Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Windi - Bagian 10 ( Tamugusi ke - 227 )
gadis bingung. id.pinterest.com

Windi - Bagian 10 ( Tamugusi ke - 227 )

Windi

Bagian 10

Oleh: Siti Nurhayati

“Buuu...perut Windi sakit banget,” Windi memanggil ibunya sambil memegangi perutnya. Ibu yang sedang menyapu halaman tidak mendengarnya.

“Buuuu...ibu dimana...,” Windi memanggil ibunya lagi sambil wajahnya nyengir menahan sakit.

Windi ke kamar mandi mendapati bercak darah di "CD"nya. Windi menjadi pucat seketika dan ketakutan lalu memanggil ibunya lagi. Ibunya yang kebetulan sudah selesai nyapu langsung masuk ke dalam rumah. Saat mau ambil minum ia mendengar suara Windi memanggil dari kamar mandi.

“Windi kamu kenapa kok jongkok begitu,” tanya ibu Windi sambil membimbing Windi bangkit.

“Windi ada bercak darah bu,” ucap Windi.

“Ya Allah...sini ibu papah ke kamarmu,” ucap ibu Windi sambil memapah Windi ke kamar.

Setelah sampai di kamar, Windi segera diminta istirahat. Kemudian dinasehati, “Windi kamu harus ingat yah. Di dalam perut kamu itu ada calon anakmu. Jadi kamu harus menjaganya. Tidak boleh terlalu capek. Tidak boleh stress. Harus banyak istirahat dan santai. Ada ibu yang akan selalu mengerti keadaanmu.”

Ibunya kemudian mengoleskan minyak kayu putih ke perut Windi sambil bertanya, “Gimana perutmu masih sakit seperti tadi?”

“Sudah agak berkurang bu. Tapi ini flek merah apa gak papa bu?” tanya Windi menunjukkan wajah yang cemas.

“Iya semoga tidak apa-apa. Nanti kalau fleknya malah menjadi seperti haid, kita ke bu bidan sore ini saja biar diperiksa,” jawab ibu mencoba menenangkan Windi.

“Bu...Windi minta maaf ya selalu membuat ibu repot,” ucap Windi sambil memegangi tangan ibunya yang baru selesai mengoles minyak kayu putih kemudian menyelimutinya.

“Iya Windi...ibu itu sayang banget sama kamu. Yang terjadi sama kamu tak ada satupun orang yang menghendakinya. Ini sebuah “kecelakaan”. Ibu juga tahu kamu pasti sedih, marah, malu dan ada rasa menyesal. Mari mencoba bersabar. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Kita selamatkan janin yang ada di rahim kamu yang masih sangat muda ini. Kita berdoa agar semua baik, sehat dan lancar hingga bayimu lahir ke dunia fana ini yaa,” jawab ibu sambil mengelus kepala Windi.

Windi semakin sedih menatap wajah ibunya sambil luruh air matanya. “Terimakasih ibu...semoga ibu sehat selalu. Aamiin.” Windi mencoba memejamkan matanya.

Ibunya keluar sambil memegang HP Windi kemudian menghubungi bu Aminah. Ia mengirim pesan WA, “Assalamu’alaikum bu... maaf mengganggu. Ini Windi kok flek-flek ya bu. Saya khawatir kalau nanti dia keguguran.”

Bu Aminah sedang berada di sekolah. Kebetulan hari itu piket sehingga walau masih pjj beliau tetap harus ke sekolah. Saat sedang membaca artikel di laptopnya tetiba terdengar gawainya berbunyi “kriing” yang menandakan ada pesan masuk. Beliau langsung membuka isi pesan yang ternyata dari ibu Windi. Setelah membaca isi pesan beliau langsung menjawab, “Waalaikumsalam wr wb. Kalau memang demikian kondisinya...nanti sore kita periksakan Windi ke bu bidan ya bu. Nanti saya antar. Yang sabar ya bu. Tidak usah panik. Sekarang Windi suruh istirahat dulu. Tidak boleh banyak gerak. Kandungannya masih lemah.”

