Windi - Bagian 14 ( Tamugusi ke 231 )
Windi
Bagian 14
Oleh: Siti Nurhayati
Ternyata pendarahan yang deras tadi akibat sobeknya jalan untuk keluar jabang bayi. Bersyukur setelah beberapa saat obat sudah bekerja baik, perdarahan paska lahiran (postpartum) mulai surut. Kemudian bu bidan menjahit jalan bayi tadi beberapa jahitan. Selesai itu, kemudian Windi dibersihkan dan dipasang pembalut untuk menampung nifas. Baru Windi dipindahkan ke tempat rawat inap di ruang yang tak jauh dari kamar bersalin.
Windi kelelahan namun sudah plong karena bayi dalam kandungan sudah keluar diikuti plasentanya. Kini Windi tertidur untuk membayar rasa lelahnya. Dan siap-siap nanti untuk menyusui bayinya yang mungil dan tampan. Kemudian Windi dibangunkan ibunya untuk disuapi makan dan minum untuk mengembalikan tenaga paska berjuang melahirkan bayinya.
Ibu Windi mengambil bayi dari box bayi yang ada di kamar bayi, lalu membawanya ke kamar Windi berbaring. Windi menatap bayinya dengan rasa syukur karena bayinya lahir sehat tanpa cacat. Ia telah sedemikian rupa dengan keterbatasannya menjaga kandungannya. Namun kemudian ada kegalauan dalam pikirannya. Sanggupkah dirinya merawat bayinya di usianya yang masih belia. Namun kemudian ia pun berpikir bahwa, jika ia berhasil mengandung dan melahirkannya tanpa masalah yang berarti maka ia pun yakin bahwa akan mampu menjadi ibu untuk bayi tak berdosa itu, entah bagaimana pun jalannya. Ia lantas berdoa agar Allah Yang maha segala-galanya untuk memberikan kuasanya pada dirinya untuk membesarkan apa yang telah dititipkan kepadanya.
Ia mencoba untuk menggendong dan memangkunya. Ia mengambil bayi itu dari gendongan ibunya, menatapnya dengan seksama lalu menciumnya dengan penuh haru. Gerimis dari matanya pun tak terelakan. Ibunya mengapus bulir airmatanya agar tak membasahi bayi dalam rengkuhannya. Ia kemudian berpikir untuk menemukan nama yang pas untuk putranya. Namun hingga beberapa saat belum juga menemukan sebuah nama untuk buah hatinya.
Ibunya telah mengabari ayah bahwa Windi telah melahirkan seorang bayi laki-laki dengan lancar dan selamat. Suaminya langsung mengucapkan syukur alhamdulillah dan tak terasa bulir-bulir bening keluar dari kedua sudut matanya dan membasahi baju koko yang dikenakannya. Sementara Doni sudah terlelap karena waktu telah munjukkan pukul sembilan malam. Ya paling penting utama adalah Windi dan bayinya selamat. Pak Suji telah siap untuk memberikan kasih sayang pada cucunya yang malang itu sebagai kakeknya yang baik. Ia akan mendidiknya sesuai agama dan keyakinan yang dianutnya, agar kelak cucunya tumbuh menjadi sosok yang religius. Ia berniat mengirim ke pondok pesantren kelak jika sudah tiba di usianya.
“Berarti ibu harus menginap ya nungguin Windi di rumah bu bidan?” tanya pak Suji sekedar meyakinkan.
“Iya ayah ...kasihan Windi masih lemah. Besok sore Insha Allah sudah boleh pulang. Besok pagi ayah ke sini untuk nengok ya sekalian ambil aruman (plasenta bayi) untuk dipendam di samping rumah,” ucap ibu Windi.
“Iya bu. Besok ayah sama Doni ke tempat bu bidan. Ayah telah merapikan rumah dan terutama kamar Windi bu,” ujar pak Suji melaporkan.
“Apakah bu Aminah masih di sana bu?” tanya pak Suji.
“Bu Aminah sudah pulang tadi setelah Windi pindah ke ruang rawat inap. Beliau bilang besok sore mau ke sini lagi untuk menjemput Windi dan bayinya,” jawab ibu Windi.
“Bu kalau bisa jangan merepotkan beliau terus. Besok ayah aja yang jemput dengan taksi on line,” kata pak Suji.
“Iya boleh. Kalau begitu nanti ibu kasihtau bu Aminah,” mengakhiri percakapannya dengan suami kemudian meletakkan hape di meja kecil dekat tempat tidur Windi.
Tetiba bayi mungil itu menangis, “eaaaa...eeaaaaa ....”
Musim hujan. Pagi sore siang malam sering tetiba hujan datang. Malam itu pun juga bunyi hujan terdengar lumayan deras mengirim hawa dingin ke kamar mereka-Windi ibu dan bayinya berada. Tanpa disuruh ibunya menutup pintu agar hawa dingin tak masuk ke kamar.
“Windi, sepertinya bayimu mulai lapar. Ayo coba kamu susui yah?” ibunya mencoba mengajak Windi untuk belajar menyusui bayinya. Karena makanan bayi yang terbagus adalah ASI.
“Bagaimana bu...Windi belum bisa menyusui?’ ucap Windi sendu.
“Ayo coba arahkan mulut bayimu itu ke puting. Nanti dia akan langsung menghisapnya. Dia juga akan belajar mencari sumber makanannya,” kata ibu sambil membimbingnya memegang kepala bayi yang masih lembut dan mengepaskan mulut bayi ke puting Windi.
Allah maha kuasa atas seluruh mahluknya. Tanpa harus sekolah, bayi itu langsung pintar menghisap ASI hingga setelah terasa kenyang bayi itu melepas puting bundanya dengan mudah lalu tertidur. Kemudian ibu Windi mengambil bayi itu, meleakkan ke dadanya dengan posisi bayi berdiri lalu ditepuk-tepuk punggunya agar bersendawa.
Ibu Windi membawa bayi itu ke ruang bayi dan meletakkan bayi itu di box dengan sangat hati-hati. Bayi itu tidur lelap dan damai sekali. Bayi itu lahir dalam keadaan fitrah tanpa dosa sama sekali, walau ia lahir dari sebuah kekhilafan. Jika lingkungannya mampu mendidiknya dengan baik, maka ia akan tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang baik. Insha Allah.
“Ibu... Windi minta maaf ya. Karena Windi, ibu dan ayah harus menanggung semua resiko. Tidak tahu apa jadinya jika ayah dan ibu tidak memaafkan Windi, pasti Windi tak sanggup menghadapi semua ini bu,” ucap Windi dengan derai air mata.
“Apa yang kamu katakana Windi...ibu kan sudah bilang. Ayah dan ibu tidak menghakimi kamu atas semua ini. Tidak usah memikirkan apa yang sudah terjadi. Mari kita jalani takdir ini dengan ikhlas. Kita tidak pernah tahu apa rencan Tuhan yang terbaik untuk hamba-Nya Win,” ucap ibu menenangkan Windi yang mulai galau. Seakan dia gelap menghadapi semuanya di depan mata.
Ibu Windi mengelap air mata Windi dengan tissue. Kemudian ia berucap sambil menyelimuti Windi, “Sekarang kamu istirahat ya. Kamu pasti lelah, pulihkan tenagamu dan tenangkan pikiranmu. Ayah ibu tetap dan akan selalu sayang sama kamu.”
Bersambung
Maguwoharjo, 28/01/2021
Sumber gambar: id.pinterest.com

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
