Windi - Bagian 6 ( Tamugusi ke - 223 )
Windi
Bagian 6
Oleh: Siti Nurhayati
Ibunya menjawab, “Ini kok yah...Cuma ngobrol masalah sekolah Windi yang masih daring. Kata Windi sekolah daring itu lebih capek. Beda dijelaskan melalui internet dengan langsung dijelaskan secara tatap muka. Sudah begitu banyak tugas terkait materi pelajaran yang penjelasannya itu kurang jelas. Namun apa daya pandemi covid-19 masih belum ada tanda-tanda reda.”
Ayah Windi, “O itu to. Kirain ada masalah penting.”
Ibu berkata, “Nggak yah. Cuma masalah sekolah Windi saja. O ya ayah mau teh apa kopi?
Ayah menjawab, “Kopi hitam saja bu tambah gula pasir sedikit saja. Jangan terlalu manis.”
“Baik. Segera ibu buatkan kopi,” kata ibu sambil melangkah ke dapur.
Setelah menghabiskan kopinya, ayah Windi mandi dan siap-siap ke kios tambal bannya. Letak kios persis di pinggir jalan utama, tidak jauh dari rumahnya. Hanya jalan kaki sekitar sepuluh meter sudah sampai. Namun karena persediaan bensin yang dijual eceran tinggal dua botol maka ayah Windi bermaksud mau mengulaknya di SPBU yang paling dekat yang biasa dikulaknya.
Ayah siap ke SPBU dengan membawa dua jirigen besar di letakkan ditempat jirigen berupa kantong kain yang kuat yang dinaikkan di sepeda motor bagian belakang sehingga jirigen berada di sisi kiri dan kanan. Tak lama sepeda motor melaju menuju pombensin.
Ibu Windi menyelesaikan urusan rumah tangga. Windi diminta menyapu halaman yang tidak terlelu luas. Setelah menyelesaikan urusan rumah ibu Windi ke apotik untuk membeli tester kehamilan. Ia ingin memastikan apakah putri tunggalnya itu positif atau negatif mengingat sudah dua bulan terlambat datang bulan. Ia mengambil sepeda motor di kios bensin dan tambal ban yang tadi digunakan ayah untuk mengulak bensisn. Di rumah hanya ada Windi dan adiknya Dino. Windi mengikuti PJJ sedang adiknya main-main saja karena baru TK kecil.
*****
Bangun pagi, Windi dibilangin ibunya untuk nampung urin dikit di gelas plastik mineral. Kalau sudah selesai suruh panggil ibu ke dalam kamar mandi. Windi menuruti apa kata ibunya. Ayah dan adiknya masih tidur.
“Sudah bu... masuklah bu,” kata Windi dari kamar mandi.
Ibunya mencelupkan tester ke dalam urin. Menunggu sebentar sambil dag dig dug di dada. Dan...muncul dua strip merah yang menunjukkan bahwa Windi positif. Mereka berdua menangis namun buru-buru hapus air mata agar ayah Windi tidak terbangun kaget lalu marah.
Windi disuruh wudu lalu sholat subuh di kamarnya. Ibunya juga wudu dan sholat di kamar. Ibu Windi tak kuasa menanggung beban yang berat ini namun berusaha tegar.
Ibu Windi berpikir keras bagaimana mau bicara sama suami. Ia khawatir kalau suaminya akan marah besar dan malah nanti mengundang perhatian tetangga kalau terjadi keributan. Ia juga mengumoulkan kekuatan agar sabar dan tegar. Ia beruasaha mengatasi masalah ini dengn baik. Belum lagi ia berfikir jika harus memberitahukan pada pak Yuli ayah Rio yang telah membuat Windi terlambat bulan. Akankah pak Yuli menerima hal ini atau malah menuduh anaknya yang bukan-bukan. Rasanya pening dan ingin menjerit.
*****
Malam hari setelah Windi dan adiknya tidur, ibu mencoba mengajak bicara ayah sebelum mereka tidur. “Ayah ... ibu mau bicara sesuatu. Tapi ibu minta ayah tenang dan janji tidak marah-marah. Sebab masalah yang akan ibu bicarakan membutuhkan ketenangan pikiran dan kejernihan hati untuk menyelesaikannya,” ucapan ibu mengawali obrolan yang penting dan sangat sensitif.
“Masalah apa kok sampai ayah harus berjanji agar tak marah. Pasti genting nih bu. Iya kan?” timpal ayah agak menegang.
“Iya pak...kita istighfar dulu agar kuat menerima berita ini,” ucap ibu yang membuat ayah yang tadinya sudah rebahan di atas dipan jadi bangkit dan duduk bersandar di dinding.
“Apaan bu...cepat ngomong ah, bikin penasaran saja,” ucap ayah mulai mendesak.
“Iya pak...sabar ibu saja gemetar mau mengatakan ini,” jawab ibu Windi sambil mengambil nafas dalam-dalam.
“Ada apa to bu... kok malah ibu menangis, ayah jadi khawatir,” timpal ayah sambil menatap tajam wajah istrinya.
Setelah menurunkan emosinya dan beristighfar ibu Windi mulai lagi bicara, “Begini ayah...sebentar lagi kita ini yang belum genap empat puluh tahun akan menjadi kakek dan nenek.”
Ayah yang masih bingung bertanya, “Maksud ibu apa yah...?”
Bersambung
Maguwoharjo, 20/01/2021
Sumber gambar: id.pinterest.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
