Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Windi - Bagian 3 (Tamugusi ke - 220)
Gadis bingung. id.pinterest.com

Windi - Bagian 3 (Tamugusi ke - 220)

Windi

Bagian 3

Oleh: Siti Nurhayati

Setelah mencoba mencari informasi tentang apa yang terjadi pada Windi dari beberapa orang, bisa disimpulkan bahwa itu bukan isapan jempol, namun benar adanya. Akhirnya bu Aminah memberanikan diri dengan niat tulus bukan untuk interfensi urusan orang, namun barangkali ia bisa membantu setidaknya bisa menjadi teman untuk ibunya Windi dan yang paling penting membantu menyelamatkan masa depan Windi.

Bu Aminah dengan hati-hati kirim pesan WA ke ibunya Windi. Ia memilih diksi yang pas agar tidak menyinggung perasaannya, namun justeru membuatnya percaya bahwa ia bisa menjadi tempat berbagi beban yang menggelayuti pikiran dan hatinya sehingga menjadi lebih ringan. Ia diijinkan untuk ke rumahnya mendengarkan duduk perkara yang sebenarnya. Lebih baik mendengar dari narasumber yang pertama daripada mendengar dari orang lain yang sering malah bias.

Sore hari ia bertandang ke rumah bu Suji yang terletak di belakang ke barat sedikit dari rumahnya. Rumahnya tidak besar namun cukup bersih dan nyaman. Ia dipersilahkan duduk di ruang tamu. Ayah Windi seperti biasa menjaga tempat usaha tambal ban juga menjual bensin di pinggir jalan. Tersedia juga di kiosnya oli dan ban dalam sepeda motor.

“Maaf bu... rumah saya sempit. Tapi alhamdulillah bu ini rumah sendiri jadi tidak perlu mengontrak. “

“Iya bu... bersyukur.” kata bu Aminah sambil duduk berhadapan.

Ibu Windi mulai menceritakan tentang putri tunggalnya. bu Aminah mendengarkan dengan seksama tanpa menyela apalagi menghakiminya.

Windi bingung sudah dua bulan tidak datang bulan yang artinya usia kandungan memasuki bulan ketiga, namun ia masih belum berani untuk bilang pada siapa pun termasuk orangtuanya. Ia masih berharap bahwa bulan itu segera datang meskipun lelah ia menunggu kehadirannya. Ia menyadari bahwa telah melakukan sebuah kekhilafan yang menghalangi bulan yang biasa datang rutin setiap bulan tidak datang lagi.

Rasa bersalah itu terus saja menghantuinya sehingga ia takut dan khawatir sesuatu yang tak diinginkan terjadi benar-benar akan terjadi. Ia berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa sehingga kedua orangtuanya tidak menyadari bahwa gadis kecilnya akan memberi mereka cucu.

Malam itu saat sedang makan malam tetiba Windi seperti masuk angin. Ia mual-mual yang tidak bisa ditahan lagi. Ia kemudian lari ke kamar mandi untuk muntah. Namun meski ia berusaha untuk muntah tidak keluar juga. Ayah kemudian meminta ibu Windi untuk memeriksanya di kamar mandi. Ibunya mengetuk pintu kamar mandi sambil berkata, “Windi...buka pintunya. Kamu kenapa nak? Kamu mungkin masuk angin. Sini keluar dulu biar ibu balur minyak kayu putih di perutmu.”

“Windi tidak apa-apa kok bu, cuma mual-mual tapi gak bisa muntah. Paling sebentar juga mualnya hilang bu,” sahut Windi dari dalam kamar mandi.

Windi membuka pintu kamar mandi kemudian disambut ibunya yang penuh kekhawatiran putrinya sakit. Dibimbingnya ia ke kamar tidurnya, namun dia menolak. Dia mau kembali ke meja makan meneruskan makan malamnya. Berdua menuju ke meja makan dan meneruskan makan bersama ayah dan adik Windi juga.

Adik Windi cowok masih TK, sambil makan ia bertanya, “Kakak kenapa lagi makan malah mau muntah?”

Ibunya menyahut, “Kakak itu sakit perut sedikit karena suka makan pedes. Sebentar lagi juga sembuh.”

“Iya kakak suka banget sambel bu ... kalau aku tidak suka pedas. Aku suka yang manis-manis,” kata adiknya sambil terus menyendokkan nasi ke mulutnya.

Windi duduk di samping ibunya meneruskan makannya tapi sambil terus memegang HPnya. Ayahnya menegur, “Windi...makannya dihabiskan dulu. Jangan main HP terus, tidak baik seperti itu.”

Windi kemudian meletakkan HPnya lalu menyendokkan makanan ke mulutnya. Ibunya juga memperhatikan Windi yang kelihatan agak pucat dan lesu. Sambil meneruskan makannya ibunya bilang, “Ayo dihabiskan nasinya biar kamu lekas sehat. Kamu tidak apa-apa kan? Besok ke puskesmas kalau masih sakit.”

“Tidak usah ke puskesmas bu. Windi tidak apa-apa kok bu. Cuma mual dikit nanti juga sembuh,” sahut Windi cepat-cepat sambil berusaha menghabiskan nasinya.

Akhirnya mereka selesai makan malam. Ibunya membereskan meja makan dan membawa piring kotor ke tempat cuci piring. Ayahnya bangkit kemudian menyalakan TV dan menontonnya. Doni, adik Windi minta HP ayahnya untuk main games. Ayahnya menyerahkan sambil bilang, “Jangan lama-lama ya...nanti kasih ke ayah lagi terus kamu bobok. Jangan lupa sikat gigi dulu sebelum bobok.”

“Iya ayah,” kata Doni sambil memegang benda pipih itu dan mencari games kesayangannya “Po”

Ibunya mencuci piring kotor, sedangkan Windi rebahan di kamarnya sambil bermain HP. Tapi rasa mual itu datang lagi, namun sebisa mungkin dia menahannya agar tidak terdengar saura “hooooa” dia membenamkan wajahnya ke bantal. Pintu kamarnya telah ditutup walau tidak dikunci. Karena nanti kalau Doni masuk untuk tidur dia tinggal membuka pintu saja.

Windi berdoa dalam hati agar segera bulan itu datang. Namun bukannya datang malah perutnya yang sering mual-mual. Dia mencoba menghubungi teman cowoknya untuk memberi tahu kalau ia tidak datang bulan dan sekarang sering mual-mual.

Temannya membalas, “Sabar mungkin sebentar lagi juga kamu datang bulan. Nanti kalau tidak datang juga coba minum jamu yah.”

“Jamu apa? Memang kamu tahu jamu terlambat datang bulan?” tulis Windi untu membalas WAnya.

“Windi...kamu sudah tidur nak?” suara ibunya tetiba mengagetkan dirinya.

Windi menarik selimutnya dan pura-pura tidur. Ibu melongok dari pintu yang tidak terkunci kemudian balik menuju TV dan nonton bareng suami. Doni pun sudah bosan main games lalu mengembalikan HP ke ayah. Ia menyusul ke kamar kakak lalu tidur. Dia lupa pesan ayah untuk gosok gigi sebelum bobo.

Bersambung

Maguwoharjo, 17/01/2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post