Talas (Tamugusi ke 248)
Talas
Oleh: Siti Nurhayati
Sekitar sebulan yang lalu pagi-pagi yang gerimis, saya ke pasar untuk belanja kebutuhan bersama suami. Saya langsung menuju toko sayuran langganan. Saat sedang memilih kobis, mata saya tertuju pada sekeranjang talas yang membuat saya kepingin. Saya kemudian memilih talas-talas itu. Karena kehujanan jadi talasnya sudah ada yang tumbuh tunas, mungkin memang talas itu sudah lama ada di keranjang diletakkan di bawah. Tanpa rasa malu, talas yang bertunas itu saya minta untuk ditanam. Saya hanya mengambil dua talas yang besarnya sedang namun tunasnya sudah lumayan besar. Berharap setelah di tanam, mereka akan tumbuh subur dan menghasilkan talas yang banyak.
Sampai di rumah, belanjaan saya taruh di lantai, begitu talas itu. Bahkan saya kemudian lupa kalau mau menanam talas. Ketika saya ingat untuk menanamnya, ternyata talas sudah tidak ada di dapur. Saya berpikir bahwa talas itu sudah masuk tempat sampah dan terbuang atau mungkin ada yang telah menanam.
Setiap hari, pagi atau sore saya biasa nyapu halaman hingga pekarangan. Saat saya sedang menyapu daun- daun yang berguguran, terlihat ada daun talas nyembul dari dalam tanah di pekarangan itu. Karena tanahnya menurut saya kurang bagus, banyak batu kerikilnya maka, tanaman talas itu saya pindahkan ke tempat yang lebih subur. Awalnya talas itu tumbuh bagus, tapi kemudian saya tunggu lama tidak berkembang, malah menjadi kurus dan hampir mati.
Beberapa hari kemudian setelah saya memindah talas yang satu, ternyata ada talas satu lagi yang tumbuh. Lalu saya juga berpikir untuk memindahkan talas itu di sebelah talas yang satunya. Namun karena tidak sempat untuk memindah, lalu saya biarkan talas itu tidak saya pindah. Kemudian saya mendapati bahwa talas yang tidak saya pindah malah tumbuh lebih subur, sedang yang saya pindah di lahan gembur malah merana dan hampir mati daunnya menjadi kuning dan lama-lama busuk.
Saya coba sirami lagi lebih sering agar talas itu tumbuh lebih subur, paling tidak sama dengan talas yang satunya. Namun usahaku sia-sia belaka. Saya bertanya-tanya mengapa talas yang saya tanam di lahan yang gembur justeru merana, tapi talas yang tumbuh di lahan yang cenderung banyak batu kerikil malah lebih subur.
Kebetulan hari ini libur Implek, saya pagi sekali sudah bersih-bersih pekarangan. Tadinya Cuma mau jalan-jalan aja bolak-balik selama 45 menit. Namun saya pikir mengapa tidak sekalian aja nyapu halaman dan pekarangan. Lingkungan bersih dan badanku jadi sehat. Tak perlu senam sudah berkeringat. Sekalian saya akan memindah talas ke tempatnya tumbuh semula.
Selesai nyapu dan memasukkan daun-daun rontok ke dalam karung plastik agar membusuk dan menjadi media tanam, saya ambil cethok untuk memindah talas itu. Saya gali di sekitar tanaman talas itu, dan baru dua galian saya mendapati uret yang cukup besar. Saya terkejut, langsung saja saya matikan dengan satu kali pukul dengan cethok langsung mati. Kemudian saya terus menggali dengan hati-hati, supaya tidak mengenai talas, agar saat dipindah tidak mati. Namun saya terkejut lagi, ternyata di bawah talas ada tiga uret mengkilat putih yang tak kalah besarnya dengan yang saya temukan sebelumnya. Dengan gemas saya pukul semua uret itu tanpa ampun. Kemudian saya angkat talasnya, ternyata akarnya habis dan talas yang dulunya besar tinggal sepertiganya saja. Ternyata uretlah penyebab talas yang saya pindah ke lahan gembur itu merana dan hampir mati. Rupanya uret malah suka di lahan gembur dan memakan akar muda dari tanaman yang baru ditanam.
Setelah semua uret mati, talas yang malang itu saya pindah ke tempat semula. Saya berharap agar talas itu kembali mendapatkan semangat hidupnya lalu tumbuh subur. Kejam sekali kau uret, kau biarkan talas saya merana. Saya membayangkan jika dalam tubuh kita ada uret iihhhhh...serem. Pasti hidup kita jadi merana dan mati. Jangan biarkan ada “uret” dalam jasmani dan rohani yang akan menggerogoti kebahagiaan kita. Singkirkan “uret-uret” itu agar hidup kita tumbuh subur menbawa manfaat untuk siapapun.
Maguwoharjo, 12/02/2021
Sumber gambar: Agrokompleks.com, dokpri
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
