Pilkada kabupaten Sleman 2020 (Tamugusi ke 182)
Rabu 9 Desember 2020 adalah Pemilihan Kepala Daerah serentak di seluruh Indonesia, demikian juga di kabupaten Sleman tempat saya berada. Sebagai warga negara yang baik, saya dan keluarga turut serta dalam menentukan pemimpin daerah kami. Siapa pun yang menang harus didukung dan dikawal agar tetap berada di jalur yang benar dalam kepemimpinannya dan menyejahterkan rakyatnya.
Pilkada Sleman terdiri dari tiga pasangan calon bupati dan wakil bupati, sehingga warga yang tertera dalam Daftar Pemilih Tetap atau DPT harus memilih salah satu dari ketiga pasangan tersebut. Pasangan 01 adalah Danang Wicaksana Sulistya, ST dan Raden Agus Choliq, S.E., MM. Pasangan 02 adalah Dra. Hj. Muslimatun, M.Kes dan Amin Purnama, S.H. Pasangan 03 adalah Dra. Hj. Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa, S.E. Pasangan 01 diusung oleh PKB dan Gerindra, 02 oleh Nasdem dan PKS, 03 oleh PAN dan PDI. Adapaun partai-partai kecil mendukung di antara ketiganya.
Sebelum hari H pencoblosan ramai kampanye pasangan calon menggunakan poster yang dipasang menggunakan roundtag dipinggir-pinggir jalan, ada juga yang mengundang beberapa orang namun dibatasi karena harus jaga jarak, ada yang menggunakan event mancing, gowes, senam dan tak kalah ramai di sosial media. Masing-masing paslon menggunakan jurus-jurus jitu untuk memenangkan pilkada.
Saya sendiri merupakan relawan untuk salah satu pasangan yang aktif kampanye lewat sosmed yaitu WA. Namun saya menghindari masuk grup-grup konvensioanl sebab riskan terjadinya konflik antar teman. Saya hanya menyebar visi misi serta program pasangan yang saya unggulkan. Responnya macam-macam. Ada yang bilang maaf sudah punya pilihan, ada yang menjawab hore pilihan kita sama, ada yang cuma diam saja. Pokoknya saya berupaya dengan cara yang legal dan santun, berusaha menghindari konflik atau debat kusir.
Tiba hari H pencoblosan, saya membagi undangan ke TPS yang telah diantar oleh petugas PPS kepada anggota keluarga. Ada dua TPS di dusun saya yaitu TPS 01 dan 02, kami di TPS 02. Desa saya ada 20 dusun, dan penomoran TPS dimulai dari dusun saya. Saya dan keluarga mendapatkan 6 undangan karena yang sudah memenuhi hak pilih ada 6 yaitu, saya, suami, putraku dan istri, dan dua putri saya. Namun putri saya yang besar tidak bisa memberikan suaranya karena sedang menjadi panitia penyelenggara konferensi internasional tentang jurnal Ilmiah Sosilogi di UIN Yogyakarta.
Sebagai relawan yang bertanggung jawab di dusun, saya harus melaporkan hasil pemungutan suara di TPS 01 dan 02. Saya mencoblos pada pukul 10 bersama suami, putra dan menantu saya, sedangkan putri kecil saya mencoblos pada pukul 11 setelah itu dia langsung ke joglo kabupaten untuk mengimput data suara yang masuk. Dia menjadi relawan IT untuk pasangan 03. Setelah menggunakan hak suara, saya tidak langsung pulang namun mengamati berlangsungnya pemungutan suara kira-kira 30 menit. Setelah itu saya pulang dan kembali lagi pas penghitungan suara.

Pukul 13.00 dimulai penghitungan suara. Partisipasi masyarakat sekitar 80%, jadi ada 20% yang tidak menggunakan hak suaranya karena ada kepentingan yang lebih utama seperti putri saya yang jadi panitia konferensi internasional. Pertama saya menyaksikan penghitungan di TPS 01 setelah itu saya langsung ke TPS 02. Kebetulan tempatnya tidak berjauhan. Hasilnya sebagai berikut. TPS 01 untuk pasangan 01 dapat 114 suara, 02 dapat 31 suara, 03 dapat 90 suara, gugur 24 suara. TPS 02 untuk pasangan 01 dapat 83 suara, 02 dapat 41 suara, 03 dapat 84 suara, gugur 24 suara.
Untuk melaporkan hasilnya, saya foto hasil penghitungan suara di kertas plano yang dipasang di papan lalu saya kirim lewat WA ke seseorang yang sudah ditunjuk untuk menghimpun laporan, setelah itu saya pindahkan ke formulir yang untuk relawan, kemudian diantar fisiknya ke posko pemenangan.
Sangat menarik ikut terlibat kegiatan politik pemilihan kepala daerah. Lumayan capek untuk beberapa kali ikut rapat kordinasi. Tapi asyik juga karena jadi mengenal banyak orang. Politik itu bukan kotor namun biasanya memancing orang yang ambisius untuk menang dengan berbagai cara, tak peduli cara itu kotor sekalipun. Dalam sistim demokrasi kan memang mencari suara sebanyak-banyaknya. Hitungannya adalah kepala sehingga tak peduli isi kepalanya pinter atau bodoh nilainya sama yaitu satu suara.
Untuk Pilkada Sleman yang terdiri dari 17 kecamatan yaitu Sleman, Tempel, Turi, Pakem, Ngaglik, Cangkringan, Ngemplak, Kalasan, Prambanan, Berbah, Depok, Mlati, Gamping, Seyegan, Godean, Moyudan dan Minggir itu, pasangan 01 memenangkan di kecamatan Ngemplak, pasangan 02 memenangkan di kecamatan Mlati sedangkan 15 kecamatan dimenangkan oleh pasangan 03.
Bersyukur bahwa pesta demokrasi pilkada Sleman berjalan baik. Untuk mengekspresikan kegembiraan kemenangan para timses pemuda dan bapak menggunduli rambutnya. Terlihat lucu karena kepalanya plonthos. Semoga yang belum menang tetap berbesar hati menerima kekalahan dengan legawa dan yang menang berucap berucap syukur alhamdulillah sekaligus innalillahi wainnailaihi roji’un dan mohon bimbingan Allah subhana wata’ala karena mendapatkan amanah yang tidak ringan memimpin rakyat satu kabupaten.
Maguwoharjo, 10 Desember 2020
Gambar dokpri.

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
