Windi - Bagian 5 ( Tamugusi ke - 222 )
Windi
Bagian 5
Oleh: Siti Nurhayati
“Ya Allah...mengapa semua ini menimpa keluargaku. Tak pernah membayangkan di usiaku yang masih muda harus menjadi nenek dengan cara yang tidak seharusnya. Ya Allah...Engkau Maha Tahu segalanya yang terbaik untuk hamba-Mu. Jika memang Engkau sedang menguji keimananku, beri hamba kekuatan, kesabaran dan kemampuan mengatasi masalah ini,” doa ibu Windi selepas tahajud sambil bersimpuh berurai airmata.
Terdengar sayup suara azan dari masjid. Tak lama suaminya bangun. Setelah wudu mereka sholat berjama’ah di kamar. Tidak terlalu luas, namun bisa untuk berjama’ah berdua. Suami balik lagi ke tempat tidur, sedang ibu Windi ke dapur untuk merebus air.
Ibu ke kamar Windi melihat kedua anaknya masih tidur. Ia bangunkan Windi untuk sholat subuh. Agak susah dibangunkan namun akhirnya bangun. Ia berjalan ke kamarmandi. Mualnya datang lagi. Kali ini suaranya terdengar keras, “Hoooaaaaakh...hoaaaakh....”.
“Windi...kamu kenapa,” tanya ibunya dengan cemas.
“Gak tahu ini bu ... sedikit mual. Tapi bentar juga hilang kok bu,” jawab Windi mencoba menghapus kecemasan ibunya, walau dirinya juga tak kalah cemasnya.
“Ya sudah buruan wudu terus sholat. Ini ibu buatkan teh panas untuk menghilangkan mual-mual.”
“Iya bu terimakasih,” sahut Windi sambil keluar terus sholat di kamarnya.
“Ya Allah...ampuni hamba. Jangan hukum hamba seberat ini. Aampuni semua kekhilafan hamba ya Allah. Windi telah melakukan dosa besar,” rintih Windi dalam doanya selepas sholat subuh.
“Wiiin...ayo kemari. Minum tehnya. Mumpung masih hangat.” ucap ibunya dari ruang makan.
Di luar masih gelap. Jarum pendek di jam dinding menunjuk ke 5 jarum panjang ke angka 3. Ayah dan Doni masih. Kesempatan untuk bisa ngobrol sama Windi. Windi keluar dari kamar kemudian duduk bersama ibu. Ibunya ingin mengajak bicara dengan hati-hati supaya putrinya tidak tertekan dan mau berterus terang.
“Sini duduk Win...minum tehnya dulu,” pinta ibunya.
Dalam hati Windi bertanya-tanya mengapa ibunya pingin ngobrol sepagi itu. Namun Windi menurut dan duduk berhadapan dengan meja makan di tengahnya. Bunyi jam dinding terdengar nyaring,” tik tok tik tok...”
“Minum dulu tehnya...sengaja ibu membuat the untuk kamu. Ini satu juga buat ibu. Nanti kalau ayah bangun dibuatkan kopi hitam,” ucap ibu sambil nyeruput the hangat kemudian meletakkan Kembali cangkirnya.
Windi juga minum tehnya hampir habis. Perutnya terasa lebih nyaman dan pikiran menjadi rileks. Kemudian cangkirnya diletakkan Kembali di atas meja.
“Sampai kapan Win sekolah daring?’ ibunya mengawali percakapannya.
“Tidak bu...Windi juga sudah kangen sekolah tatap muka. Sekolah daring itu capek, susah memahami materi pelajaran. Tugasnya banyak bikin pusing menatap layer HP terus.” Jawab Windi sambil memainkan telinga cangkir tehnya.
“Iya ibu juga pingin pandemic segera berakhir agar kehidupan normal seperti dulu. Sekolah daring juga boros paketan data Win,” ucap ibunya.
Ibu melanjutkan bicaranya, “Win...melihat kamu sering mual-mual kok ibu jadi ingat saat ibu mengandung kamu. Mual-mual terus setiap pagi dan terutama kalau ke kamar mandi.”
Windi sedikit terkejut sambil menatap wajah ibunya kemudian menunduk memperhatikan cangkir yang dimainkannya dengan mengelus-elus tubuh cangkir itu.
“Apakah ibu berpikir kalau Windi juga mengandung bu?”
“Enggak begitu...ibu Cuma khawatir saja sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.” Timpal ibu sambil mengamil kedua tangan Windi dan memegangnya lembut.
“Windi...aku ini ibu yang paling mengerti dan akan selalu membelamu jika ada yang ingin menyakitimu. Jadi percayalah pada ibu, jika ada masalah apapun itu jangan cerita ke orang lain...ceritakan dulu pada ibu. Tentu ibu akan dengan senang hati mengatasi masalahmu. Ibu ingin kamu tumbuh jadi gadis yang cantik luar dalam. Kamu dianugerahi wajah yang manis, kulit langsat body ok. Kamu walau masih kelas dua SMP tapi sudah seperti anak SMA,” ucap ibu Windi dengan lembut, pelan namun meyakinkan.
Tetiba airmata Windi berjatuhan membasahi bajunya. Kemudian dengan berurai airmata Windi mengatakan bahwa sudah dua bulan tidak datang bulan.
“Windi takut bu... apakah Windi mengandung?”
“Memang Windi punya pacar? Apakah pernah melakukan perbuatan terlarang dengan pacarmu?”
“Maafkan Windi ibu. Windi telah berbuat dosa tak sengaja,” ucap Windi sambil terus menangis.
“Dengan siapa kamu berbuat itu Win?” ibu Windi mencoba menggali informasi yang sangat penting.
“Dengan Rio adiknya mas Irfan putra pak Yuli bu,” ucapnya lirih
“Rio teman SMPmu itu kan?”
“Iya bu ...” jawab Windi
“Astaghfirullah Windi...” ucap ibunya sangat kaget dan prihatin.
Tetiba ayah Windi bangun dan keluar dari kamar. “Ada apa sih kok ngobrol serius banget?” tanya ayahnya dengan penuh penasaran
Bersambung
Maguwoharjo, 19/01/2021
Sumber gambar: id.pinterest.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
