satu rumah kecuali anak yang nomor tiga tinggal ditempat istri orang Wates Kulon Progo Yogyakarta. Rumahnya masih seperti dahulu hanya ada tambahan kamar-kamar dan juga warung kecil-kecilan.
Dia keluar lagi dari dapur membawa satu piring mendoan dan satu piring tahu isi. Ditawari mau minum apa, saya jawab air putih saja. Kemudian kami ngobrol heboh banget saling tanya ini itu sambil menikmati gorengan. Rindu yang terpendam akhirnya ketemu mantan pengasuh yang seperti ibu sendiri.
Karena waktu sudah sore, kemudian saya pamit. Saya selipkan amplop isi sedikit uang sambil jabat tangan. Dia terima sambil terharu dan mendoakan agar diberi ganti rizki yang lebih banyak. Saya bilang kalau tengok anak yang di Yogyakarta kabari saja nanti dijemput ke rumah.
Saya sungguh kagum sama bibi Suti. Ia merupakan sosok perempuan yang tangguh. Sebagai single parent, ia mampu membesarkan putra-putrinya dengan baik. Walaupun tidak sampai kuliah, namun semua anaknya tamat SLTA dan sekarang semua berkeluarga dan memberi cucu 9, 8 cowok satu cewek. Hal itu sudah sangat luar biasa. Raut wajahnya memancarkan aura keikhlasan. Jarang sakit bahkan saya melihatnya sangat sehat dan bahagia.
Maguwoharjo, 2 November 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
