Tamu Suami (Tamugusi ke - 203)
Tamu Suami
Bagian 3.
Oleh: Siti Nurhayati
Bu bidan mengelap payudara bu Rudi dengan air hangat dan putingnya untuk memancing ASI keluar dengan baik. Beliau mencoba mendudukkannya dan menyandarkan ke sandaran bed yang agak tinggi dan empuk. “Ayo dipompa bu agar ASI keluar. Kasihan bayi ibu lahir premature harus banyak asupan nutrisi agar berat badannya cepat naik,” kata bu bidan sambil menyerahkan pompa ASI yang telah dibawanya.
Bu Anes membawakan air putih hangat untuk bu Rudi. “Ayo bu diminum dulu. Ibu pasti kelelahan telah melahirkan bayi mungil itu. Ibu juga tadi belum sempat makan apa-apa, baru meneguk teh hangat saja.”
“Baik bu. Terimakasih sekali telah sangat merepotkan. Saya tidak enak dan malu bu. Tapi saya juga tidak menduga kalau bayi itu akan lahir secepat itu, belum saat lahir malah keburu lahir,” kata bu Rudi sambil menerima gelas yang disodorkan bu Anes.
Dalam sekejap air satu gelas telah habis. Rupanya ibu Rudi sangat kehausan. “Alhamdulillah…, “ ucap bu Rudi sambil menyerahkan kembali gelas itu pada bu Anes.
Bu Bidan sudah sangat berpengalaman dan terkenal. Banyak bumil yang memeriksakan di kliniknya termasuk bu Anes saat hamil kedua anaknya. Ada banyak kamar untuk rawat inap dan juga faskes yang lumayan lengkap untuk perawatan ibu dan anak. Bu bidan menyarankan agar bu Rudi dan bayinya pindah rawat sementara di kliniknya, mengingat bayinya lahir premature butuh perawatan khusus yakni harus dihangatkan di incubator. Rumah bu Anes bukan rumah bersalin sehingga tidak tersedia fasilitas kesehatan ibu dan anak.
Bu bidan mengambil bayi yang ditidurkan di kamar anak bu Anes untuk diajarkan menghisap putting bundanya. “Permisi ya … saatnya bayi minum ASI. Kasihan dia pasti lapar,” kata bu bidan sambil mengambil bayi itu untuk digabung dengan bundanya.
“Penting dilakukan untuk menggabungkan bayi premature dengan bundanya agar ada kontak kulit untuk menghangatkan tubuh bayi.” kata bu bidan pada ayah bayi yang langsung diiyakannya.
Pak Rudi dan pak Andi keluar mengikuti bu bidan, namun mereka duduk lagi di ruang tamu.
Bu bidan mengajari ibu bayi untuk memberi ASI. Tidak mudah memang karena bayinya kecil hanya 1,2 ons. “Ayo bu dilatih bayi ibu untuk menghisap ASI, biasanya tidak mudah tapi ibu harus bertekad bayi tidak kelaparan. Jangan mudah menyerah. Latih terus agar bayi pandai menghisap puting ibu untuk mendapatkan ASI yang cukup.”
Bu Rudi menerima bayi dengan kedua tangannya lalau memposisikannya dengan baik di gendongannya kemudian mendekatkan mulut bayi ke putingnya. “Bismillahirrahmaanirrahiim…ayo anak pintar..mimik yah.”
Bayi itu mencoba untuk menemukan puting bundanya namun belum pintar sehingga menangis. Tapi bundanya dibimbing bu bidan tidak menyerah begitu saja…sedikit demi sedikit berhasil menghisap ASI.
Bu bidan memanggil ayah bayi ke kamar untuk menyaksikan bayinya sedang menyusu. Pak Rudi mencium kening istrinya dan menyentuh bayinya sejenak lalu berdiri di dekat bu bidan.
“Begini pak Rudi…ibu sarankan agar ibu dan bayinya dipindahkan sementara di kliniknya. Ini untuk kebaikan semua. Bayi premature butuh perawatan khusus. Perlu tidur di incubator beberapa hari agar terpantau kesehatannya. Bayi premature rentan terjadi masalah kesehatan,” kata bu bidan yang didengarkan dengan baik oleh pak Rudi dan juga istrinya.
