Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Windi - Bagian 18 (Tamugusi ke 235)
Windi.id.pinterest.com

Windi - Bagian 18 (Tamugusi ke 235)

Windi

Bagian 18

Oleh: Siti Nurhayati

“Assalamu’alaikum wr wb. Apa kabar? Semoga aku tidak menganggumu ya,” tulis Rio dalam kalimat yang santun

“Waalaikumsalam wr wb. Mohon maaf ini siapa ya? Apakah mau order senek atau lauk pauk?” tulis Windi menanyakan siapa pengirim pesan.

“Ini aku Rio. Tadi kita ketemu di Bank. Maaf aku bisa mendapatkan nomormu lagi Win dari data yang kamu isikan di formulir pembukaan rekening tabungan anak. Kamu tidak lagi mengenal nomorku karena memang aku sudah ganti nomor.”

“Iya aku sudah lupa dengan nomor kamu Rio.”

“Mohon maaf Windi...aku mengirim pesan lagi setelah bertahun-tahun tak bisa menghubungimu karena nomorku waktu itu kamu blokir.

“Iya waktu itu aku memang harus memblokir nomor kamu supaya bisa saling melupakan satu sama lain. Aku tidak mau kamu juga seperti aku yang sekolahnya kacau. Selain juga aku sakit hati dengan sikap ayahmu terhadap orangtuaku,” tulis Windi menjelaskan mengapa ia bersikap demikian.

“Atas nama orangtuaku, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya dari lubuk hati yang terdalam. Sungguh aku sangat menyesalkan sikap terutama ayahku yang jauh dari sikap bijaksana. Sebagai anak yang berusaha menjadi anak berbakti, sungguh aku sangat kecewa dan sedih tiada tara. Tapi Win...seperti yang kamu sarankan sebelum kamu memblokir nomorku, aku berusaha sekolah dengan sebaik-baiknya walau jujur rasa bersalah kepadamu sangat menyiksa batinku. Tapi alhamdulillah sedemikian rupa aku berusaha untuk berhasil dalam studiku, akhirnya aku lulus menjadi sarjana ekonomi perguruan tinggi ternama di negeri ini. Sebagaimana kamu tahu sendiri tadi, secara tidak sengaja kita dpertemukan saat aku sedang menjalankan tugas profesiku, dan kamu menjadi tahu aku telah bekerja di sebuah Bank. Walau hatiku dag dig dug saat aku harus melayani kamu sebagai seorang Customer Service dan kamu sebagai calon nasabah tapi aku berhasil mengatasi perasaanku saat itu, sehingga aku bisa melayani kamu dengan baik dan professional, “tulis Rio panjang lebar.

“Iya aku ucapkan selamat kamu sekarang telah menjadi orang yang mandiri dan beroleh pekerjaan yang baik lagi bergengsi,” tulis Windi memberi selamat.

Windi menyambung tulisannya, “Jujur tadi aku juga merasa terjebak pada situasi yang tak pernah aku bayangkan. Sempat terbetik dalam pikiran aku untuk urung membuka tabungan untuk anakku. Namun untuk menjaga reputasimu, akhirnya aku juga berhasil mengatasi situasi batinku. Akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan, dan kamu menjadi tahu data tentang aku dan anakku.”

“Iya Win ... Allah telah kabulkan doa-doaku untuk bisa berkomunikasi lagi denganmu. Dan subhanallah, tanpa diduga kita dipertemukan. Aku jujur sangat bahagia setelah bisa melihatmu lagi bersama anak kita,” tulis Rio.

“Tapi Rio...ucapan ayahmu itu sungguh menyakitkan. Dia menghinaku dengan mengatakan jika bukan hanya kamu yang menyentuhku,” tulis Windi dengan tanpa terasa meluruhkan airmatanya hingga membasahi bajunya.

