Tofik yang Sebatang Kara (Tamugusi ke 199)
Tofik yang Sebatang Kara
Oleh: Siti Nurhayati
Nenek Sarijem berusia enam puluh lima tahun, sudah sangat akrab dengan kemiskinan. Nenek yang sudah menjanda puluhan tahun yang lalu itu, hanya tinggal berdua dengan cucu laki-laki. Suami yang dicintai dengan segenap jiwanya, meninggal dunia karena sakit asma. Anak dan menantunya juga telah tiada karena kecelakaan lalu lintas. Betapa hidupnya seperti tak putus dirundung malang.
Kehidupan mereka berdua sungguh memprihatinkan. Rumahnya hanya berlantai tanah, dinding dari gedheg bambu yang sudah bolong di sana sini. Belum lagi atap rumahnya dari seng yang sudah karatan dan bocor, hingga saat hujan turun airnya ikut berteduh. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia membuat peyek kacang lalu dititipkan di beberapa warung. Meski serba kekurangan, tidak pernah terpikirkan untuk menjadi seorang pengemis.
Nenek Sarijem bukan saja nenek namun sekaligus orangtua satu-satunya bagi Tofik. Ia dengan sabar dan telaten mendidiknya agar tumbuh menjadi anak sholeh dan memiliki masa depan yang lebih baik. SMP di kota kecamatan dipilih untuk pendidikan formal cucunya. Ada peninggalan sepeda tua untuk ke sekolah. Namun sekarang karena pandemi, dia sekolah dari rumah. Untuk kelancaran PJJ, nenek berusaha membeli HP second yang termurah.
Sore itu rumah nenek Sarijem kedatangan seorang bapak perangkat desa. Beliau ditugaskan kelurahan untuk menyampaikan undangan mengambil jatah bantuan sosial. Uang tunai sebesar Rp. 600.000 merupakan anugerah yang tak disangka-sangka. Sambil memegang undangan tersebut, ia terus mengucapkan terimakasih. Bapak itu ikut bahagia melihatnya kegirangan.
“Iya nek sama-sama. Hak nenek menerima bansos. Jangan lupa ya, besok undangannya dibawa saat ambil bantuan di balai desa mulai jam sembilan pagi.”
“Baik pak. Besok pagi saya akan ke balai desa dengan membawa undangan ini. Uang itu akan digunakan untuk keperluan sekolah Tofik.”
“Baiklah nek, saya pamit dulu ya. Ini masih harus membagikan undangan ke beberapa rumah warga lain yang juga menerima bantuan sosial seperti nenek.”
“Silahkan pak. Terimakasih sekali lagi.” Jawab nenek itu sambil mengantarnya sampai di depan pintu.
Setelah masuk lagi ke dalam rumah, nenek Sarijem tersenyum sambil mencium kertas undangan dan mengucapkan “Alhamdulillah”.
Tofik yang baru selesai sholat asar menghampiri neneknya dan menanyakan siapa tadi tamunya.
“Itu bapak perangkat desa menyampaikan undangan untuk ambil uang bansos. Lumayan Fik uang ini bisa digunakan untuk membayar uang ujianmu. Kamu sudah kelas sembilan, sebentar lagi sekolahmu selesai. Kamu harus menyiapkan masa depanmu lebih baik.” ucap nenek sambil mengusap kepala cucunya itu.
“Alhamdulillah nek. Doa-doa kita dikabulkan Allah swt,” ucap Tofik sambil tersenyum.
“Besok antar nenek ke balai desa ya?”
“Iya nek besok Tofik antar,” jawabnya dengan lembut.
*****

Sebelum azan subuh nenek sudah bangun. Seperti biasa ia telah menyiapkan adonan peyek yang akan digoreng selepas sholat. Namun pagi tetiba badannya rasa tidak enak, suhu badan panas dan kepala pusing.
“Tofik bangun, ayo sholat subuh dulu.” Nenek membangunkan cucunya sambil memijit kepalanya
Tofik segera membuka matanya dan memegang tangan nenek yang duduk di tempat tidurnya yang hanya dipan reyot tanpa kasur.
“Kok badan nenek panas. Nenek sakit yah?” tanya Tofik sambil bangkit dari tempat tidurnya.
“Iya Fik. Ini kepala nenek pusing sekali.”
Tofik memapah neneknya balik ke tempat tidurnya. “Nenek sholat subuh sambil tiduran saja, setelah itu tidur lagi saja dulu. Tidak usah buat peyek. Biar Tofik yang menggoreng peyek seperti diajarkan nenek.”
Selepas menunaikan sholat subuh, Tofik membawakan neneknya air putih hangat untuk minum obat masuk angin, kemudian membalurnya dengan minyak kayu putih. Setelah itu neneknya diminta tidur lagi.
Tofik pergi ke dapur kemudian menyalakan api di tungku menggunkan kayu bakar, menaruh wajan dan menuangkan minyak goreng. Dia menggoreng peyek hingga selesai lalu mengemas dalam plastik yang tersedia. Satu plastik isi sepuluh. Harga jualnya Rp. 8000 ke warung, warung menjual ke konsumen Rp. 10.000. Ada dua belas kemasan. Jika laku semua maka akan mendapatkan uang sebesar Rp. 96.000.
Jam 07.00 dia mengayuh sepedanya untuk mengantar peyek ke tiga warung. Masing-masing warung dititip empat plastik. Sore hari ia akan balik lagi ke warung-warung itu untuk mengambil uang peyek yang laku. Uang itu kemudian digunakan membeli bahan peyek lagi, juga untuk membeli kebutuhan makan berdua. Setelah selesai menitip peyek, dia pulang dan mandi, siap mengantarkan nenek ke balai desa.
Neneknya bangun, rasanya sudah lebih baik, namun belum berani mandi, hanya memantaskan diri ala kadarnya. Jam 08.00 sudah siap ke balai desa bersama Tofik. Dari rumah ke balai desa sekitar satu kilo meter. Mereka jalan kaki pelan-pelan, karena neneknya belum sehat 100%. Tak lupa Tofik membawa sebotol air mineral. Setelah berjalan sekitar 30 menit akhirnya mereka berdua sampai di pintu gerbang balai desa.
Entah kelelahan atau bagaimana, tiba di pintu gerbang nenek Sarijem berpegangan pintu besi itu dan tetiba jatuh pingsan. Tofik memanggil sambil berusaha memegang neneknya agar tidak terjatuh ke tanah, “Neneeeek…”
Suara Tofik menarik perhatian semua orang yang ada di balai desa. Dua orang petugas lari mendekati nenek Sarijem yang pingsan. Mereka mengangkat tubuhnya ke tempat yang aman di balai desa. Salah seorang petugas memanggil ambulan puskesmas. Tak lama ambulan datang, kemudian nenek dimasukkan ke dalam ambulan ditunggui cucunya. Sesampai di puskesmas ternyata nenek sudah meninggal dunia. Tofik menangis sejadi-jadinya…pilu.
Tofik hidup sebatang kara. Beruntung nenek telah mendidiknya dengan baik sehingga tidak larut dalam kepiluan yang terus menerus. Dia rutin menziarahi makam orang-orang yang disayanginya di pemakaman desa.
Tofik ridha atas semua kejadian yang menimpanya serta meyakini ada hikmah di balik setiap musibah. Pelangi indah akan muncul setelah hujan deras melanda. Di setiap kesulitan ada kemudahan. Allah bersama orang-orang yang sabar.
Maguwoharjo, 27 Desember 2020
Sumber gambar: umma.id, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
