Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Windi - Bagian 15 ( Tamugusi 232 )

Windi - Bagian 15 ( Tamugusi 232 )

Windi

Bagian 15

Oleh: Siti Nurhayati

Bu Aminah membaca pesan dari ibu Windi kalau besok tidak perlu menjemput Windi karena akan dijemput ayah Windi.

Bu Aminah membalas pesannya, “Ayahnya biar menyiapkan segalanya di rumah bu. Besok sore biar aja saya yang jemput. Ibu tidak usah berpikiran macam-macam, saya ikhlas melakukan semua ini. Wajar mambantu sesama. Hidup memang harus saling peduli satu sama lain.”

“Baiklah bu jika demikian,” tulis ibu Windi.

“Bersyukur saya bertetangga dengan orang seperti bu Aminah. Orang memang tidak sama, ada yang baik seperti bu Aminah dan ada yang jahat seperti mereka yang bisanya cuma nyinyir” ucapnya dalam hati.

Sore hari mobil bu Aminah telah sampai di tempat bu bidan yang adalah juga tantenya. Bu Aminah tidak ada canggungnya di rumah bu bidan karena keluarganya sendiri. Walaupun tantenya namun usianya sebaya hanya beda bulan tapi lahir di tahun yang sama.

Bu Aminah langsung menuju kamar Windi. Windi sedang memangku bayinya. Ibunya sudah selesai berkemas, hanya tinggal membayar jasa persalinan saja. Bu Windi telah menyiapkan dana untuk biaya persalinan Windi.

Bu Bidan telah menyiapkan seperangkat tas lengkap dengan isinya berupa peralatan mandi bayi, selimut, sepasang baju, handuk dll. Sebagaimana biasa diterima pasien saat pulang yang sudah termasuk dalam semua pembiayaan. Ibu Windi menghadap bu bidan untuk menyelesaikan seluruh administrasi. Total biaya satu juta rupiah. Namun oleh bu bidan hanya diminta membayar setengahnya saja.

“Bu bidan, kami menghaturkan banyak terimakasih ibu telah membantu persalinan Windi dengan baik, lancar dan aman. Namun demikian ibu masih membantu kami dengan hanya membayar setengah dari total biaya yang seharusnya. Sungguh saya tidak bisa berucap apa-apa lagi kecuali doa tulus semoga segala kebaikan bu bidan juga bu Aminah terbalas Allah dengan rizki yang berlimpah dan berkah bu,” ucap ibu Windi penuh haru.

“Aamiin. O ya ini obat dan vitaminnya bu. Aturan minum sudah tertera. Nanti seminggu lagi Windi harus kontrol lagi ya bu,” ucap bu bidan dengan ramah.

Bu bidan menyerahkan tas bayi sebagai paket dari bu bidan kepada ibu Windi.

Windi berjalan pelan dituntun bu Aminah menuju mobilnya, sedangkan bayinya digendong ibu Windi sambil juga menenteng tas bayi. Tas bayi yang baru ditentang bu Aminah. Tak lupa mereka pamit bu bidan yang disambut anggukan dan senyuman.

Tak lama mobil telah sampai di halaman kios pak Suji. Lalu semua turun dan berjalan masuk gang jalan sekitar sepuluh meter telah sampai di rumah Windi. Ayah Windi menyambut cucunya dengan senyum namun ada ketegangan sedikit, lebih tepatnya grogi telah menjadi kakek muda.

Melihat Windi dan ibunya datang menggendong seorang bayi mungil, para tetangga mulai ada yang bisik-bisik entah apa yang mereka bisikan. Namun yang jelas ibu Windi sekeluarga sudah tutup telinga tak hiraukan apa omongan tetangga. Meraka pun juga ada yang berbisik, “mau-maunya bu Aminah menolong mereka. Sok perhatian,” namun bu Aminah pun juga tak hiraukan bibir nyinyir mereka.

