Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Windi - Bagian 12 (Tamugusi ke - 229 )
gadis bingung. id.pinterest.com

Windi - Bagian 12 (Tamugusi ke - 229 )

Windi

Bagian 12

Oleh: Siti Nurhayati

Ternyata dalam HP Windi hanya muncul nomor. Untuk hati-hati maka ia tak menghiraukan pesan yang masuk. Setelah membaca pesan dari nomor yang tidak dikenali lagi, Windi mematikan HPnya kemudian ia tidur.

Rio heran tapi juga maklum kenapa Windi tak membalas pesannya padahal ia yakin Windi telah membaca pesannya. Rio berpikir apa Windi marah atau sudah tak mengenali nomornya. Ia pun kirim pesan lagi, “Kenapa tak menjawab pesanku Win, apa kamu sudah melupakan aku? Ini aku Rio.”

Namun Windi sudah terlelap. Rio pun berpikir bahwa Windi betul-betul tak mau lagi dihubungi, karena ia belum juga membalas pesannya. Rio hanya berharap bahwa Windi akan membalas pesannya esok hari, kemudian ia pun tidur.

Jelang subuh Windi terbangun. Kandungannya yang semakin besar membuatnya sering buang air kecil. Ini akibat kepala bayi yang semakin menekan kantung kemihnya. Ia kemudian berjalan ke kamar mandi. Setelah buang air kecil, ia lanjutkan ambil air wudu untuk sholat subuh.

Ia balik lagi ke kamarnya lalu mengenakan mukena untuk sholat sunnah. Tak lama terdengar azan subuh. Ia sholat sunnah qobliyah subuh lanjut sholat subuh. Selesai sholat ia wirid dan berdoa dengan khusuk mohon keselamatan untuk bayi dan dirinya. Ia semakin sadar walau masih belia namun akan menjadi seorang ibu sehingga pemikirannya semakin dewasa. Ia dengan sabar menerima takdir-Nya.

Selepas berdoa, Windi langsung membuka Al-Qur’an kecil yang ada di kamarnya. Ia lantas membukanya dan membacanya hingga lama. Ada kedamaian dalam hatinya setelah sholat dan tadarus Al-Qur’an. Selesai membaca beberapa halaman ia tutup dengan membaca ‘shodaqallaahul’adziiem. Kemudian menutup kembali, lalu meletakkannya di rak buku.

Ia lantas mengambil HP di bawah bantalnya. Setelah membuka ia melihat ada pesan WA, ternyata dari Rio. Ia membalas salamnya kemudian bilang, “Maaf Rio, aku sudah melupakanmu. Aku merasa sangat sedih dan terluka dengan sikap dan ucapan ayahmu yang telah menghina aku dan kedua orangtuaku. Jangan hubungi aku lagi. Kamu tetap belajar, jangan pikirkan aku, pikirlah masa depanmu saja. Bahagiakan orangtuamu.”

Setelah membalas pesan Rio kemudian Windi mengeblok nomor Rio. Ia sudah memutuskan tidak akan lagi berkontak ria dengan yang namanya Rio. Lebih baik memikirkan bayi dalam kandungannya agar tetap sehat dan nantinya lahir dalam kondisi baik.

Membaca pesan dari Windi, Rio sangatlah sedih, namun apa daya memang orangtuanya telah memperlakukan ayah dan ibu Windi dengan sangat buruk, wajar jika Windi bersikap tegas padanya. Rio menetes air matanya namun buru-buru dihapus ketika terdengar ayah memanggilnya.

Melihat mata Rio merah seperti habis menangis ayahnya bertanya, “Mengapa matamu merah? Apakah kamu habis menangis?

Rio menjawab, “Nggak apa-apa. Cuma tadi kena debu pas meniup meja.”

“Meniup meja kok bisa kena debu? Kamu pasti bohong. Ayah tahu kamu abis menangis. Mukamu kelihatan sedih,” kata ayahnya.

“Maaf ayah...tetiba Rio ingat Windi. Rio sedih yah,” ucap Rio sambil menetes air matanya lagi satu satu.

“Kamu itu yah...harusnya memikirkan sekolahmu, mikir masa depanmu, bukan mikir Windi,” kata ayahnya sambil menatap tajam wajah Rio.

Rio semakin tertunduk dan sedih banget. Kemudian ia mengangkat wajahnya dan mulai berani lagi bicara lagi. “Tapi yah...walau bagaimana Rio itu sayang sama Windi. Aapalagi sekarang Windi mengandung anak Rio, gimana Rio tidak pingin tahu kabarnya,” kata Rio.

Ayah Rio malah makin marah dan menampar Rio sambil bilang, “Beraninya kamu omong begitu ya. Kamu itu masih kecil baru kelas dua SMP masih panjang masa depanmu. Tidak usah mikir perempuan. Kakakmu yang sudah mahasiswa aja tidak pacaran, kok kamu yang masih kecil pacarana,” ucap ayah Rio dengan wajah merah padam.

Ibunya melihat ayah dan anak bertengkar mencoba mengingatkan keduanya, “Ada apa sih pagi-pagi sudah ribut. Malu sama tetangga nggak sih? Sudah tidak usah beradu mulut.”

“Itu Rio anakmu bu...bukannya mikir sekolah malah mikir Windi,” ucap ayah Rio sambil menuju kamar mandi hendak mandi dan siap-siap ngantor.

Rio yang remuk perasaannya kemudian masuk kamar dan berbaring. Ia pandangi langit-langit kamar. Terbayang wajah Windi. Bayangan Windi ada di setiap pandangan matanya. Di dinding, di atap, di jendela, di lemari... Padahal Rio dan Windi hanya tinggal dalam satu Rukun Tetangga namun seperti terpisah jarak yang sangat jauh.

*****

Kandungan Windi telah memasuki bulan ke Sembilan. Windi dan ibunya mulai menyiapkan perlengkapan bayi. Ibu Windi masih menyimpan beberapa pakaian bayi bekas adiknya Windi yang usia empat tahun. Tentu masih kurang banyak, namun perlahan ibunya menambah dikit-dikit.

Sore hari saat habis mengangkat jemuran baju, perut Windi mulai kontraksi. Ia mulai merasa kesakitan sebentar terus hilang lagi. Namun mendekati petang rasa sakit karena kontraksi makin tidak tertahankan lagi.

Bersambung

Maguwoharjo, 26/01/2021

Sumber gambar: id.pinterest.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post