Windi - Bagian 16 (Tamugusi ke - 233 )
Windi
Bagian 16
Oleh: Siti Nurhayati
“Tumben kamu yang belanja Windi, ibumu kemana?” tanya bu Surtini pemilik warung.
“Ibu baru nanggung tadi bu jadi minta tolong Windi untuk belanja bahan sayur lodeh,” jawab Windi sambil mencari bahan-bahan yang diperlukan.
“Buu...Nugi mau jajan,”
“Iya boleh. Nugi mau apa?
“Nugie mau susu Milo sama wafer,” jawabnya sambil menunjuk jajanan yang dia mau.
Kemudian Windi melanjutkan memilih bahan sayur lodeh, plus tahu tempe sama kerupuk. Setelah dirasa cukup Windi membayar semua belanjaannya. Total habis dua puluh lima ribu rupiah. Setelah membayar Windi dan anaknya pulang melewati depan rumah bu Aminah.
Begitu Windi pulang, beberapa ibu yang masih belanja pada bisik-bisik kalau anak Windi sudah besar dan cakep, mirip Rio. Bu Surtini pemilik warung mengingatkan, “ibu-ibu kalau mau belanja cepetan. Jangan ngrasanin orang. Tidak baik loh. Ayo cepet belanja, pulang terus masak.”
“He he ...iya bu Surti,” kata ibu-ibu sambil cengengesan.
Bu Yuli sesampainya di rumah tidak langsung masak. Belanjaannya diletakkan begitu saja di meja dapur. Ia kemudian duduk dan merenung. “Kok anaknya Windi persis Rio saat seumuran dia. Jangan-jangan memang benar itu anaknya Rio,” bisiknya dalam hati.
Malam menjelang tidur, bu Yuli mencoba untuk menceritakan tentang hal itu pada suaminya.
“Ayah...ada yang mau ibu ceritakan. Ibu berharap ayah jangan salah paham ya,” ucap bu Yuli pelan-pelan karena sudah malam.
“Cerita apa to bu?” jawab pak Yuli juga pelan.
“Tadi tuh saat ibu lagi belanja di tempat bu Surtini, ibu lihat Windi juga belanja. Dia sama anaknya. Begitu ibu lihat anak itu, hati ibu langsung berdesir. Anak itu persis Rio saat seumuran dia,” ujar bu Yuli berhati-hati sambil melihat reaksi suaminya.
“Bu...ibu jangan berhalusinasi yah. Anak itu mau mirip siapa kek...yang jelas itu bukan anak Rio. Kalaupun Rio mungkin juga pernah melakukan tapi ayah yakin Rio bukan satu-satunya pria yang menyentuh Windi,” ujar pak Yuli kokoh.
“Ayah...kenapa sih ayah begitu kejam menuduh putri pak Suji serendah itu. Ibu mulai menyadari bahwa itu keliru. Kita telah berlaku dzolim pada Windi dan orangtuanya,” ucap bu Yuli mencoba mengingatkan sikap suaminya yang sangat tidak baik.
“Terserah ibu. Pokoknya ayah tidak mau memikirkan hal itu. Biarkan Rio kuliah, jangan sampai pikiran terganggu oleh apa yang ibu ceritakan barusan tentang Windi. Dia sudah melupakan Windi demi masa depannya,” kata pak Yuli sambil mengingatkan istrinya untuk tidur.
*****
Windi dari hari ke hari semakin menjadi wanita yang matang. Ia semakin lincah menekuni bisnis on line. Ia juga mengikuti berbagai pelatihan terkait dengan bidangnya. Ia bahkan tak segan mengikuti lomba kuliner dalam berbagai event.
Sebenarnya ada beberapa pria yang mencoba mendekati Windi dan bersedia menjadi ayah sambung Nugie. Namun hatinya sudah terlanjur dingin dengan laki-laki. Baginya cukuplah sekali ada laki-laki yang pernah menyentuhnya dan menjadikannya seorang Windi yang seperti sekarang ini. Sangat mandiri dan terampil menjadi single parent. Ia sudah cukup bahagia dengan keberadaannya. Dia abaikan kebahagiaan pribadinya demi anaknya.
Nugi tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar. Kini ia sudah kelas enam SD, sebentar lagi ia akan memasuki SMP. Tapi kakek Nugi pingin cucunya lanjut sekolah di pondok pesantren agar terjaga pergaulannya.
Windi mulai mencari informasi tentang pondok pesantren yang cocok dan bagus untuk Nugi lanjut belajar. Ia menghendaki ponpes yang bukan semata belajar agama namun juga ilmu umum yang memadai. Karena ia ingin nantinya Nugi juga bisa masuk kuliah di perguruan tinggi yang bagus.
Rio sudah menjadi sarjana ekonomi. Ia bahkan sudah bekerja di sebuah bank. Hingga sekarangpun Rio belum berkeluarga. Ternyata Rio pun susah untuk menerima wanita lain di hatinya. Ia masih berharap bisa sambung lagi dengan Windi walaupun itu sangat kecil kemungkinan karena Windi seolah sudah menutup diri untuk hidup berumahtangga.
Windi hendak membuka rekening untuk Nugi. Ia tidak pernah menyangka kalau Rio bekerja di Bank tempat ia akan membuka rekening. Kebetulan Rio bertugas di Customer Service. Saat panggilan nomor antriannya ternyata ia harus dilayani oleh Rio. Berdua terkejut, walaupun sudah lama tidak saling bertemu namun tidak mungkin mereka saling lupa wajah dan nama.
“Selamat pagi bu. Saya Rio. Ada yang bisa saya bantu?” ucap Rio sambil menatap tajam Windi.
Bersambung
Maguwoharjo, 30/01/2021
Sumber gambar: id.pinterest.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