Kabar tentang Windi telah melahirkan bayi tanpa suami tentu saja begitu mudah menyebar. Keluarga pak Yuli juga pun akhirnya mendengar berita itu. Namun hati pak Yuli masih membantu, tidak mau tahu kalau anak Windi adalah juga cucunya secara biologis. Berbeda dengan Rio, begitu ingin ia melihat anaknya yang telah ia titipkan di Rahim Windi. Ingin rasanya ia lari ke rumah Windi, namun apa daya ia hanyalah seorang anak yang tak berdaya melawan ayahnya sendiri. Ia hanya bisa berharap suatu saat bisa melihat anaknya. Tidak menutup kemungkina hal itu terjadi karena rumahnya tak jauh, hanya di ujung sini dan ujung sana. Kini Rio sudah kelas tiga SMP. Seharusnya Windi juga, namun sementara Windi tidak memikirkan sekolahnya. Walau sekolah tidak mengeluarkan namun sulit bagi Windi untuk bisa fokus sekolah.

*****

Ayah Windi memberi nama cucunya Nugroho Wicaksono. Nama yang bagus yang mengandung harapan kelak tumbuh jadi pria yang bijaksana. Karena kekompakan pak Suji sekeluarga membuat Nugi panggilan cucunya itu tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar.

Windi yang karena kondisi yang menempanya, menjadikan ia seorang wanita yang berkepribadian matang. Ia memang akhirnya tidak sampai selesai di SMPnya, namun kemudian ia ikut Kejar Paket B. Setelah mendapatkan sertifikat, ia kemudian melanjutkan sekolah di SMK jurusan Tata Boga. Dia harus pintar mengatur waktunya antara sekolah dan mengurus Nugi putranya. Karena statusnya yang masih single, walaupun sejatinya sudah menjadi ibu, sekolah tidak mempermasalahkannya. Ia bahkan masuk katagori siswi yang pintar. Nilainya tidak kalah dengan mereka yang hanya mikir sekolah saja.

Sebagai single parent ia berusaha keras tidak membebani orangtuanya dalam membesarkan Nugi. Ia belajar banyak hal positif melalui internet. Ia belajar membuat masakan yang kemudian ia coba tawarkan secara on line. Alhamdulillah berkat ketekunannya, masakannya mulai dikenal dan disukai banyak orang. Uang hasil jualan on line ia kelola sedemikian rupa, supaya bisa menyisihkan untuk biaya hidup dirinya dan putranya.

Sekarang Nugi sudah berusia lima tahun. Saatnya dia masuk TK. Namun Nugi belum memiliki Akta Kelahiran. Anak Windi dimasukan ke Kartu Keluarga pak Suji - kakeknya. Windi harus menguruskan Akta kelahiran anaknya. Berbekal Surat keterangan dan formulir kelahiran dari kelurahan, KK, KTP, foto copy KTP dua orang saksi yang usianya 21 tahun ke atas , ditemani ayahnya dan juga paman Windi dari ibu sekaligus yang nanti akan menjadi saksi untuk mengurus Akta Kelahiran Nugi di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten (Dukcapil).

Tidak terlalu bertele-tele akhirnya Akta Kelahiran Nugroho Wicaksono pun jadi. Karena Windi melahirkan di luar pernikahan maka dalam Akta Nugi hanya tercantum anak ibu. Apa pun itu, kini Nugi sudah resmi memiliki Akta kelahiran. Sebagai ibu yang sekaligus ayah, Windi telah melakukan yang terbaik untuk anaknya. Ia siap berkorban apa saja untuk membesarkan buah hatinya.

*****

Hari itu Windi belanja di warung membawa Nugi. Di warung itu juga kebetulan ada bu Yuli ibunya Rio. Saat melihat Nugi bu Yuli sempat terkejut karena persis kecilnya Rio. Namun karena banyak orang juga yang belanja sehingga keterkejutannya tidak begitu nampak. Kebetulan belanjanya sudah selesai sehingga ia langsung pulang setelah membayar belanjaannya. Ibu-ibu yang lain sempat bertanya-tanya dalam hati ada apa dengan bu Yuli.

Bersambung

Maguwoharjo, 29/01/2021

Sumber gambar: id.pinterest.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post