Windi - Bagian 13 ( Tamugusi ke 230 )
Windi
Bagian 13
Oleh: Siti Nurhayati
Orang tua Windi sangat menyadari bahwa suatu hari putrinya akan melahirkan cucu mereka. Oleh karena itu mereka sudah menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk keperluan persalinan. Ini dilakukan karena putrinya mengalami Kehamilan Tak Diinginkan (KTD). Meski mereka belum menginginkan cucu karena putrinya masih sekolah dan belum bersuami, namun sebagai orang yang beriman mereka dengan sabar dan besar hati menerima takdir ini. Demi ikut memperbaiki ekonomi keluarga, bu Suji membuka laundry sejak beberapa bulan yang lalu. Lumayan untuk menambah keuangan keluarga. Dengan rajin, Windi membantu ibunya menangani usaha laundry.
Mengetahui Windi kontraksi mau melahirkan, bu Suji menghubungi bu Aminah tetangganya yang paling mengerti kondisi mereka. Bakda maghrib, bu Aminah segera mengantar Windi ditemani ibunya ke tempat bu bidan. Pak Suji menjaga rumah bersama adik Windi.
“Ayah...mbak Windi mau dibawa ke mana? Kenapa perut mb Windi besar sekali?” tanya Doni pada ayahnya.
Ayahnya kaget mendapat pertanyaan seperti itu dari putranya. Ia berpikir sejenak lalu berusaha menjelaskan. “Mbak Windi mau punya adik. Jadi Doni nanti punya adik bayi. Kamu seneng tidak kalau punya adik bayi?” ujar ayahnya.
“Seneng dong. Nanti aku akan ajak main adik bayinya ya yah. Aku ajak naik sepeda.” Ucap Doni polos.
Ayahnya tersenyum sambil mengusap kepala Doni lalu berucap,” Bagus. Doni memang anak pintar.”
“Tapi ayah...kenapa mb Windi dibawa naik mobil oleh bu Aminah?” tanyanya lagi penasaran.
“Iya sebab kalau di rumah, adik bayi tidak mau keluar dari perut mbak,” jawab ayah sambil berharap Doni tidak tanya ini itu lagi yang membuat bingung mencari jawaban.
“O begitu to yah...,” ucap Doni lagi sambil menatap wajah ayahnya.
“Iya begitu...ayo kita berdoa supaya adik bayi keluar dari perut mbak Windi dengan lancar, sehat dan selamat,” ujar ayahnya.
Kemudian mereka berdoa. Ayah Windi mengenakan sarung dan baju koko. Doni mengenakan baju kaos dan celana panjang.
****
Mobil bu Aminah telah sampai di rumah bu bidan. Bu Aminah membukakan pintu mobilnya lalu menolong Windi turun dibantu ibunya juga. Tas perlengkapan bayi ala kadarnya telah dibawanya juga.
Windi yang sudah meringis menahan sakit berjalan perlahan sekali dipapah ibu dan bu Aminah. Bu bidan menyuruh untuk membaringkan Windi di tempat tidur bersalin. Diperiksanya Windi dengan seksama. Rupanya sudah pembukaan tujuh. Diperiksa tekanan darahnya juga suhu tubuhnya semua normal. Beruntung karena dukungan orangtuanya yang atas bantuan bu Aminah membesarkan hatinya untuk menerima semua ujian yang tidak ringan ini, Windi mendapatkan akses kesehatan yang baik. Hal ini mengurangi resiko persalinan di usianya yang masih belia.
Padahal sejatinya hamil pada usia di bawah 20 tahun sangat beresiko. Terjadinya remaja mengalami kehamilan salah satunya adalah karena kurangnya informasi yang memadai tentang kesehatan reproduksi. Keluarga dan juga sekolah masih kerap menganggap tabu untuk membicarakan masalah kesehatan reproduksi secara terbuka. Karena masalah itu maka para remaja perempuan kurang dapat melindungi tubuhnya sendiri dengan lebih bertanggungjawab.
Menurut dokter spesialis kandungan dari Brawijaya Hospital, dr. Uf Bazagi, SpOG, ada tujuh resiko kehamilan pada remaja perempuan yaitu:
1. Keguguran, ini bisa karena sengaja maupun tidak sengaja. Namun yang jelas organ reproduksinya memang belum matang untuk mengandung janin.
