Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Melahirkan di depan TV  (Tamugusi ke - 200)
Mom and baby. Dokpri

Melahirkan di depan TV (Tamugusi ke - 200)

Melahirkan di depan TV

Oleh: Siti Nurhayati

Perutku membuncit, berat badan naik 20 kg, padahal tinggi badanku hanya 155 cm, kakiku bengkak…intinya tidak good looking lah. Itu sih perasaanku saja kali yah. Sebab kata suamiku walau aku lagi hamil tua tetap kelihatan cantik. Barangkali suami berkata demikian supaya aku bahagia sehingga saat melahirkan nanti diberikan kemudahan. Masha Allah.

Dugaanku benar. Saat seseorang dalam keadaan happy, relax maka melakukan segala sesuatu menjadi mudah. Aku melahirkan bayi keduaku dengan sangat gampang, tanpa bidan tanpa dukun bayi. Semua terjadi begitu saja, dan bayi pun sehat walafiat. Allahu Akbar.

Saat itu hari Jum’at, tanggal 9-9-1994. Sejak pagi perutku mulai kontraksi, sebentar kencang sebentar normal. Makin siang kontraksinya makin sering. Aku mulai menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan lahiran anak kedua. Anak pertamaku laki-laki umur 4 tahun pun sudah aku bilangin bahwa adik yang diperut mama akan segera keluar menemani kakak.

Suamiku kebetulan ada jadwal khotbah di masjid depan tempat tinggalku. Saat itu aku masih mengontrak rumah yang lokasinya dekat masjid. Suamiku bertanya, “Bagimana ma… mau saya antar dulu ke klinik bersalin atau masih tahan kalau nunggu setelah Jum’atan?”

“Abah Jum’atan saja dulu. Insha Allah masih nanti sore lahirannya,” kataku sambil mengelus perutku yang sudah sangat besar.

“Ok kalau gitu saya Jum’atan dulu. Semoga tidak lahir saat aku lagi khotbah ya mah,” kata suamiku sambil mengelus perutku lalu keluar menuju masjid.

“Iya, Insha Allah masih sabar menunggu abah Jum’atan,” jawabku.

Aku sudah meletakkan tas isi pakaian ganti dan pakaian bayi lengkap. Tas itu aku letakkan dekat pintu keluar dengan maksud saat suami selesai Jumatan tinggal berangkat ke klinik. Anak pertamaku juga nungguin aku yang tiduran di kasur yang digelar di lantai depan TV. Kami biasa santai di situ.

Sambil nonton TV aku tiduran miring. Anakku keluar mainan mobil-mobilan di teras. Aku juga mendengarkan suara suami yang sedang khotbah. Tetiba perutku mules seperti mau BAB. Ternyata ketubanku sudah pecah sehingga membasahi kasur yang tidak saya alasin plastik. Aku minta tolong ibu yang rumahnya aku kontrak. Kebetulan rumahnya besar dan dibagi dua. Sebelah dipakai ibu kos sekeluarga, sebelah dipakai aku. Rumahnya gandeng sehingga aksesnya gampang.

“Buuu…minta tolong, kayaknya aku sudah mau lahiran nih.”

Ibu kosku yang bukan bidan bukan pula dukun bayi seketika juga bingung apa yang harus dilakukan. Secara reflek beliau ambil taplak meja plastic bening di meja makanku. Dengan sigap beliau minta aku miring ke kiri lalu memasang alas plastik tersebut. Kamudian minta aku miring ke kanan lalu menarik plastik agar posisinya pas di tengah. Kebetulan ibu mertuanya yang sudah sepuh itu suka mijat bayi, tapi bukan dukun bayi. Tetangga kiri kanan heboh. Ada yang panggil bidan, ada yang panggil dukun bayi, lucunya lagi tetangga seorang ibu muda yang kebetulan orang Bugis nekat ke depan masjid memberi kode pada suami yang sedang khotbah Jumat bahwa aku sedang lahiran. Sementara anakku yang pertama menangis kebingungan karena pintu dikunci dari dalam.

Ibu sepuh itu menutupi badanku dengan kain yang diambil dari tas yang akan bawa ke klinik, menekuk kedua lutut, lalu secara naluri beliau memanduku untuk mengejan sekuat tenaga. Allahu Akbar bayi itu lahir dengan gampangnya. Kemudian beliau sedikit menekan perutku lalu plasenta itu keluar dengan mudahnya juga. Beliau mengucap syukur alhamdulillah telah berhasil menolong persalinan atas pertolongan Allah.

Saat itu bu bidan dan dukun bayi belum datang. Belum juga ada yang berani memotong tali pusar bayiku. Aku melihat bayiku yang baru lahir ada disampingku memainkan lidahnya dan membuka mulut mungilnya seakan memberi isyarat butuh ASI. Hampir 30 menit dukun bayi itu tiba, kemudian merawat bayi. Bayi sudah dalam keadaan bersih dan cantik sudah pakai baju dan bedong kemudian ditidurkan di box bayi yang sudah aku persiapkan.

Suami mempercepat Jumatannya kemudian lari pulang. Bayi sudah bersih namun aku yang belum mendapat perawatan, dan pendarahan cukup banyak. Tak lama bu bidan datang. Kemudian aku disuntik untuk mengurangi darah yang terus keluar. Bu bidan pulang setelah memberi obat, karena kebetulan di kliniknya juga ada ibu yang hendak lahiran.

“Terimakasih sekali bu telah menolong istriku,” kata suamiku sambil mengantarnya hingga teras rumah.

“Sama-sama pak. Mohon maaf tidak tepat waktu karena di klinik juga ada ibu yang hendak melahirkan. Namun bersyukur bayi telah lahir dengan selamat,” sambil pamit pulang

Anak pertamaku berhenti menangis saat abahnya pulang Juma’atan lalu mengajak masuk dan melihat adiknya yang baru lahir. Adiknya perempuan dengan berat 3,8 ons panjang 50 cm. Suami mengambil bayi itu dari box diperlihatkan pada kakaknya kemudian dicium-cium. Aku kemudian dirawat oleh dukun bayi itu. Setiap hari dukun itu ke rumah untuk merawat aku dan bayiku hingga puputan (lepas tali pusar).

Sekarang bayiku sudah besar. Namanya ‘Athiyah Rauzanah Malik, sedang menempuh S2 Kebijakan Publik di Fisipol UGM. Alhamdulillah. Bahagia dan bangga menjadi seorang ibu sejati.

Maguwoharjo, 28 Desember 2020

Sumber gambar: dokumen pribadi

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post