Windi - Bagian 8 (Tamugusi ke - 225)
Windi
Bagian 8
Oleh: Siti Nurhayati
Windi mengumpulkan kekuatan untuk bisa mengatakan peristiwa yang dia coba untuk melupakannya walaupun itu hal yang mustahil. Kejadian itu begitu membekas di sanubarinya. Sesuatu yang tidak pernah direncanakan oleh Windi. Jangankan direncanakan, terlintas untuk melakukannya pun tidak. Namun hari itu sungguh suatu peristiwa telah merubah hidupnya secara drastis. Ia yang masih gadis belia itu harus menjadi seorang ibu untuk janin yang ada di kandungannya.
Dengan kedua telapak tangannya Windi mencoba menghapus airmatanya yang sulit dibendung, kemudian mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskan lewat kedua lubang hidungnya secara perlahan. Ia mulai bercerita, “Waktu itu ibu bersama adik sedang ke rumah nenek. Seperti biasa ayah menunggu para pelanggan di kios. Windi di rumah sedang sekolah daring. Tetiba dia kirim pesan mau belajar bareng di rumah. Windi membolehkan dia datang untuk belajar bersama mengerjakan tugas guru mapel hari itu. Setelah selesai mengerjakan tugas dan mengirim kepada guru yang bersangkutan berdua kami ngobrol. Windi membiarkan pintu terbuka depan terbuka hanya di ruang tamu saja,”
“Iya, terus apa lagi,” tanya ibunya.
“Lalu dia tetiba mendapat kiriman pesan dari temannya. Setelah dibuka ternyata video “orang dewasa”,” kata Windi sambil menunduk.
“Ayo teruskan ceritamu Win,” kata ayahnya.
“Dia mengklik video yang durasinya sekitar 3 menit. Kemudian entah bagaimana dia tetiba memeluk Windi...dan hanya sekejap hal itu terjadi. Lalu Windi menangis dia pun cemas...kemudian aku minta dia pulang secepatnya. Lalu dia pamit pulang.”
“Cuma sekali itu terjadi, apa pernah mengulang?” tanya ibunya.
“Demi Allah ibu...ya cuma sekali itu. Windi merasa sangat berdosa,” sambil dia menangis menelungkupkan kedua tangan ke wajahnya.
Ayah ibunya tidak tega melihat Windi tertekan. Kemudian meminta Windi untuk kembali ke kamarnya dan istirahat. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Mereka akhirnya berusaha untuk tidur.
****
Ibu Windi bercerita kepada bu Aminah dengan berlinang air mata. Bu Aminah mendengarkannya dengan seksama ceritanya tanpa menyela. Setidaknya ibu Windi merasa lega karena telah berbagi sesak di dada. Bu Aminah sebagai aktifis organisasi perempuan Islam berkemajuan hanya berniat melakukan pendampingan kepada Windi sebagai korban dalam hal ini.
“Ayo diminum bu tehnya. Sampai lupa menawarkan karena larut dalam cerita,” ucap ibu Windi menawarkan sambil juga menyeruput teh yang sudah tidak panas.
“Baik bu. Terimakasih.” Ucap bu Aminah sambil mengangkat cangkir teh lalu meminumnya sedikit.
“Maaf bu, hanya teh saja tanpa teman minum,” ucap ibu Windi tersipu.
“Ini sudah cukup ibu. Alhamdulillah.” Kata bu Aminah.
Kemudian bu Aminah mencoba menggali informasi apakah keluarga Rio-teman dekat Windi sudah mengetahui ulah putranya terhadap Windi.
“Kalau boleh tahu, apakah ibu dan ayah Windi telah mencoba memberitahukan pada pak Yuli tentang putranya yang telah membuat Windi seperti itu?” tanya bu Aminah dengan sangat hati-hati.
Ibu Windi menjawab bahwa sudah, tapi mereka tidak mau tahu bahkan tersinggung dan marah. Begini ceritanya.
“Malam setelah isya, saya dan ayah Windi bertandang ke rumah pak Yuli. Kami sengaja membawa HP Windi. Setelah mengetuk pintu bu Yuli membukakan pintu lalu mempersilahkan kami masuk.”
“Ada apa yah pak dan bu Suji malam-malam bertamu?” tanya pak Yuli.
Sementara kami ngobrol dengan pak Yuli, bu Yuli masuk dan tak lama keluar dengan membawa teh hangat yang lalu diletakkan di meja tamu. “Silahkan diminum pak... bu...mumpung masih hangat,” bu Yuli menawarkan kami minum.
“Terimakasih bu, maaf jadi merepotkan,” ucap ibu Windi.
Kemudian pak Suji ayah Windi mulai menyampaikan maksud kedatangan ke rumah pak Yuli sekeluarga.
“Begini pak dan bu Yuli...pertama adalah silaturhami. Berikutnya saya ingin menunjukkan percakapan di WA antara anak-anak kita. Silahkan pak Yuli membacanya.”
“Memang ada yang aneh pak dengan percakapan di WA anak-anak kita?” tanya pak Yuli dengan menunjukkan bahasa tubuh yang keheranan.
“Silahkan dibaca dulu dengan tenang biar bisa menangkap apakah aneh atau tidak,” ucap pak Suji tenang.
Kemudian sekitar beberapa menit pak Yuli membaca percakapan di WA dari gawai Windi. Saya, suami dan bu Yuli menunggu pak Yuli membacanya dengan senyap dan menunggu apa reaksi pak Yuli setelah selesai membacanya.
Tak lama setelah membaca isi percakapan di WA antara Windi dan Rio, pak Yuli menunjukkan wajah yang merah padam tanda menahan kemarahan.
Bersambung
Maguwoharjo, 22/01/2021
Sumber gambar: id.pinterest.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
