Windi - Bagian 17 ( Tamugusi ke - 234 )
Windi
Bagian 17
Oleh: Siti Nurhayati
Hati Rio dan juga Windi bergetar saat beradu pandangan. Terlebih saat melihat anak Windi yang akan dibukakan rekening tabungan anak, hatinya bilang , “Anakku sudah besar dan tampan.” Namun karena ini di Bank yang sedang banyak orang mengantri, maka Rio tetap bersikap profesional. Demikian juga Windi tidak menunjukkan sikap yang kontra produktif yang bisa mengundang perhatian orang bahwa ada sesuatu di antara mereka. Namun demikian Rio bersyukur bahwa doa-doanya agar suatu saat bisa terhubung lagi dengan Windi terjawab hari ini. Rio sangat berharap bahwa ada komunikasi lanjut setelah ini. Terlebih ini pembukaan rekening baru sehingga Rio akan mengetahui identitas Windi dan anaknya.
“Selamat pagi pak. Ini saya bermaksud membuka Tabungan untuk anak saya. Apa bisa?” ujar Windi dengan dada yang gemuruh namun berusaha agar bibir tidak bergetar. Dia menarik napas berusaha tenang.
“Bisa sekali bu. Apa ibu sudah tahu persyaratan untuk membuka Tabungan Anak? Kalau boleh tahu berapa usia anak ibu?” tanya Rio dengan sepenuh hati ingin tahu. Ini sungguh kesempatan emas bagi Rio untuk mengetahui jati diri anak Windi, wanita yang telah mengisi hatinya sejak duduk di bangku kelas dua SMP.
“Anak saya berusia dua belas tahun, kelas enam SD. Apakah saya boleh tahu untuk program tabungan anak dan syaratnya pak?” kalimat Windi terucap dengan lebih lancar karena dia sudah bisa menguasai diri. Awalnya tadi ingin mengurungkan niat menabung di bank ini, namun malu dengan orang-orang yang ada di ruang itu sehingga ia tetap melanjutkan.
“Baiklah bu saya jelaskan. Bank ini memiliki tabungan anak, yaitu Taplus Anak. Jenis tabungan ini ditujukan untuk anak usia 0 hingga 17 tahun. Persyaratan untuk bisa mendapatkan tabungan anak Taplus Anak.
Mengisi formulir Aplikasi Data Nasabah (CIF) dan Formulir Pembukaan Rekening yang ditandatangani oleh orangtua atau anak. Mengisi Formulir Persetujuan Pembukaan Rekening dan Pelaksanaan Transaksi yang ditandatangani orang tua. Melampirkan fotokopi Akte Kelahiran/Kartu Pelajar/Paspor/Kartu Keluarga Melampirkan fotokopi KTP/SIM/Paspor orang tua. Setoran awal minimal Rp100 ribu.Adapun keunggulan yang dapat diperoleh dari tabungan Taplus Anak, yaitu:
Membiasakan anak untuk belajar menabung sejak dini. Kartu debit atau ATM dapat didesain menggunakan foto anak. Bebas biaya pengelolaan rekening. Orang tua tetap dapat memantau transaksi Anak karena ada notifikasi SMS yang akan dikirimkan ke ponsel orangtua. Suku bunga Rp100 ribu hingga Rp5 juta sebesar 1 persen dan di atas Rp5 juta sebesar 1,5 persen. Jika usia anak sudah 17 tahun, maka rekening otomatis akan menjadi Taplus Muda dengan nomor rekening yang sama. Akan mendapatkan promo-promo yang bekerja sama dengan Bank ini.“Apakah sudah jelas ibu?” tanya Rio ingin meyakinkan bahwa Windi sudah bisa memahami, sehingga lebih mantap untuk mengambil keputusan.
“Iya pak sudah jelas,” jawab Windi mantap sambil tersenyum dan mengangguk
“Apakah ibu sudah membawa fotocopy KTP dan Akta kelahiran anak?” tanya Rio dengan ramah.
“Iya pak saya sudah membawanya,” jawab Windi sambil menyodorkan FC KTP dan Akta kelahiran Nugi. Nugi yang duduk di samping ibunya, hanya memperhatikan percakapan Rio dan Windi tanpa mengganggunya sama sekali.
