Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Windi - Bagian 7 ( Tamugusi ke 224 )
gadis bingung. id.pinterest.com

Windi - Bagian 7 ( Tamugusi ke 224 )

Windi

Bagian 7

Oleh: Siti Nurhayati

“Ibu sudah menjaga Windi anak gadis kita sedemikian rupa...tapi...,” ibu Windi seperti tak kuasa untuk menceritakan pada suaminya.

“Bu... ayo ngomong jangan dipotong-potong gitu...” ucap ayah menampakkan kekesallannya.

“Ayah...maafkan ibu...Windi positif...,” ibu Windi berucap sambil menunduk dan terus menangis lirih.

“Positif covid maksud ibu? Bukankah Windi sehat-sehat saja. Kapan ibu test SWAB untuknya?” sahut ayah semakin panik.

“Bukan covid yah...tapi Windi ... positif hamil,” ucap ibu Windi sambil bersimpuh di lantai lalu menangis sejadi-jadinya.

“Apaaa...ibu kalau omong jangan sembarangan. Windi itu anak yang sholehah, kalem, tidak pernah keluyuran apalagi sama laki-laki yang bukan muhrim. Bukankah dia setiap hari di rumah apalagi sekarang harus belajar pun dari rumah. Mana bisa dia hamil bu...” ucap ayah suaranya agak tinggi lalu turun dari dipannya.

“Ayo kita bangunkan Windi. Kita tanyain apa benar dia hamil. Jika ya lalu dengan siapa dia melakukan perbuatan terlarang itu,” ucapan ayah Windi semakin emosi.

Ibu Windi memeluk kedua kaki suaminya sambil memohon, “Ayah...ibu mohon...jangan bangunkan anak-anak. Ini sudah malam, nanti tetangga pada dengar. Kita juga yang akan mendapat malu. Kita harus diam-diam jangan sampai tetangga kiri kanan tahu ayah. Istighfar ayah...ini mungkin ujian dari Allah.”

Ayah terduduk lemas di dipan lalu menunduk dan menangis tak bersuara. Ibu bangkit dari lantai lalu duduk di samping suaminya. Ia memegang kedua tangan suaminya kemudian berkata, “Ayah... ibu tahu ini sangat berat untuk kita. Tapi jika kita kompak akan menghadapi bersama, bukan saling menyalahkan maka Insha Allah semua akan baik-baik saja. Kita kuatkan mental kita untuk menghadapi segala kemungkinan.”

“Ayah sedih banget, tidak tahu harus omong apa. Malu bukan kepalang jika sampai tetangga, kerabat dan keluarga besar tahu masalah ini, muka kita mau ditaruh di mana bu. Betul kita orang tidak punya, tapi bukan berarti juga rela untuk dicibir orang gegara anak gadis kita hamil bu,” ucap ayah dengan bibir gemetar dan tubuh terguncang menangis sesenggukan.

“Ayah...kendalikan diri yah...jangan sampai anak-anak bangun.”

Tetiba Windi sudah berada di pintu kamar. Dia menyaksikan ayah ibunya shock karena dirinya. Windi lalu masuk kamar mereka dan menangis mohon ampun sambil mencium kaki kedua orangtuanya, “Ampuni Windi ayah..ibu...telah mempermalukan ayah dan ibu yang dengan penuh kasih sayang membesarkan dan mendidik Windi dengan norma agama yang ketat dari lahir hingga sebesar ini. Hukumlah Windi, tampar Windi ayah...ibu. Windi siap menerima hukuman karena kekeliruan Windi terlalu besar.”

Menyaksikan Windi tetiba masuk kamar dan menangis sambil mencium kaki mereka, keduanya terkejut bahwa tangisan mereka berdua telah membangunkan Windi yang tadinya sedang terlelap bersama adik di kamarnya. Hati mereka berdua pun menjadi trenyuh dan bersama mereka memeluk Windi, membangkitannya lalu mendudukkan di antara mereka di dipan.

Ayah sambil mengelus kepala Windi berkata, “Windi...dosa ini bukan harus ditanggung olehmu seorang diri. Ayah dan ibu juga menanggungnya walau kamu sudah akil baligh. Ayah ibumu mungkin lalai tidak terus mengawasimu. Tapi jika ayah ibu terus mengawasimu seperti saat kamu bayi, nanti ayah tidak bisa mencari nafkah dan ibu juga banyak pekerjaan rumah tangga harus diselesaikan.

Tangis Windi makin bertambah-tambah. Dia terus sesenggukan. Perasaanya tidak karuan. Ibunya memeluknya semakin erat.

“Windi...ibu memang susah mengontrol apa saja yang kamu lakukan dengan gawai yang ada ditanganmu itu. Ibu terlalu percaya bahwa kamu memanfaatkannya untuk keperluan belajar. Karena memang sekarang ini sekolahmu lewat gawaimu itu. Namun ternyata rambu-rambunya tidak jelas seperti rambu lalu lintas. Kamu menjelajah entah kemana saja. Orang-orang asing masuk ke ruang privasimu tanpa bisa dicegah. Hingga akhirnya kamu menjadi korban lincah jemarimu bermain layar dan keyboard di hpmu itu,” ucap ibunya sangat prihatin.

“Terus terang, ibu sudah melihat chatmu di WA kemarin pagi saat HPmu hampir jatuh. Tetiba ibu ingin membukanya. Setelah tahu isi chatmu dengan yang namanya “Sayang” ibu gemetar dan terus menangis sendiri,” ucap ibunya yang didengarkan oleh Windi dan ayahnya.

“Ibu ingin tahu kamu melakukan itu kapan dan di mana kok sampai ibu kecolongan begini Wiiin,” pertanyaan ibunya membuat Windi dan ayahnya tegang, tertutama ayahnya langsung pasang telinga ingin mendengar pengakuan Windi.

Bersambung

Maguwoharjo, 21/01/2021

Sumber gambar: id.pinterest.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post