Windi - Bagian 11 ( Tamugusi ke - 228 )
Windi
Bagian 11
Oleh: Siti Nurhayati
Tak lama mobil yang disopiri bu Aminah telah sampai kembali di rumah Windi. Di rumah telah menunggu ayah Windi dan adiknya. Ayah Windi membuka pintu mobil dan membantu Windi turun diikuti oleh ibunya. Kemudian dipapah masuk menuju tempat tidur untuk istirahat.
Karena waktu sudah jelang maghrib maka bu Aminah langsung pamit pada mereka. Ayah dan ibu Windi mengucapkan terimakasih yang mendalam atas segala kebaikannya.
“Saya langsung ulang ya pak bu Suji. Ini sudah hampir maghrib jadi biar biasa jama’ah dengan bapak di rumah,” ucap bu Aminah lalu menuju mobilnya.
“Baik bu. Terimakasih sekali atas segala kebaikan ibu sekeluarga. Salam untuk bapak ya bu.”
Bu Aminah menghidupkan kembali mesin mobilnya lalu mobilpun jalan. Karena cuma dekat namun harus mutar dulu jalannya, tak sampai sepuluh menit mobil sudah sampai di garasi rumahnya. Bu Aminah memarkirkan mobil di garasi lalu mematikan mesin dan keluar dari mobil.
“Assalamu’alaikum warahmautullah...,” bu Aminah masuk rumah sambil mengucapkan salam.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh,” jawab suaminya yang sudah rapi berpakaian siap melaksanakan sholat maghrib.
“Ibu wudhu dulu ya pak. Kita sholat berjama’ah,” ucap bu Aminah sambil meletakkan tas di kamarnya terus menuju kamar mandi yang ada di kamar lalu ambil air wudhu.
Setelah selesai wudhu bu Aminah menuju mushola keluarga lalu mengenakan mukena yang sudah siap di mushola. Kemudian mereka berdua berjama’ah sholat maghrib. Selepas sholat dan wirid serta sholat sunnah bakda maghrib mereka ngobrol tentang Windi.
“Bagaimana hasil periksa Windi tadi bu?” tanya suaminya.
“Alhamdulillah sudah baik. Mungkin karena kecapekan dan juga masih suka stress sehingga berpengaruh pada kandungannya. Tapi sudah dikasih vitamin dan obat penguat kandungan. Semoga saja bisa sehat kembali,” jawab bu Aminah.
“Syukurlah kalau begitu. Kalau dia stress ya wajar. Siapa yang tidak kepikiran dan tertekan menerima kondisi yang tak pernah dibayangkan terjadi namun terjadi. Jika tidak ada yang peduli anak itu bukan saja stress tapi depresi bu,” ucap suaminya prihatin.
“Iya pak makanya ibu mencoba untuk memberikan perhatian, semoga ini bisa mengurangi beban perasaannya. Kasihan pak...kehidupannya mereka sangat sederhana. Hanya mengharap dari kios oli, ban dalam, tambal ban dan bensin. Kan hasilnya tak seberapa to pak.
“Iya bu. Semoga kita tidak ikut-ikutan mereka yang hanya nyinyir namun tak memberi solusi. Apalagi pak Yuli itu orang yang sangat membatu hatinya. Jelas-jelas putranya saja sudah mengakui bahwa telah merusak Windi, malah dia yang tidak terima. Tidak harus mereka dinikahkan karena itu bukan solusi terbaik, lantaran mereka masih dibawah umur, tapi tidak usah menambah hati pak Suji dan istrinya sakit dikala dia sudah sakit dengan menghinanya. Itu kan seperti menyiram air garam pada luka yang menganga. Astaghfirullahaladziem. Gak tahu cara berpikirnya yang aneh itu bu,” ucap suaminya geram.
“Iya pak, ibu juga sedih. Biarlah nanti Tuhan yang akan menghukumnya,” ucap bu Aminah sambil melepas mukenanya.
“Ayo pak kita makan malam dulu,”
*****
Adik Windi tanya sama ayahnya, “Mbak Windi kenapa ayah kok tadi naik mobil kemana?”
“Mbak Windi sakit perut jadi tadi ke rumah bu bidan untuk diobati,” jawab ayahnya.
“Terus sekarang udah sembuh tidak sakit lagi?” tanyanya lagi.
Ibunya sekarng yang menjawab, “Iya sekarang mb Windi sudah tidak sakit lagi, tapi masih harus istirahat. Doni jangan bobok sama mb Windi yah takut ntar nendang perut mbak nanti bisa sakit lagi.”
“Iya bu... Doni bobok sama ayah sam ibu aja yah nanti malam,” jawab Doni polos. Dia belum tahu apa-apa.
Kemudian Doni main-main sambil nonton TV. Windi masih tiduran di kamarnya. Ayah ibu Windi ngobrol.
Pak Suji, “Bu...saya merasa tidak enak loh sama bu Aminah sekeluarga. Kita telah merepotkan mereka dengan kondisi Windi.”
“Iya pak sebenarnya ibu juga merasa tidak enak. Tapi beliau yang datang sendiri ke rumah kita menunjukkan rasa empati. Ibu menangkapnya beliau tulus. Karena beliau yang bilang kalau perlu bantuan jangan segan untuk hubungi beliau. Maka dari itu saat ibu bingung karena Windi alami kram perut dan ada bercak merah di “cd”nya ibu langsung hubungi beliau,” jawab ibu Windi.
“Iya ya bu...kita bersyukur punya tetangga yang baik dan penolong seperti beliau. Semoga beliau sekeluarga selalu diberikan Kesehatan dan kebahagiaan ya bu. Aamiin.
*****
Rio sebenarnya kangen banget sama Windi. Pingin ketemu pingin ngobrol, pingin mengerjakan tugas-tigas sekolahnya. Namun ia takut sama ayahnya yang sangat temperamen. Kenapa ya ayah malah tidak mendukung anaknya saat anaknya ingin menunjukkan rasa tanggungajawabnya atas kesalahan yang sudah dilakukan.
“Apakah ayah tidak mau jika memiliki anak yang bertanggungjawab,” hatinya berbicara sendiri saat dia sedang mengerjakan tugas sekolah malam hari.
Tetiba Rio nekat mengunblock nomor Windi. Dia ingin banget menanyakan kabar Windi yang sekira kandungannya sudah memasuki 8 bulan. Kemudian dia kirim pesan WA ke Windi. Windi yang malam itu belum tidur kaget tetiba ada pesan WA masuk.
“Assalamu’alaikum Windi. Apa kabar?”
Bersambung
Maguwoharjo, 25/01/2021
Sumber gambar: id.pinterest.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
