Windi - Bagian 4 (Tamugusi ke 221)
Windi
Bagian 4
Oleh: Siti Nurhayati
Doni sudah tertidur pulas di samping Windi. Mengetahui adiknya telah tertidur, ia mengambil gawainya lagi untuk melanjutkan chatingan dengan teman cowoknya.
“Kamu belum jawab pertanyaan aku...jamu apa untuk lancar bulan?”
“Kirain kamu udah tidur makanya aku tidak jawab. Aku lagi mengerjakan tugas Bahasa Indonesia.”
“Aku juga belum mengerjakan banyak tugas sekolah. Aku tidak bisa tenang, sebab bulanku belum datang-datang juga. Aku takut...*amil.”
“Ih kamu Win...jangan omong gitu dong. Aku jadi takut nih.”
“Abis kamu sih...kenapa juga waktu kita lagi mengerjakan tugas bersama malah kamu ...” Windi sengaja tidak meneruskan kalimatnya.
“Apa Win...kok omong belum selesai malah berhenti?” balas temannya di WA.
“Coba waktu itu kamu tidak memperlihatkan video itu...kan pikiran kita tidak ngelantur.” Balas Windi menyesalkan.
“Iya Win...habis aku juga penasaran sih kepo banget pingin lihat video yang kata teman aku asyik banget.” balasnya.
“Mestinya kamu langsung hapus saja kalau menerima kiriman yang aneh-aneh.” balas Windi.
“Iya aku maaf...besok-besok kalau ada kiriman yang aneh-aneh aku langsung hapus saja,” temannya berjanji.
“Yah...telat kamu bersikap begitu. Gegara kamu buka-buka yang gak jelas gitu, aku yang jadi korban nih.” balas Windi mencecar.
“Tapi Win...bukankah kita saling menyayangi?” tanya temannya.
“Iya... aku juga sayang banget sama kamu. Tapi kan kita masih kecil, mestinya belajar dulu. Pikirkan sekolah dulu untuk masa depan yang lebih baik.”
Jam sepuluh malam, Windi mendengar ibunya berjalan ke arah pintu kamarnya. Sepertinya ibu memastikan anak-anak sudah tidur apa belum. Buru-buru Windi menyembunyikan gawainya di balik bantal dan pura-pura tidur pulas. Ibu hanya membuka pintu sedikit dan melihat anak-anak sudah tidur, kemudian balik badan berjalan menuju kamarnya untuk tidur.
Temannya masih melanjutkan chating. “Win...kamu sudah tidur?”
“Belum...tadi ibu mengecek aku sudah tidur apa belum. Aku pura-pura tidur dan gawai aku sembunyikan di balik bantal.”
“Bagus lah. O ya besok aku bantu kamu mengerjakan tugas-tugas yang harus dikirim ke masing-masing guru mapel yah.”
“Iya...terimakasih banget yah...kamu sangat perhatian. Kamu selalu hadir saat aku membutuhkan,” tulis Windi sambil membubuhkan emoticon “love” dan “senyum”.
“Ya iya lah Win...kan aku sudah bilang kalau aku tuh sayang banget sama kamu.”
“Iya aku tahu...tapi...” Windi sengaja tidak meneruskan kalimatnya.
“Tapi apa Win...apa kamu belum yakin kalau aku tuh cinta dan sayang hanya sama kamu,” tulis temannya lengkap dengan emoticon “love” dan “kiss”
“Tapi aku khawatir orang tua kita tidak menyetujui kalau kita pacaran. Aku anak orang tidak punya. Ayahku hanya tukang tambal ban, ibu hanya ibu rumahtangga,” tulis Windi dengan emoticon “sedih”.
“Windi ...ibuku juga cuma di rumah mengurus rumahtangga.”
“Tapi kan ayahmu pegawai negeri.”
“Halah...ayahku juga cuma pegawai biasa. Staf saja di sebuah perguruan tinggi.”
‘Sudah dulu ya...aku sudah mengantuk. Jangan lupa pekerjaanmu kirim ke aku yah nanti aku ganti namamu dengan namaku.” tulis Windi.
“Iya sayang...tapi biar guru tidak curiga nanti diedit sedikit ya agar tidak persis.”
“Kamu editkan sekalian dong. Kamu tahu kan aku tuh bawannya males, lemes, mual-mual terus.”
“Ok sayang...sekarang kamu istirahat dulu yah. Besok pagi aku kirim ke kamu.” tulis temannya.
“Ya baik. Terimakasih ya sayang...love you.” tulis Windi.
Windi meletakkan gawainya di balik bantal. Dia kemudian berjalan ke kamar mandi untuk BAK. Setelah itu dia pun terlelap dengan perasaan lega karena tugas-tugas akan dikerjakan oleh temannya.
*****
Sebelum azan subuh, ibu Windi telah bangun. Setelah dari kamar mandi, ibu memasuki kamar tidur anaknya. Melihat gawai yang hampir jatuh,ibu mengambilnya. Tetiba ibu ingin melihat WA Windi.
Ibu melirik Windi tertidur sangat pulas, kemudian mulai dinyalakan gawainya dan terbacalah seluruh chatingan Windi dengan temannya. Sayangnya tidak tahu siapa nama temannya itu, karena tertulis dalam WA adalah “Sayang”. Melihat Windi bergerak miring, buru-buru ibu kembalikan gawainya di bawah bantal.
Ibu Windi keluar kamar dan duduk di kursi ruang tengah, beristighfar sambil bernapas dalam-dalam. Bulir-bulir kristal mengalir deras... begitu terkejut dan...gemetar. Namun ia berusaha untuk tenang karena takut suaminya terbangun dan marah.
Bersambung
Maguwoharjo, 18/01/2021
Sumber gambar: id.pinterest.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
