Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Windi - Bagian 9 ( Tamugusi ke - 226 )
gadis bingung. id.pinterest.com

Windi - Bagian 9 ( Tamugusi ke - 226 )

Windi

Bagian 9

Oleh: Siti Nurhayati

Rio sebenarnya ada di dalam kamarnya bersama adiknya yang juga cowok. Dia tidak berani keluar kamar walaupun tahu bahwa yang bertamu adalah ayah dan ibu Windi. Dia malah asyik bermain sama adiknya. Dia pura-pura tidak tahu kalau ada tamu. Namanya juga cowok ABG, masih kurang paham apa arti tanggungjawab atas perilakunya yang merugikan orang lain.

Ayah Yuli minta istrinya untuk memanggil Rio. Tak lama Rio keluar dari kamar dengan masih menggenggam bendah pipih kesayangannya yang bernama Ha Pe.

Melihat ayah dan ibu Windi yang bertamu, Rio lantas menyalami keduanya. Kemudian sama ayahnya dia disuruh duduk. Setelah duduk Rio bertanya tanpa rasa bersalah sedikitpun, “Ada apa ayah memanggil Rio?”

“Ayah mau pinjam HP mu. Tolong buka WAnya,” ucap pak Yuli dengan masih menahan marah.

“Ada apa to ayah. Tumben banget sih pinjam-pinjam HP Rio segala,” tanya Rio sambil keheranan namun tetap menyerahkan HP ke ayahnya.

“Gak apa-apa, pingin lihat. Ada yang mau ayah cocokkan dengan HP Windi.”

Setelah membuka HP Rio, dia bingung yang mana percakapan antara Windi dan Rio. Kemudian ayah menyerahkan kembali dan minta Rio yang membuka chatnya dengan Windi. Yang lain menyaksikan dengan tegang dan pikiran masing-masing akan apa yang terjadi selanjutnya.

Rio lantas dengan mudah menemukan chat itu. Namun ada keraguan akan menyerahkan kembali HP itu ke ayahnya atau tidak. Rio menyadari ada percakapan yang sangat pribadi yang ia khawatir jika perilakunya terhadap Windi terbongkar. Tapi ia juga takut jika tidak menyerahkan kembali HP itu ke ayahnya maka ayah akan marah. Kemudian ia menunjukkan chat itu kepada ayahnya.

Pak Yuli lantas sambil duduk membaca seluruh chat Rio dan Windi. Setelah selesai...belaiu bangkit dari kursi dan langsung menampar pipi putranya di hadapan ayah dan ibu Windi serta ibunya sendiri. Semua terkejut tertutama ibunya yang lantas berbicara pada suaminya.

“Ada apa sih kok ayah lngsung main tampar segala,” ucap bu Yuli sambil memeluk putranya yang menangis kesakitan lantaran ditampar pipi kanannya hingga meninggalkan bekas tangan pak Yuli yang kekar, karena memang postur pak Yuli gagah, tinggi putih dan raut wajahnya tampan.

Kemudian sama ibunya Rio dibawa masuk ke kamarnya. Adiknya yang tadi ikut keluar bersama Rio jadi ikut tegang dan ikut masuk ke kamar juga. Kemudian bu Yuli keluar lagi menuju ruang tamu. Di luar dugaan pak Yuli menghapus seluruh chat antara Windi dan Rio. Kemudian nomor Windi diblok dari HP Rio.

“Saya sudah membaca seluruh chat Windi dan Rio dan sudah saya hapus seluruh percakapan mereka. Nomor Windi juga sudah saya blok dari HP Rio supaya tidak usah lagi saling berhubungan,” ucap pak Yuli sambil mengembalikan HP Windi pada pak Suji.

“Baiklah...tapi apa sikap bapak dan bu Yuli terhadap masalah ini. Karena akibat ulah Rio sekarang Windi positif mengandung benih Rio?” tanya pak Suji sambil menerima HP tersebut.

“Maaf ya pak dan bu Sui. Apa kalian yakin kalau benih yang dikandung Windi itu benih dari Rio semata? Jika dia berani melakukan hal itu dengan Rio, maka sangat mungkin juga dia mau berhubungan intim dengan teman-teman prianya yang lain kan?” jawab pak Yuli yang disetujui juga oleh bu Yuli.

