Tamu Suami ( Tamugusi ke 201 )
Tamu Suami
Bagian 1.
Oleh: Siti Nurhayati
Petang itu tetiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumah bu Anes di komplek perumahan Asri. Bu Anes minta suaminya untuk membukakan pintu karena beliau sedang tanggung masak di dapur. Pak Andi, suaminya yang lagi asyik membaca koran bangkit berdiri membukakan pintu. Dia tahu sendiri dengan ulah isterinya kalau sudah bergelut dengan masakan di dapur, apalagi sedang tanggung, telinganya seperti tersumbat dari suara apapun.
Rupanya tamu itu adalah teman lama pak Andi, namanya pak Rudi. Teman akrab saat kuliah dulu. Ia datang bersama istri yang sedang mengandung. Meraka datang mengendarai mobil yang diparkirkan di pinggir jalan depan rumah pak Andi.
“Masah Allah kak Rudi… Angin apa nih yang membawa pak Rudi ke tempat saya… Silahkan masuk pak bu,” ucap pak Andi setelah menjawab salam tamu sambil bilang ke istri kalau ada pak Rudi bersama istri.
“Silahkan duduk pak Rudi dan ibu. Beginilah tempat kami. Perumahan tidak terlalu besar memang tapi lumayan.” ucap pak Andi sambil kedua tangannya menunjuk ke tempat duduk untuk mereka.
“Terimakasih pak Andi. Bersyukur sudah punya rumah,” jawab pak Rudi sambil duduk di ruang tamu.
“Kok cuma berdua anak-anak tidak ikut?” tanya pak Andi sambil menarik kursi untuk duduk dengan tamu.
“Ini istri saya sedang mengandung anak pertama kami,” jawab pak Rudi sambil mengelus perut istri yang duduk di sebelah kirinya.
“Sudah berapa lama menikah?”
“Sudah lima tahun. Namun Tuhan baru kasih istriku hamil.”
“Alhamdulillah…atas doa dan kesabaran menunggu akhirnya Tuhan kasih juga.”
Istri pak Rudi tidak terlalu banyak bicara. Hanya tersenyum dan mengangguk saja jika ditanya. Suaminya yang lebih banyak bicara.
“Anak-anak pada di mana kok sepi nih pak Andi?”
“Anak kami dua, yang besar Erry empat tahun, yang kecil tiga tahun cewek namanya Rita. Mereka berdua main di kamar.”
“Alhamdulillah pak Andi sudah dikarunia dua momongan lengkap cowok cewek.”
Tak lama bu Anes keluar dari dapur membawa minum teh panas dan mendoan tempe yang baru saja dibuatnya.
“Maaf ini tadi pas nanggung lagi goreng tempe mendoan,” ucap bu Anes sambil meletakkan minum dan tempe mendoan di atas meja tamu.
“Kenalkan saya istri pak Andi,” ucap bu Anes sambil jabat tangan pak Rudi dan istri.
Bu Anes duduk di samping suami menemani tamu ngobrol.
“Sudah berapa bulan nih kandungan ibu?” tanya bu Anes pada bu Rudi.
“Tujuh bulan mau masuk delapan.” Jawab bu Rudi sambil tersenyum ramah.
Mereka ngobrol ini itu banyak sekali. Pak Andi dan pak Rudi memang sedang reuni. Mereka banyak cerita saat masa kuliah bersama. Istri mereka hanya ikut suasana saja. Kadang tertawa saat ada omongan yang lucu.
Tetiba istri pak Rudi minta ijin untuk ikut ke toilet. Biasa kalau wanita sedang hamil tua bawaannya pingin buang air kecil. Bu Anes dengan senang hati mengantarnya ke toilet yang terletak di antara kamarnya dan dapur. Bu Anes membukakan pintu sambil mempersilahkan bu Rudi masuk.
“Silahkan bu.”
“Terimakasih bu. Bu Andi baik sekali.” Jawabnya sambil masuk dan menutup pintu.
Bu Anes kembali ke dapur membereskan perkakas masak. Beliau habis masak untuk makan malam. Sekalian juga menata meja makan untuk mengajak tamu makan juga.
Bu Anes sudah selesai beberes kok tamunya masih di dalam toilet belum keluar juga. Bu Anes kemudian bertanya sambil mengetuk pintu, “Bu…kok lama sekali. Apakah ibu baik-baik saja?”
“Ini bu..saya mules sekali,” jawab bu Rudi sambil mengaduh.
Bu Anes curiga jangan-jangan tamunya akan melahirkan. “Buka pintunya bu saya khawatir ibu akan melahirkan.”
“Aduh sakit…saya tidak bisa berdiri.”
Bu Anes lari ke depan untuk memberi tahu para suami kalau bu Rudi akan melahirkan dalam toilet.
Mereka langsung bangkit dan heboh di depan toilet. “Bu…buka pintunya,” pinta suaminya.
“Aduuuh sakiiiit… ,” terdengar suara bu Rudi mengaduh.
Pak Andi putuskan untuk mendobrak pintu dan berhasil. Bu Rudi sudah posisi terduduk sambil mengejan.
Langsung pak Rudi membopong istri dan bu Anes minta untuk membawa ke kamarnya dan membaringkan di tempat tidur.
Tidak pakai lama terdengar suara bayi, “eaaaa…eaaaaa…”
Bu Anes langsung memanggil seorang bidan langganannya dulu untuk menolong tamu yang melahirkan di rumah. Tak lama sekitar 15 menit, bidan itu datang lengkap dengan peralatan.
“Silahkan masuk bu.” pinta bu Anes dan mengantar bu bidan ke kamarnya.
Tempat tidur bu Anes menjadi basah oleh darah dan air ketuban tamu itu. Ini gawat darurat sehingga yang penting menyelamatkan ibu dan bayinya.
Bu bidan dengan sigap memotong tali pusar bayi kemudian membersihkan dengan air hangat yang disediakan bu Anes. Kebetulan baju bayi putrinya masih tersimpan rapi sehingga bisa dimanfaatkan untuk bayi tamu. Setelah selesai mengurus bayi kemudian mengurus ibu bayi agar tidak pendarahan.
Bersambung.
Maguwoharjo, 29 Desember 2020
Sumber gambar: gambarkartunmu.blogspot.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
