Orang Tercerdas dan Termulia (Tamugusi ke 187 )
Oleh: Siti Nurhayati
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Berita tentang kematian datang setiap saat. Setiap kali saya membuka sosmed maupun televisi selalu saja ada berita tentang kematian. Di FB jika ada yang posting tentang kematian sangat menarik perhatian. Terlebih jika ada ilustrasi foto orang yang meninggal disertai profile orang tersebut maka yang mengucapkan bela sungkawa dan mendoakan sangatlah banyak baik yang kenal dengan almarhum maupun yang tidak.
Mengenai kematian banyak orang yang menyadari bahwa hidup ini sejatinya perjalanan menuju kematian lalu mempersiapkan diri. Namun lebih banyak orang yang takut memikirkannya malah menjadi tidak mempersiapkan diri menghadapinya.
Ibnu Umar RA berkata, "Aku datang menemui Nabi Muhammad SAW bersama 10 orang, lalu salah seorang Anshar bertanya, siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi menjawab, orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan." (HR Ibnu Majah).
Dari perkataan Rasulullah tersebut ternyata kita bisa mengetahui bahwa orang yang tercerdas dan termulai bukanlah mereka yang bergelar Professor Doktor dan berpangkat tinggi lagi kaya raya, melainkan justeru mereka yang paling banyak mengingat kematian lantas menyiapkan diri untuk menghadapi kematian tersebut, sehingga saat meninggal dunia membawa kemuliaan dan kehormatan. Oleh karena itu hendaknya kita perbanyak mengingat mati dan beramal sebaiknya-baiknya sehingga siap mati membawa kemuliaan dan kehormatan.
Tentang kematian Allah SWT juga telah menyampaikan dalam beberapa firmanNya.
“Setiap jiwa pasti akan merasakan yang namanya kematian.” (Q.S Ali Imran: 185)
“Di mana saja kamu berada, kematian pasti akan menghampirimu, meskipun kamu berlindung di dalam sebuah benteng yang sangat tinggi dan kokoh.” (Q.S An-Nisa’: 78)
“Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah, dan kepada-Nya lah kita semua pasti akan kembali.”(Q.S Al-Baqarah: 156).
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”(Q.S Al-A’raf: 162)
“Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(Q.S Luqman: 34)
Demikian juga Rasulullah SAW juga mengingatkan kita agar siap menghadapi kematian.
"Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian)".
Dalam hadits lain nabi bersabda,
"Manfaatkan Lima perkara sebelum lima perkara: [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.
Ada empat istilah terkait mati dalam Al Qur’an, sebagaimana dilansir pada kolom Khazanah Republika.com Selasa, 03 Desember 2019, yaitu :
Pertama, kata al-maut (kematian). Kata ini dalam bentuk kata benda diulang sebanyak 35 kali.
Al-maut menunjuk pada terlepasnya (berpisah) ruh dari jasad manusia. Kepergian ruh membuat badan tak berdaya dan kemudian hancur-lebur menjadi tanah.
Allah SWT berfirman, Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu, dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain.” (QS Thaha [20]: 55).
Kedua, kata al-wafah (wafat). Kata ini dalam bentuk fi`il diulang sebanyak 19 kali. Al-Wafah memiliki beberapa makna, antara lain sempurna atau membayar secara tunai. Jadi, orang mati dinamakan wafat karena ia sesungguhnya sudah sempurna dalam menjalani hidup di dunia ini.
Ketiga, kata al-ajal. Kata ini dalam Alquran diulang sebanyak 21 kali. Ajal berbeda dengan umur. Umur adalah usia yang kita lalui, sedangkan ajal adalah batas akhir dari usia (perjalanan hidup manusia) di dunia. Usia bertambah setiap hari; ajal tidak. (QS al-A’raf [7]: 34).
Keempat, kata al-ruju’ (raji’). Kata ini dalam bentuk subjek diulang sebanyak empat kali, dan mengandung makna kembali atau pulang. Kematian berarti perjalanan pulang atau kembali kepada asal, yaitu Allah SWT. Karena itu, kalau ada berita kematian, kita baiknya membaca istirja’, Inna Lillah wa Inna Ilaihi Raji’un (QS al-Baqarah [2]: 156).
Lazimnya orang punya hajat akan mengundang banyak orang dan sohibul hajat akan sudah membentuk kepanitiaan dengan segala persiapannya. Berbeda dengan berita lelayu, maka yang mengundang adalah “orang yang mati itu sendiri”. Jenazah membuat keluarganya mengadakan penyambutan para pentakziah serba mendadak. Ada yang memandikan dan mengkafaninya, ada yang memasang tenda kursi dan sebagainya dengan cepat. Sang jenazah diam saja yang sibuk keluarganya. Dalam diam sang jenazah siap mempertanggungjawabkan segala amalnya saat hidup dan menjawab pertanyaan malaikat Mungkar Nakir saat telah dimasukkan liang lahat.
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Nama baik atau buruk yang tertinggal tergantung persiapannya. Jika orang itu cerdas lagi mulia maka saat masih ada hayat dikandung badan akan telah mempersiapkan diri dengan tobat, jauhi maksiat dan selalu beramal sholeh.
Wallahu’alam bishawab
Sumber rujukan:
**(censored)**, diunduh 15/12/2020 pukul 05.15
**(censored)**, diunduh 15/12/2020 pukul 05.15
Maguwoharjo, 15 Desember 2020
Sumber gambar: cahayaislam.id
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
