Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bangga Bapakku Tukang Cukur Kadet (Tamugusi ke - 240)
Ayah, Pejuang Keluarga

Bangga Bapakku Tukang Cukur Kadet (Tamugusi ke - 240)

Bangga Bapakku Tukang Cukur Kadet

Oleh: Siti Nurhayati, M.Pd.

Bapak adalah sosok sangat sederhana namun sangat bertanggungjawab terhadap keluarga. Demi tegaknya keluarga yang harmonis dan bahagia, bapak rela melakukan apa saja dalam mencari nafkah. Walau bapak sudah almarhum, namun kenangan bersama bapak sungguh masih membekas kuat dalam benak saya.

Bapak walau tidak berpendidikan tinggi, karena sudah yatim sejak kecil, namun bapak yang hanya sempat mengenyam pendidikan di MI Ma’arif Sokaraja Banyumas sangat suka membaca. Tak heran jika pengetahuannya terutama pengetahuan agama cukup lumayan. Bapak membeli buku dan mendengarkan kaset Zainuddin MZ saat itu. Bapak juga sering mengisi ceramah di berbagai majelis taklim dan juga menjadi pengisi tetap program keagamaan di sebuah radio lokal di Cilacap.

Waktu masih muda, bapak diajak oleh seorang perwira TNI AL ke Surabaya. Bapak dicarikan pekerjaan di Angkatan Laut sebagai pegawai sipil dengan ijazah MI/SR. Bapak yang memiliki ketrampilan mencukur kemudian mendapat tugas untuk mencukur rambut para kadet Angkatan Laut. Bapak melakukan tugasnya dengan sangat baik.

Bapak lahir sebelum Indonesia merdeka, sekitar tahun 1933 di Purbalingga. Saat usia SD, bapak ikut keluarga kakek. Waktu itu ibu masih kecil sering diasuh sama bapak. Jadi bapak dan ibu adalah saudara sepupu, namun kemudian Allah menjodohkan mereka. Bapak lebih tua dua belas tahun dari ibu. Kini keduanya telah tiada.

Setelah menikah, bapak memboyong ibu ke Surabaya. Berdua ngontrak di rumah yang sangat sederhana tidak jauh dari komplek AL. Ibu senang sekali melihat para kadet Angkatan laut yang gagah, tegap dan sopan. Saking senangnya melihat mereka, ibu yang waktu itu sudah punya anak laki-laki satu yakni kakak saya sempat melantunkan doa agar kelak putranya menjadi anggota TNI Angkatan Laut. Doa itu tentu saja diaminkan bapak dan alhamdulillah setelah kakak tumbuh dewasa benar-benar menjadi anggota TNI AL dan sekarang menjadi Perwira Tinggi TNI AL yang bertugas di Kemenhan Jakarta.

Bapak selain bertugas mencukur para kadet, juga aktif di kegiatan kerohanian. Sehingga waktu bapak harus pindah tugas di Lanal Cilacap, bapak bertugas di bagian Bintal yakni mengurusi kegiatan keagamaan. Di Cilacap bapak semakin eksis sebagai pengisi pengajian di beberapa masjid dan juga di majelis taklim ibu-ibu. Bahkan ada beberapa keluarga yang minta bapak memberikan pelajaran ngaji Qur’an secara privat. Dengan senang hati bapak melakukan itu semua, sehingga bapak seperti menemukan saudara-saudara baru yang membuat bapak semakin bahagia. Bahkan menantu bapak yakni istri kakak adalah dulu murid ngajinya.

Meskipun bapak sudah banyak tugas, namun bapak tetap saja menerima jasa cukur, sehingga di rumah kami waktu itu ada tempat yang khusus untuk mencukur para pelanggan. Saya masih ingat kalau bapak mencukur para pelanggan. Peralatannya meliputi sisir, gunting, pemes (pisau cukur), jamprut dan tentu saja kain penutup badan yang diikat di leher pelanggan. Tidak lupa pula ada bedak Rita yang diusapkan di leher setelah cukur agar tidak gatal. Uang dari jasa cukur lumayan untuk tambahan pendapatan. Bisa dibayangkan gaji pegawai dengan ijazah SD harus bayar kontrak rumah, biaya sekolah anak dan lain sebagainya.

Saat di Cilacap bapak sudah memiliki empat orang anak yakni kakak cowok, saya, dua adik cowok dan cewek. Bapak selain mencari nafkah keluarga, tak lupa juga mengajari kami agar sekolah tak ketinggalan pelajaran dan yang paling penting adalah anak-anak bapak semua harus bisa ngaji. Menanamkan nilai-nilai agama sangat diutamakan oleh bapak.

Tetiba ibu pingin pulang kampung dan membuat rumah di kampung. Akhirnya bapak mengabulkan permohonan ibu. Ibu dan anak-anak tinggal di kampung berdekatan sama kakek dan nenek dari ibu, sedangkan bapak mengalah tinggal sama adik bapak di Cilacap sambil tetap buka lapak cukur. Bapak ke kantor dengan sepeda onthel kesayangannya. Bapak pulang sepekan sekali ketemu keluarga. Pulang hari Sabtu sore, berangkat kerja lagi Senin pagi dengan naik becak terus naik bis. Itu dilaluinya bertahun-tahun hingga bapak pensiun.

Maguwoharjo, 06/02/2021

Gambar: dokpri

Tentang Penulis

Siti Nurhayati, M.Pd. dilahirkan di Banyumas 12 Oktober 1966. Masih aktif mengajar di SMK YPKK 3 Sleman sebagai guru Bahasa Inggris dan Kepala Perpustakaan. Belakangan jatuh cinta dengan dunia tulis menulis dan menulis itu memang asyik. Telah berhasil menulis buku tunggal dengan judul Selaksa (Kumpulan Pentigraf) dan dua buku Antologi “Bidadari Surga itu Ibuku”. Bila ingin berkontak ria bisa WA di **(censored)**atau email: **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post