Windi mengisi formulir yang dipandu oleh Rio. Setelah selesai ditandatangani kemudian menyerahkannya kepada Rio untuk diinput di computer. Kemudian Windi menyerahkan uang setoran awal sebesar lima ratus ribu rupiah. Setelah diproses selesai kemudian Windi dan Nugie pamit pulang dengan memegang buku tabungan Taplus dan juga kartu ATM yang tertera nama Nugroho Wicaksono.
Rio berdiri dan tersenyum sambil mengucap sampai ketemu lagi bu. Setelah itu ia melanjutkan pekerjaannya dengan memanggil nomor antrian berikutnya. Dalam hati Rio bersorak karena telah mengantongi identitas Windi dan anaknya. Namun sempat sedih saat melihat Akte kelahiran Nugi hanya tercantum nama ibunya tanpa nama ayahnya.
Sepanjang perjalanan pulang, hati Windi dag dig dug tak karuan. Dia hanya diam saja membonceng Nugi dengan scoopynya. Kemudian Nugi bertanya, “Ibu kok diam saja to bu? Biasanya ibu ngobrol sama Nugi kalau berboncengan. Apa baik-baik saja kan?”
“Iya ibu baik-baik saja. Ibu hanya sedang berfikir belum mengirim pesanan kacang bawang ke langganan ibu,” jawab Windi sekenanya.
Setelah menempuh perjalanan 15 menit Windi dan ibunya sampai di rumah. Ia mematikan mesin motor yang terpakir di halaman rumah. Mereka berdua turun lalu masuk rumah. Di rumah ada ibunya yang sedang seterika laundry langganannya.
“Sudah selesai Win urus tabungan Nugi?” tanya ibunya.
“Iya bu sudah selesai. Ini buku tabungan dan ATMnya. Alahmdulilah Nugi sudah punya tabungan sendiri. Tadi saya setoran awal sebanyak lima ratus ribu rupiah,” jawab Windi dengan gembira.
Nugi langsung duduk nonton TV. Windi ngomong pelan-pelan ke ibunya,” Bu tahu nggak. Windi tadi ketemu Rio.”
“ketemu dimana dan acara apa?” tanya ibunya penasaran.
“Sst...bu jangan keras-keras ntar Nugi dengar,” ucap Windi mengingatkan ibunya. Ibunya mengangguk.
Windi melanjutkan ceritanya, “Ternyata bu ... Rio itu sekarang jadi pegawai Bank. Dia di bagian CS. Dia tadi yang melayani Windi dan Nugie membuatkan buku tabungannya. Tapi jangan bilang ayah dulu ya. Windi takut ayah marah.”
“Windi...kamu masih punya rasa sama Rio?” tanya ibunya menyelidik.
“Entahlah bu ... Windi takut ngomongin itu. Jujur ...tidak pernah lagi ada pria yang singgah di hati Windi. Pengalaman menjalin hubungan asmara dengan Rio di usia yang belum dewasa saat itu menoreh luka yang dalam sehingga membuat trauma untuk mikir masalah seperti itu. Yang ada di pikiran Windi adalah ingin mengabdikan hidup hanya untuk mengantar Nugi tumbuh hingga ia dewasa dan mandiri,” jawab Windi menerawang jauh.
“Iya Windi ibu paham. Tapi jika nanti Nugi bertanya siapa ayah sejatinya kamu mau bilang apa? Memang selama ini ada figur ayah yang menyayanginya yakni kakeknya. Tapi apakah kamu tidak mencoba membuka hati jika Rio ingin benar-benar bertanggungjawab terhadap Nugi. Sekarang ia kan sudah dewasa sudah bekerja sudah mandiri. Dan dia juga kan belum menikah, ibu yakin Rio masih mengharapkanmu,” ucap ibunya mencoba membuka hati Windi.
“Sudahlah bu...sementara kita tutup masalah ini. Windi belum mengemas pesanan kacang bawang pelanggan. Bu Dewi minta dikirim kacang bawang dengan kemasan seperempat kilo gram sebanyak sepuluh,” ujar Windi sambil mengambil kacang bawang yang sudah digoreng tinggal dikemas saja.
Malam hari saat mau istirahat, tetiba gawainya berbunyi tanda ada pesan masuk. Kemudian ia mengambil gawai yang ada di meja lalu di buka.
Bersambung
Maguwoharjo, 31/01/2021
Sumber gambar: id.pinterest.com
**(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