Mendengar ucapan pak Yuli sungguh bagai tersambar petir, telinga ayah dan ibu Windi sangat panas dan hatinya hancur bagai kejatuhan batu yang membuatnya berkeping-keping. Sudahlah terbebani masalah Windi ditambah lagi mendapatkan hinaan dari ayah Rio yang disetujui oleh istrinya.

“Mohon maaf ya pak Yuli dan ibu, Windi itu anak rumahan. Dia taat menjalankan sholat lima waktu, rajin tadarus Al Qur’an dan tidak pernah keluyuran apalagi dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Jadi hanya Rio seorang yang menyentuh putri saya,” ucap ayah Windi sambil menahan marah yang teramat dalam. Ibu Windi hanya menunduk sambil terus luruh airmatanya.

Rio tetiba keluar dari kamarnya. Ia mengakui bahwa ia memang menyayangi Windi, namun kejadian itu sungguh ia lakukan kepada Windi tanpa rencana sedikitpun untuk merusaknya. Mendengar Rio omong begitu pak Yuli tambah marah kemudian menamparnya berkali-kali tanpa bisa dicegah siapapun.

Pak Yuli berucap, “gak usah keluar kamu Rio. Masuk lagi ke kamarmu sana.”

Melihat situasi yang tidak kondusif seperti itu maka ayah dan ibu Windi mohon pamit.

Pak Yuli masih menyakiti ayah dan ibu Windi dengan ucapannya, “Pak dan bu Suji...silahkan beranggapan kalau Rio yang telah membuat Windi bunting. Tapi jangan berharap jika Rio akan menikahi anakmu. Tunggu saja nanti tes DNA jika cucumu lahir. Pasti bukan darah daging Rio.”

“Cukup pak Yuli...tidak usah menghina kami lagi. Betul kami bukan orang berada, tapi bukan berarti bapak yang PNS yang berpendidikan boleh menghina orang miskin seperti kami. Didik saja putra-putramu agar menjadi anak yang berperilaku baik dan menjadi orang yang penuh tanggungjawab.”

Pak dan bu Yuli terdiam mendengar ucapan pak Suji. Lantas ayah dan ibu Windi pulang dengan hati hancur.

“Begitulah ceritanya ... bu, “ibu Windi mengakhiri ceritanya sambil mengusap airmatanya.

“Yang sabar ya bu... sudah lupakan tentang Rio dan orangtuanya. Yang perlu dipikirkan adalah Windi. Jangan sampai kejadian ini membuat masa depannya hancur. Tidak usah hiraukan apa kata orang. Tutup telinga saja ya bu. Ibu harus tetap memeriksakan kandungan Windi ke bu bidan agar bayi dan ibunya tetap terpantau kesehatannya,” ucap bu Aminah menguatkan bu Suji agar tetap tabah menghadapi ujian ini.

“Saya akan terus menjadi teman bu Suji mendampingi Windi dalam menghadpi masa sulitnya bu. Jadi jangan segan-segan jika ibu membutuhkan bantuan hubungi saya. Sedapat mungkin saya akan membantu mencari solusinya.” Kata bu Aminah sambil pamit pulang karena sudah lebih dari satu jam bertamu.

“Terimakasih sekali bu atas perhatian ibu kepada keluarga kami. Semoga Allah membalas kebaikan ibu sekeluarga, “ucap ibu Windi sambil berdiri mengantar bu Aminah hingga pintu.

“Salam untuk bapak dan Windi ya bu,” kata bu Aminah sambil menyalami ibu Windi.

“Baik bu,” ucap ibu Windi dengan wajah yang tidak suntuk lagi. Seolah beban di dada sedikit terkurangi karena ada tetangganya yang berempati.

*****

Kini kandungan Windi sudah berusia lima bulan. Dia masih sering mengalami mual namun tidak sesering sebelumnya. Ia tetap melaksanakan sekolah secara daring. Hal ini menguntungkan Windi, karena ia tidak harus ke sekolah. Ia bisa terus menjaga kandungannya dengan terus bersekolah. Ia tidak lagi berhubungan dengan Rio karena nomornya sudah diblok oleh ayahnya.

Windi berusaha melupakan Rio yang telah membuatnya berstatus calon ibu. Tetiba perutnya sakit luar biasa. Sambil menangis ia memegangi perutnya.

Bersambung

Maguwoharjo, 23/01/2021

Sumber gambar: id.pinterest.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post