Ibu Windi membalasnya, “Baik bu...ini Windi memang sedang sitirahat. Terimakasih banyak ya bu.”

*****

Sore hari bu Aminah ke rumah ibu Windi mengendarai mobil Avanza hitam. Dia sudah janjian ke tempat bu bidan yang kebetulan masih tantenya. Ia membawa Windi beserta ibunya ke tempat bu bidan yang jaraknya sekitar 6 km. Sesampai di sana Windi calon ibu belia langsung diminta untuk ke tempat tidur pasien.

Sebelumnya bu Aminah sudah cerita tentang Windi pada bu bidan, sehingga bu bidan sudah sangat mafhum dan tidak bertanya banyak tentang hal-hal yang sensitif. Bu bidan yang sudah beberapa kali menangani KTD sudah tidak heran lagi. Hanya merasa prihatin saja bahwa kasus yang seperti Windi alami bukan menurun kasusnya namun justru sebaliknya.

Bu bidan bahkan pernah menangani di rumah sakit tempatnya bekerja kasus yang lebih parah dan mengusik nurani. Ada seorang mahasiswi perguruan tinggi Islam yang kebetulan orang dari luar Jawa. Tetiba ia datang ke rumahsakit tersebut dalam kondisi perut yang besar siap untuk melahirkan. Dengan segera bu bidan menangani tanpa menanyakan ini dan itu terlebih dahulu karena kondisinya darurat. Setelah pertolongan sesuai prosedur bayi tersebut lahir dalam kondisi sehat walafiat. Namun...kemudian bayi tersebut ditinggal begitu saja oleh ibunya yang mungkin bingung atau bagaimana, dia pergi atau bisa dibilang melarikan diri tanpa meninggalkan jejak. Kasihan sang jabang bayi.

Kembali ke Windi.

Bu bidan kemudian mengukur suhu badan dan tensi Windi. Kemudian setelah memeriksa kondisi kandungannya bu bidan berpesan, “Windi tidak boleh stress yah. Dan juga jangan memaksakan diri bekerja berat. Jangan biarkan tubuh dan pikiranmu kelelahan. Jika tubuh sudah terasa agak penat segera berhenti dari berkegiatan lalu istirahat.”

“Baik bu bidan,” jawab Windi sambil menatap wajah bu bidan yang sejuk karena sangat memahami kondisi Windi yang tidak biasa.

Kemudian Windi turun dari tempat tidur pasien lalu duduk di meja periksa ditemani ibunya dan bu Aminah. Bu bidan memberikan vitamin dan obat penguat kandungan. Bu bidan bilang, “Ini vitamin diminum cukup sekali setiap pagi. Ini obat penguat kandungan juga sekali setiap hari yah. Jangn lupa juga makan yang banyak dan bergizi agar bayi dalam kandunganmu tumbuh sehat yah.” Bu bidan juga memberikan kartu periksa agar Windi bisa periksa secara teratur.

Ibu Windi merasa malu dan tidak enak hati karena bu bidan tidak mau dibayar. Ia mengucapkan rasa terimakasih yang mendalam pada bu Aminah juga tantenya yang sudah sangat berempati pada kondisi keluarganya.

Setelah dirasa cukup, bu Aminah, Windi dan ibunya pamitan pada bu bidan.

Sepanjang perjalan pulang hati ibu Windi bersyukur bahwa ada orang yang menghinanya yaitu keluarga Rio, orang yang telah merusak anak gadisnya, namun di sisi lain ada orang seperti bu Aminah dan tantenya yang sangat penolong. “Alhamdulillah, terimakasih ya Allah...Engkau mengulurkan tangan-Mu melalui bu Aminah dan tantenya.” Ucapan hati ibu Windi sambil tak terasa airmata menetes hangat jatuh di tangannya.

Bersambung

Maguwoharjo, 24/01/2021

Sumber gambar: id.pinterest.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post