2. Gangguan Kesehatan, karena organ reproduksinya yang belum siap untuk mengandung bayi selama 9 bulan, hal ini bukan tidak mungkin untuk robeknya vagina dengan saluran cerna atau saluran kemih yang bisa menyebabkan infeksi berulang, sehingga menurunkan kualitas kesehatan remaja tersebut.
3. Bayi lahir premature dan Berat Bayi Lahir Rendah, ini bisa terjadi karena pemahaman remaja yang rendah akan pentingnya asupan gizi yang baik untuk dirinya dan janin yang dikandungnya, sehingga menyebabkan yang penting makan kenyang saja tapi tidak mampu menaikan berat badan janin yang dikandungnya.
4. Anemia, kekurang darah adalah akibat kurang gizi pada asupan makanannya terutama makanan yang mengandung zat besi.
5. Pendarahan, hal ini terjadi lantaran panggul remaja yang mengandung itu sempit mengingat usianya yang masih terlalu muda. Panggul yang sempit mengakibatkan gangguan pada saat kontraksi. Akibatnya adalah bisa terjadi pendarahan yang hebat saat persalinan. Gumpalan darah yang bisa keluar atau menetap dalam rahim bisa memicu infeksi.
6. Bayi masuk NICU, Normalnya bayi dalam kandungan selama 37 minggu. Makanan yang diasup ibu akan juga dikonsumsi janin melalui plasenta. Jika bayi lahir sebelum 37 minggu asupan oksigen ke tubuh bayi akan menurun karena otak bayi tidak bisa berkembang dengan semestinya. Paru-parunya juga belum berfungsi sempurna. Untuk itu bayi harus dirawat di Neonatal Intensive Care Unit yang biayanya sangat mahal namun harapan hidupnya kecil.
7. Cacat bawaan, ini terjadi jika ibu bayi mengonsumsi obat-obatan atau makanan yang beresiko menggugurkan kandungan, namun karena janin bertahan akibatnya bayi lahir dalam kondisi cacat.
Demikian bu bidan menjelaskan pada Windi dan ibunya yang juga disimak oleh bu Aminah dan juga asistennya.
Bu bidan memeriksa Windi lagi karena kontraksinya makin maksimal dan benar saja, pembukaan sudah sepuluh dan ketuban sudah pecah. Kepala bayi sudah terlihat saat kedua kaki Windi diposisikan seperti biasanya perempuan akan bersalin di temapt tidur bersalan dengan lampu yang sangat terang. Beruntung juga Windi tubuhnya tinggi besar sehingga walau usianya baru lima belas tahun namun sudah seperti umur duapuluh tahun.
Bu bidan membimbing Windi agar terus mengejan sambil mohon kekuatan dari sang Khalik agar jabang bayi keluar ke dunia fana ini dengan lancar tanpa ada kesulitan apapun. Atas doa dari ayah dan ibunya juga kita semua, tak lama terdengar suara tangis bayi laki-laki yang tampan dengan bobot 2,9 kg panjang 48 cm, kulit bersih, rambut hitam dan tebal. Bayi lahir dengan persalinan normal, dengan bantuan bidan senior yang sudah sangat berpengalaman.
Kini pak Suji dan istri telah resmi menjadi seorang kakek dan nenek di usianya yang belum genap empat puluh tahun. Pak Suji usia tiga puluh embilan tahun sedangkan bu Suji usia tiga puluh delapan tahun, dan Windi menjadi ibu di usia lima belas tahun. Semuanya bersyukur, walau dalam benak orangtua Windi menggelayut beban, karena harus membesarkaan jabang bayi Windi yang bisa dibayangkan biaya yang tidak kecil. Belum lagi harus siap mental menghadapi nyinyir mulut tetangga kiri kanan yang tidak senang dan menganggap tabu melahirkan bayi tanpa suami.
Setelah bayi diserahkan pada asisten bidan untuk dibersihkan, tetiba Windi mengalami pendarahan yang hebat. Bu Bidan berusaha untuk mengurangi pendarahan dengan menyuntikkan obat anti pendarahan, namun belum berkurang juga.
Bersambung
Maguwoharjo, 25/27/2021
Sumber gambar: id.pinterest.com

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
