Emak Tukang Pijat (Tamugusi ke 209)
Emak Tukang Pijat
Oleh: Siti Nurhayati
Sungguh beruntung aku dan adikku punya emak yang luarbiasa tangguh. Siap menghadapi apapun demi kami yang sedang tumbuh dewasa. Aku sebagai anak perempuan satu-satunya dan adik laki-laki yang masih butuh biaya pendidikan yang tidak sedikit, terkadang kasihan lihat emak bekerja tak kenal waktu untuk mendapatkan rupiah demi rupiah.
Aku masih duduk di bangku SMP saat emak memutuskan untuk membantu menegakkan ekonomi keluarga dengan menjadi terapis pijat. Saat itu orangtua ayahku memandang sebelah mata pekerjaan emak bahkan berpandangan negatif, namun emak tidak peduli. Yang penting pekerjaan itu halal dan emak juga tidak tergoda untuk berbuat yang melanggar norma.
Aku rajin belajar demikian juga aku berusaha mengajari adik agar tidak nakal dan harus fokus sekolah. Aku tidak mau membebani pikiran emak jika aku atau adikku menjadi anak yang tidak berbakti atau bertingkah yang bikin malu orangtua.
Alhamdulillah, aku termasuk memiliki otak yang tidak bodoh. Setamat SLTA saya mendaftar di perguruan tinggi favorit di negeri ini dan diterima di fakultas yang keren. Aku diterima di fakultas MIPA jurusan Matematika. Sungguh tidak mudah untuk bisa lolos seleksi di universitas tersebut namun berkat doa emak dan pertolongan Allah aku diterima.
Emak berpikir keras bagaimana agar aku bisa kuliah hingga selesai tanpa terkendala biaya. Beruntung emak punya pelanggan yang banyak. Meskipun lelah emak menjalani pekerjaan memijat dengan senang hati dan semangat. Emak badannya sangat sehat. Menyehatkan orang sekaligus menyehatkan diri sendiri.
Ayahku tampan sehingga sering digoda perempuan, namun emak tidak terlalu ambil hati walau suami sempat tergoda. Emak berpikir kalau terlalu memikirkan kelakuan ayah yang sering menyakitkan malah nanti tidak fokus mencari biaya sekolah anak-anak. Emak juga selalu mengajarkan agar memaafkan ayah yang sering KDRT dan mendoakan agar ayah berubah menjadi lebih sayang keluarga. Sungguh emak orang yang sangat sabar.
Untuk meringankan beban emak, aku memenuhi undangan mengajar privat anak-anak SMA yang sudah kelas dua belas. Mereka umumnya minta diajarin menyelesaikan soal matematika yang sulit. Aku mengajar matematika dengan metode yang paling mudah dipahami. Alhamdulillah mereka paham dan bisa lulus ujian dengan nilai yang memuaskan. Dari itu aku mendapat bayaran dari orangtua mereka. Lumayan bisa untuk membeli keperluan pribadiku. Aku juga sering kasih uang saku adikku.
Emak sering menanyakan masih ada uang apa tidak. Aku selalu jujur kalau ada uang bilang ada sehingga uang emak bisa ditabung atau untuk keperluan hadup sehari-hari. Emak selalu menabung untuk keperluan membayar uang semesteranku dan juga biaya sekolah adik. Emak pintar sekali mengatur keuangan. Aku sungguh belajar tentang semua kebaikan emak.
Suatu hari aku melihat ayah berlaku kasar sama emak. Aku sangat sakit hati pada ayah. Kalau tidak emak selalu bilang bahwa bagaimanapun ayah adalah ayah, orangtua yang harus dihormati oleh anak-anaknya, mungkin aku sudah mengamuk kepada ayah. Tapi itu tidak aku lakukan karena ingat pesan emak. Emak sungguh tegar, hampir tak pernah terlihat menangis. Hidup bukan untuk ditangisi tapi untuk dihadapi dengan semangat menyelesaikan masalah. Itu prinsip emak.
Aku ingin emak istirahat tidak usah memijat orang lagi jika aku sudah wisuda dan mendapat pekerjaan yang lumayan gajinya. Aku ingin mengambil alih membiayai adikku hingga sarjana pula. Aku sedih kalau emak pulang malam-malam belum lagi kalau hujan.
Langganan emak senang dengan pijatannya. Tak heran mereka saling menyebarkan info bahwa kalau pijat ke emak itu enak juga tidak terlalu mahal. Bahkan kalau ditanya berapa tarifnya, emak hanya bilang silahkan mau infaq berapa. Namun rata-rata sekali pijat satu setengah jam Rp. 75.000 – 100.000.
Walaupun sedikit terlambat dari target waktu, namun akhirnya aku lulus jadi sarjana. Saat wisuda emak terlihat sangat bahagia. Aku peluk emak sepuas hatiku sambil mengucap terimakasih yang tak terhingga. Aku sudah diterima kerja dengan gaji lumayan. Aku transfer tiga juta setiap bulan untuk emak. Namun emak tetap tidak mau berhenti memijit. Kasihan pelanggan kata emak.
Maguwoharjo, 6 Januari 2021
Sumber gambar : motherandbaby.com.id

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