“Terimakasih sekali ibu atas pertolongan dan juga saran bu bidan. Saya tidak tahu apa yang terjadi jika bu Anes tidak sigap menghubungi ibu,” ucap pak Rudi dengan sangat santun.
“Iya pak ...semua adalah rahasia yang di atas. Walaupun tidak ada rencana ibu akan lahiran di rumah bu Anes, dan juga tidak mengira akan lahir sebelum waktunya, namun Tuhan yang punya rencana, manusia hanya bisa pasrah atas takdirNya,” ucap bu bidan.
“Apakah memungkin jika istri dan anak saya bawa pulang saja dan langsung dibawa ke klinik yang tidak jauh dari tempat tinggal kami? Rumah kami sekitar 30 menit dari sini.” tanya pak Rudi.
“Tidak masalah asal hati-hati dan langsung ditangani di klinik tersebut karena bayi itu masih sangat lemah dan butuh segera masuk incubator. Segera saja bapak hubungi klinik tersebut bahwa akan segera ke sana,” bu bidan menyarankan.
Pak Rudi segera menilpun klinik dimaksud dan langsung dijawab ok. “Alhamdulillah sudah ok bu.”
*****
Pak Rudi telah membereskan administrasi untuk bu bidan. Dibantu oleh bu Anes dan bu bidan memapah bu Rudi masuk ke dalam mobilnya. Pak Rudi sudah membukakan pintu mobil dengan maksimal. Setelah bu Rudi berada di dalam mobil kemudian bu Anes menyerahkan bayi ke dekapan ibunya. Tidak lupa juga plasentanya dibawakan agar nanti langsung ditanam di rumahnya. Bu Bidan memasukkan tas bayi lengkap dengan perlengkapan bayi serta pompa ASI di dalamnya yang sudah termasuk dalam pembayaran jasanya.
Pak Rudi kepada bu Anes dan pak Andi sahabatnya mengucapkan terimakasih tak terhingga sambil mentitikkan air mata haru dan menyerahkan sejumlah uang. “Pak Andi dan ibu…saya menghaturkan berjuta terimakasih telah merepotkan yang sedemikian rupa. Saya titip ini untuk anak-anak beli jajan dan mengganti kasur yang kotor.”
“Tidak usah pak Andi. Sudah menjadi kewajiban untuk saling menolong.” Ucap pak Andi mewakili berdua.
“Pak Andi…untuk melegakan hati saya mohon dengan sangat untuk tidak menolak tali asih ini.”
“Baiklah pak Rudi. Segera saja untuk ke klinik ya pak. Besok kami tengok ke sana.”
Kemudian pelan-pelan pak Rudi menjalankan kendaraannya menuju klinik yang dimaksud. Sekitar 30 menit mereka sudah sampai yang langsung disambut oleh pihak klinik dan ditangani dengan baik. Bapak dan ibunya juga sudah menunggu di klinik menyambut cucunya.
Pak Rudi sangat lega dan bahagia. Lama tidak ketemu sahabatnya, sekalinya ketemu malah merepotkan. Anak yang ditunggu sekain tahun lahiran di tempat sahabatnya. Semoga segala kebaikan pak Andi dan bu Anes terbalaskan dengan pahala yang melimpah. Aamiin.
Bu bidan juga langsung pamitan. Pak Andi dan bu Anes segera membersihkan semuanya. Kasurnya langsung dikeluarkan dan ditaruh di luar rumah entah akan diapakan besok.
“Tidak menyangka ya bu, sahabatku datang dan istrinya melahirkan di rumah kita,” ucap pak Andi sambil masuk rumah setelah berdua mengeluarkan kasur mereka.
“Iya ya pak…kita dipilih Allah untuk menolongnya,” jawab bu Anes.
Setelah beberes, mereka makan malam yang sudah terlalu malam. Setidaknya mereka berdua telah menjadi tuan rumah yang baik, lebih dari baik malah. Memuliakan tamu adalah sangat dicontohkan Rosulullah.
Tamat.
Maguwoharjo, 31 Desember 2020
Sumber gambar: gambarkartunmu.blogspot.com, kompasiana.com

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