“Windi ... sekali lagi aku minta maaf untuk ucapan ayahku. Beri kesempatan aku untuk menebus semua kekhilafanku padamu Win. Aku ingin ikut peduli terhadap anak kita. Jujur aku menangis dalam hati saat aku melihat Akta kelahiran Nugroho Wicaksono hanya tercantum nama kamu sebagai ibu tanpa namaku sebagi ayah,” tulis Rio dengan perasaan yang sendu di hati.

Tetiba ibu Windi berjalan ke kamar mandi. Saat balik lagi ke kamarnya ia melihat kamar Windi masih nyala terang. Ibunya lalu berjalan ke kamar Windi dan bertanya, “Kok belum tidur Win...tidurlah...sudah malam.”

“Iya bu sebentar lagi Windi tidur. Ini sedang membalas pesan penting. Ada beberapa pelanggan yang pesan senek kering,” jawab Windi sedikit berbohong. Windi tidak mau ibunya kepo. Besok baru Windi akan cerita.

“Baiklah...,” kata ibunya membetulkan selimut Nugi kemudian balik ke kamar.

Windi melanjutkan menulis pesan, “Bagaimana aku mencantumkan nama kamu pada Akta kelahiran Nugi, kan aku membuat Aktanya sebagai single parent. Wanita yang tidak menikah.”

“Aku menangis Win...sungguh hatiku hancur betapa aku sebagai laki-laki tak berdaya karena keras kepala ayahku,” tulis Rio sambil terus airmatanya menetes satu satu.

“Win...kamu tahu sendiri kan bagaimana penampilaku. Tubuhku yang atletis karena aku pemain bulu tangkis sejak masih SD, wajahku juga tidak jelek sehingga saat SMA apalagi saat kuliah banyak wanita yang mau sama aku. Tapi entah kenapa hatiku tertutup untuk semua wanita secantik apapun. Aku tidak bisa melupakan kamu. Aku teringat bahwa anak kamu adalah anak aku. Oleh karena itu walau ayahku selalu bertanya mengapa belum menikah aku hanya menjawab bahwa belum ketemu wanita yang cocok,” tulis Rio panjang lebar. Sebenarnya Rio ingin menilpun saja Windi, namun khawatir gaduh karena sudah malam.

“Iya aku juga heran mengapa kamu yang sudah mapan belum juga menikah. Menikah saja Rio kan aku tidak pernah melarang kamu menikah. Temukan wanita yang sepadan dengan statusmu sekarang. Kalau aku sudah nyaman seperti ini. Yang aku pikirkan hanyalah masa depan anakku,” tulis Windi tidak memberi harapan pada Rio untuk kembali padanya.

“Windi...Nugi kan secara biologis anak aku juga walau kita belum berstatus suami istri. Jadi aku merasa bertanggungjawab terhadap masa depan Nugi. Aku akan mentransfer sebagian dari gaji aku ke dalam rekening tabungan Nugi,” tulis Rio bukan bermaksud merayu Windi.

“Tidak perlu repot Rio...aku sudah terbiasa menjadi single parent. Menjadi ibu sekaligus ayah untuk Rio. Simpanlah gajimu untuk persiapan kamu berumah tangga,” tulis Windi.

“Win...aku mohon beri kesempatan aku yang telah alpa selama ini untuk menebusnya. Aku ingin Allah meringankan dosa-dosaku padamu juga pada Nugi Win. Mohooon sekali,” tulis Rio memohon.

“Terserah kamu Rio...tapi jika kamu berpikir untuk kita sambung lagi demi Nugi...jalan yang harus kamu tempuh masih panjang. Banyak hal yang harus kamu selesaikan. Tanpa itu semua jangan harap kita bisa bersatu lagi. Aku sudah mengantuk Rio. Aku mau tidur dulu, besok aku harus bangun pagi sekali,” tulis Windi mengakhir chating malam itu.

Bersambung

Maguwoharjo, 01/02/2021

Sumber gambar: id.pinterest.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post