Wali Kelas (Tamugusi ke - 186 )
Wali Kelas
Oleh: Siti Nurhayati
Kelas XI Akuntansi SMKS sangatlah istimewa. Bukan karena kondisi siswanya yang rajin penuh disiplin, melain sebaliknya. Hampir tidak ada yang tak bermasalah. Umumnya berasal dari keluarga yang sangat kekurangan. Karena dari rumahnya sudah penuh dengan masalah sehingga hadir ke sekolah pun juga membawa masalah.
Hampir semua guru menghindar untuk menjadi wali kelas mereka. Entah apa pertimbangan sekolah hingga mereka menyerahkan kepada saya untuk menjadi wali kelas mereka. Saya bismillah saja menerima amanah ini. Semaksimal mungkin saya berusaha mendidik, membimbing dan mengasuh mereka disamping juga mengajari mereka, namun tentu saja hal itu tidak mudah menjalaninya. Saya berdoa beriring waktu mereka mengalami perubahan menjadi anak-anak yang lebih baik dan menyenangkan.
Hal pertama yang saya lakukan sebagai wali kelas mereka adalah mencoba membangun chemistry atau ikatan batin. Memang sulit sekali karena di kelas X saya tidak mengajar mereka sehingga di kelas XI ini satu sama lain belum mengenal, baik nama maupun wajah apa lagi karakternya. Ditambah lagi sekolah di masa pandemi ini tidak ada tatap muka sehingga semakin sulit, namun saya tetap berusaha merengkuh hati menyingkap tirai penghalang.
Saya membuat kelas virtual dengan Whastapp grup. Saya simpan nama mereka satu per satu di gadget. Saya minta agar mereka memberi nama lengkap dan foto profile yang jelas dan sopan. Bahkan saya juga minta mereka mengirim foto diri via wapri. Apakah mereka langsung merespon? Tidak. Dari 20 siswa yang mengirim hanya 3 itu pun lama. Dan saya tunggu hingga hampir satu semester mereka tidak mengirim foto diri.
Saya minta nomor kontak orangtua mereka untuk dibuat grup wali siswa. Ada yang nomornya sama dengan nomor yang digunakan siswa. Ini artinya HP satu dipakai ramai-ramai. Tidak saya permasalahkan karena masih mending ada HP daripada tidak sama sekali. Jangankan punya laptop, HP saja harus dipakai bersama-sama secara giliran. Konsekwensinya mereka lambat respon dalam PJJ.
Saya pun sempat minta ijin ke pihak sekolah untuk mengundang mereka ke rumah. Setelah diijinkan saya ambil hari Sabtu jam 09.30 – 12.00 pas mapel saya. Dari 20 siswa yang hadir 14, namun mereka tidak datang bersamaan. Ada yang harus saya bel berkali-kali baru mau datang. Ada yang sudi hadir namun tidak ketemu alamat. Yang tidak hadir 6 tanpa keterangan.
Saat pelajaran berlangsung mereka mengisi presensi di WG kelas namun setelah itu tidak masuk ke Google Classroom (GCR). Materi entah dibaca entah tidak, namun ada yang sama sekali tidak mengerjakan tugas. Sudah dibilang bahwa presensi otentik adalah yang aktif menjawab salam di GCR dan juga mengikuti pelajaran secara daring, namun yang menjawab salam maksimal hanya 50%. Yang lain hanya mengisi presensi di WA setelah itu entah apa yang dikerjakan.
Saya minta rekapan tugas siswa dari semua guru yang mengajar di kelas mereka untuk saya teruskan ke grup wali siswa. Setelah saya teruskan ke grup tersebut yang merespon hanya satu dua wali saja. Yang lain tidak merespon entah apa kendalanya. Saya sudah bilang bahwa silahkan gunakan grup untuk saling sharing terkait pendidikan anak, tapi sama saja seperti anak-anak mereka cuek atau apalah saya bingung menyimpulkannya.
Saat ujian atau penilaian tengah semester gasal, saya sebagai wali kelas juga memantau mereka. Pagi-pagi sudah membangunkan mereka agar segera bersiap diri untuk mengikuti ujian. Tetap saja mereka banyak yang terlambat. Biasanya satgas akan wapri saya untuk ikut mengontak mereka agar segera masuk mengerjakan ujian. Saya kontak mereka ada yang HP tidak respon, berkali-kali ditilpun tidak juga konek.
Kebetulan pada Penilaian Akhir Semester (PAS) ini saya adalah Satgas. Sehingga saya harus memastikan seluruh peserta ujian aktif mengerjakan ujian. Pagi jam 07.00 sudah menyebarkan presensi, jam 07.25 menyebarkan soal on line. Jika ada yang belum masuk harus menghubungi mereka satu per satu. Untuk memastikan mereka sudah mengerjakan apa belum, satgas meminta mereka mengisi daftar yang sudah mengerjakan ujian dengan menuliskan nama mereka sesuai nomor urut ujian di wAG kelas.
PAS selesai, selanjutnya adalah mengerjakan remedial test. Yang ini lebih parah lagi. Guru-guru minta bantuan agar saya menghubungi mereka yang tidak atau belum mengerjakan remedy. Ternyata bahkan ada siswa yang belum mengerjakan PTS maupun PAS untuk mapel tertentu. Saya sudah hubungi anak tersebut jawabnya “iya bu iya bu”. Kebetulan ada seorang anak yang tinggal di luar kota sehingga agak repot. Untuk soal produktif itu tidak on line maka harus diambil di sekolah, tapi karena jauh dia minta difotokan soalnya.
Sebentar lagi raport harus dibuat. Saya yakin ada beberapa siswa yang terpaksa belum ada nilainya. Mereka harus menuntaskan pada semester berikutnya untuk mengisi nilai mapel yang masih kosong. Adalah tugas saya untuk terus membujuk anak-anak tersebut untuk mau menuntaskan. Ini sudah menjadi resiko tupoksi (tugas pokok dan fungsi) wali kelas. Serepot apapun harus tetap dijalani.
Mereka adalah anak-anak yang masih perlu banget bimbingan agar menjadi anak-anak yang mandiri. Dengan begitu, mereka akan melakukan segala sesuatu tanpa harus dikejar-kejar namun atas kesadaran dan inisiatif sendiri. Saya terus membayangkan dan mendoakan suatu saat ada kesadaran bahwa sekolah itu penting dan menjalaninya penuh kedisiplinan. Ya Allah bimbinglah mereka, jadikan mereka generasi yang berkualitas dan memiliki masa depan cerah. Aamiin.
Maguwoharjo, 14 Desember 2020
Sumber gambar: dokpri
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
