Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Galau (Tamugusi ke 210)
dokpri

Galau (Tamugusi ke 210)

Galau

Oleh: Siti Nurhayati

Tidak bisa dipungkiri ada kegalauan yang menyelinap di benak suami. Bagaimana tidak, belum lama sepupunya yang usianya setahun lebih muda, meninggal dunia karena covid-19 di Jakarta. Figur yang bukan biasa, namun yang menjadi panutan dan rujukan bagaimana menjadi orang yang semestinya, telah pergi untuk selama-lamanya. Bayangannya selalu menggelayut di pelupuk mata. Hati rasa tak percaya bahwa beliau telah tiada. Orang yang demikian baik harus lekas berlalu.

Sudah berusaha mengikhlaskan kepergiannya ke alam sana, namun masih kepikiran tentang segalanya. Hal tersebut ternyata membuat suami sedikit terganggu kesehatannya. Mungkin bukan karena itu semata yang membuat sakit. Bisa jadi jua lelah karena saat berita duka itu datang, kami sedang dalam perjalanan balik dari rumah duka pak dheku di Banyumas, yang juga baru saja berpulang ke hadirat-Nya.

Dua hari ini suami sakit. Semalam suntuk demam dan seharian tadi hanya tertelungkup di tempat tidur. Setelah minum obat flu yang ada di rumah, demam hilang tapi sebentar datang lagi. Bisa dibayangkan betapa tambah galau dan kepikiran juga masalah covid-19 yang baru saja merenggut sepupunya.

Putriku sangat menghimbau agar abahnya menjalani test untuk memastikan apakah ada infeksi virus atau tidak. Awalnya, suami ragu sebab yakin kalau itu hanya flu biasa, namun kemudian beliau setuju untuk test. Putriku mencari informasi tentang tempat tes dan tarifnya. Ternyata tidak sama namun selisihnya tidak banyak. Ada teman dokter putraku menyarankan agar jangan langsung SWAB tapi rapid test saja dulu untuk mengetahui reaktif atau non reaktif.

Selepas maghrib, aku dan suami diantar putraku ke sebuah rumah sakit swasta yang tidak terlalu jauh dari rumah. Sesampai di sana sangat sepi. Tidak ada pasien lain kecuali suami.

Kami langsung ke tempat pendaftaran. Namun karena sudah lama sekali tidak berobat, maka petugas pendaftaran cukup lama mencari data pasien. Pertama dicari di komputer dengan kata kunci tanggal lahir belum ketemu, terus dengan nama belum ketemu juga. Lalu dicari dengan alamat baru bisa ketemu. Ternyata memang tanggal lahirnya yang keliru tahunnya. Harusnya 1960 tapi tertulis 1930. Masa suami sudah tua banget kalau lahir 1930. Kemudian data diperbaharui.

Kami diminta nunggu di luar dulu baru nanti dipanggil. Karena pasiennya memang cuma suami, maka tidak menunggu lama nama suami dipanggil untuk periksa. Sesampai di ruang dokter langsung ditensi oleh perawat. Ternyata tensinya tinggi yakni 153/90. Padahal biasanya tidak setinggi itu. Dokter menanyakan keluhan apa yang dirasakan. Setelah dijelaskan keluhanya, dokter meminta suami berbaring di tempat tidur pasien.

Dokter menganjurkan untuk cek darah saja, sebab ada berapa kemungkinan yang terjadi. Bisa saja demamnya disebabkan oleh demam berdarah, virus influenza atau bahkan covid-19. Apalagi belum lama mengadakan perjalanan ke luar kota. Namun sebelum diambil tindakan dokter minta persetujuan pasien. Setelah suami menyetujui diambil darahnya untuk dicheck, tak lama petugas laboratorium datang dan mengambil darah lewat lengan kanan suami.

Sambil menunggu hasil laboratorium, suami tetap berbaring istirahat di tempat tidur. Sekitar 15 menit kemudian hasil itu telah ada dan diserahkan ke dokter untuk dibaca. Dokter membacakan hasil lab. Ternyata untuk rapid tes non reaktif, trombosit juga normal. Dokter bilang bahwa imun suami masih sangat bagus. Mungkin hanya sedikit stress. Dokter kemudian memberi resep obat turun tensi dan flu.

Dokter meminta kami untuk menunggu di depan apotik. Tak lama nama suami dipanggil ke kasir. Aku yang berdiri dan jalan menuju kasir. Setekah membayar Rp.344.000 aku ke loket apotik yang bersebelahan dengan kasir untuk menerima obat. Kami pulang dan galau itu telah hilang karena hasil rapid tes non reaktif. Alhamdulillah. Hanya harus minum obat turun tensi agar kembali normal dan istirahat yang cukup. Ternyata tensi darah naik karena galau. Semoga lekas sembuh ya suamiku sayang. Aamiin.

Maguwoharjo, 7 Januari 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post