Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Windi - Bagian 2 (Tamugusi ke - 219)
gadis bingung. id. pinterest.com

Windi - Bagian 2 (Tamugusi ke - 219)

Windi

Bagian 2

Oleh: Siti Nurhayati

Sesampainya di rumah, Bu Aminah meletakkan tas belanja di dapur. Ia ambil wadah kemudian mengeluarkan belanjaan dari tas lalu meletakkannya di baskom plastik. Suami bertanya, “Beli pisang kapok kuning setengah matang tidak bu?”

“Maaf pak...lupa tidak saya beli. Tadi ketemu mbak Santi diajak ngomongin tetangga kita malah jadi lupa mau beli pisang,” jawabnya sambil mengeluarkan belanjaan dari tas.

“Ngomongin tetangga kita? Tentang apa sih? Di pasar kok nggosip. Tidak baik loh bu.” tanya suami yang duduk di kursi sambil juga mengritik.

Ia kemudian juga duduk di kursi satunya lalu bilang pelan-pelan, “Bapak ada dengar isu kalau Windi putri pak Suji itu hamil tidak pak?”

“Astaghfirullah...ibu dengar dari siapa? Bapak tidak tahu apa-apa tentang hal itu,” jawab suami sambil menghabiskan kopi yang sudah dingin tinggal separoh gelas.

“Ibu juga kaget saat tadi di pasar tetiba ditanya hal itu oleh mbak Santi tetangga orangtua pak Suji di dusun seberang sana,” jawabnya pelan-pelan agar tidak ada yang mendengar.

“Bukannya putri pak Suji masih kecil to bu. Kalau tidak salah masih duduk di bangku SMP. Masa sih bisa berpacaran hingga melampaui batas?” ucap suami yang juga masih tidak percaya dengan isu tersebut.

“Iya pak...Windi baru kelas dua SMP. Tapi siapa ya yang tega membuatnya berbadan dua? Kasihan masih sekolah, masih di bawah umur. Baru umur empat belas tahun, sangat beresiko jika harus mengandung dan melahirkan,” jawabnya prihatin dan sedih.

“Windi kan pakai jilbab biasa lewat depan rumah kita jalan kaki belanja di warung sebelah kita to bu? Anaknya memang tinggi besar seperti bukan anak SMP,” suami mencoba memastikan.

“Iya betul pak. Anaknya sepertinya tidak terlalu banyak omong. Kalau papasan paling cuma mengangguk dan senyum sedikit. Makanya saya heran jika isu ini benar adanya,” jawabnya dengan wajah yang bingung dan heran.

“Bu jaga anak-anak kita. Mereka sudah gadis-gadis jangan sampai salah gaul,” suaminya mengingatkan.

“Iya dong pak. Kita berkewajiban bukan hanya membiayai mereka studi, tapi juga membuat mereka nyaman dengan kita, sehingga tidak cari-cari kenyamanan di luaran yang membuat mereka bisa jatuh pada kenyamanan semu yang membahayakan masa depan. Yang penting juga adalah mendoakan, minta pada Allah melindungi mereka di mana pun berada dari perbuatan syetan,” jawabnya dengan sepenuh hati.

“Ya sudah bu. Ibu masak dulu. Bapak ada kerjaan yang harus diselesaikan di depan.”

“Iya pak. Ibu masak dulu. Semoga masalah Windi bisa ada solusi. Kasihan dia menjadi korban pergaulan yang lepas kontrol.”

“Iya bu.” Sahut bapak sambil bangkit dan menuju ke ruang kerjanya di depan.

Bu Aminah meneruskan pekerjaan dapur. Ia masak sayur sop, goreng tahu tempe dan ayam. Tidak lupa sambal tomat kasih trasi dikit. Buahnya cukup papaya Bangkok yang dagingnya tebal dan warna kuning kemarahan. Simple tapi keluarga menyukainya. Semua sudah terhidang di atas meja makan, tinggal santap saja.

Setelah selesai semuanya ia membuka gawai. Ia membuka WA grup ibu-ibu RT kalau ada berita tentang Windi. Ia jadi ikut penasaran ada isu dari dekat rumah tapi justru tahunya dari orang jauh. Akhirnya saya temukan grup yang dimaksud, notifnya sudah sangat banyak. Namun isu terkait Windi tidak saya temukan. Ternyata bisik-bisik tetangga memang tidak ada yang terekam di grup ibu-ibu RT. Semua bersikap hati-hati. Karena memang ini benar-benar masalah sensitif dan menyangkut aib. Dan mereka juga tidak ada yang berani omong masalah tersebut di grup karena ada ibu Suji juga di dalamnya.

Kasihan ayah dan bunda Windi. Pasti perasaannya kacau, bercampur antara marah, malu, menyesal, dan seterusnya. Terlebih lagi Windi juga pasti tidak tahu harus berbuat apa. Kecerobohannya berakibat fatal. Walau bagaimana pada kasus hamil di luar nikah yang jadi korban adalah pihak perempuan. Sungguh bu Aminah jadi ikut khawatir dengannya. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Orang dengan psikologis tertekan jika tidak ada pendampingan yang baik akan bisa melakukan apa saja.

Bersambung

Maguwoharjo, 15/01/2021

Sumber gambar: id.pinterest.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post