Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Windi - Bagian 19 (Tamugusi ke - 236)
Windi. id.pinterest.com

Windi - Bagian 19 (Tamugusi ke - 236)

Windi

Bagian 19

Oleh: Siti Nurhayati

Tak lama setelah chating dengan Rio, Windi bingung dengan perasaannya sendiri. Dia mengakui bahwa Rio sekarang dan Rio yang dulu tidak berubah tetap menyayanginya dirinya. Namun entah mengapa hati Windi seakan beku untuk urusan asmara. Mungkin terlalu lama berjuang sendiri sebagai single parent, sehingga ia menjadi seorang wanita yang seakan tak butuh seorang laki-laki begitu dingin dengan laki-laki walau itu Rio sekalipun.

Berbeda dengan Rio, dia masih sangat berharap besar Windi bisa menerima maafnya dan membuka hati untuknya lagi setelah sekian lama jeda. Dalam setiap sujudnya, Rio menyelipkan doa agar bisa bersatu lagi dengan Windi, cinta pertamanya. Sejak mereka sama-sama sekolah di sekolah yang sama, demikian juga mereka aktif sebagai remaja masjid. Namun karena kekhilafan yang fatal membuat hubungan Rio dan Windi berantakan.

*****

“Bu ... sebentar lagi Nugi tamat SD loh. Apakah jadi nanti Nugi sekolah di pondok pesantren modern bu?” tanya Nugi pada ibunya sore itu.

“Kamu sudah siap kalau harus berpisah dengan ibu karena harus tinggal di asrama pesantren nak?” Windi balik bertanya pada anaknya.

“Iya lah bu siap. Nanti Nugi kan bisa sekolah sambil belajar agama kaya om Fian yang tamat dari Gontor itu loh bu. Saya pingin seperti om Fian yang pinter banget ceramah agama di podium,” jawab Nugi sambil mengidolakan sepupu ibunya yang alumni Gontor dan sekarang sudah sarjana dari UIN.

“Alhamdulillah...kalau kamu siap untuk nyantri tentu saja ibu seneng banget. Ibu kan sudah buka taplus di Bank sama kamu itu. Nah itu memang untuk biaya kamu sekolah sampai nanti kamu jadi sarjana nak. Yang penting Nugi serius belajar, ibu akan berjuang untuk mengantarmu menjadi orang yang benar-benar berguna untuk agama, nusa dan bangsa,” ucap ibunya penuh haru.

“Baik ibu. Nugi sayang banget sama ibu. Ibu segalanya bagiku...love you ibu,” kalimat Rio terucap sambil memuluk ibunya membuat Windi semakin terharu.

“Ibu juga sayang banget sama Nugi. Semoga Allah selalu membimbingmu agar selalu berada di jalan yang benar sesuai agama yang kita yakini,” ujar Windi dengan sepenuh hati.

Berdua menjawab doa, “Aamiin ya mujibasailiin.”

Kemudian Windi menyuruh Nugi mandi karena sudah sore. Nugi pun langsung menuruti perintah ibunya. Windi melanjutkan menyiapkan pesanan camilan dari para pelanggannya. Tetiba ibunya mendekati Windi dan menanyakan semalam chating sampai malam sama siapa.

“Iya bu semalam Windi chating sama Rio. Rio tahu nomor Windi dari formulir saat mendaftarkan untuk membuka tabungan Nugi,” jawab Windi pada ibunya.

“Terus apakah artinya kamu membuka komunikasi lagi dengan dia dalam arti mengarah ke hubungan yang serius?” tanya ibunya dengan rasa ingin tahu yang mendalam.

“Bukan begitu bu. Rio memang bilang bahwa perasaannya terhadap Windi tidak pernah berubah. Karena ayahnya yang bersikap negatif terhadap kita sehingga dia selama ini ragu untuk bertandang ke rumah. Namun sekarang setelah Rio keberadaannya bukan anak kecil lagi dan juga telah mendapatkan nomor kontak Windi membuatnya ada kesempatan untuk mengetahui segalanya tentang Windi dan Nugi. Dia memang belum berkeluarga lantaran masih memikirkan Windi bu,” jawab Windi agak panjang.

“Dugaan ibu benar kan kalau Rio itu sebenarnya baik dan bertanggungjawab,” ucap ibunya seakan berharap agar Windi membuka hati untuk menerima Rio.

“Iya bu Rio memang baik. Windi sangat paham itu. Bahkan dia bilang akan mentransfer sebagian gajinya ke rekening Nugi. Tapi bu...entah mengapa ya...perasaan Windi terhadap laki-laki begitu dingin. Tidak pernah sekalipun Windi berpikir untuk mencari pasangan hidup. Yang Windi pikirkan hanya Nugi dan Nugi saja bu,” ucap Windi sambil terus mengemasi pesanan pelanggan.

“Dengar Win...menikah itu sunnah Rosul loh. Kamu masih muda, masih cantik...jangan menutup hati untuk cinta. Ibu yakin Rio itu sungguh-sungguh ingin menjalin hubungan sama kamu lagi. Jika tidak pasti dia sudah menikah kan Win. Ibu sarankan agar tidak terburu-buru ambil keputusan untuk tidak menerima atau menerima Rio. Kita lihat dulu seberapa besar usaha Rio untuk mendapatkan cintamu kembali. Yang utama adalah dia harus bisa merubah sikap ayahnya. Untuk urusan ayahmu nanti ibu yang akan bicara. Kasihan Nugi, dia harus tahu ayah sejatinya Win,” kalimat ibu mencoba memberi masukan pada Windi.

“Iya bu nanti Windi pikirkan. Terimakasih ya bu, ibu selalu mengerti Windi walau sekarang Windi bukan anak kecil lagi, namun kasih sayang dan cinta ibu terhadap Windi tidak pernah berubah,” ucap Windi sambil memegang kedua tangan ibunya.

“Kamu sudah menjadi ibu sejak usia yang masih belia. Begitulah hati seorang ibu...kamu sudah merasakannya bagaimana cintamu tercurah hanya untuk anakmu,” ucap ibunya sambil tersenyum.

*****

Malam itu Rio sengaja ngobrol sama ibu dan ayahnya. Mereka tinggal berempat di rumahnya karena kakak Rio sudah berpisah rumah karena sudah berumahtangga. Adiknya Rio sedang menyelesaikan tugas akhir kuliahnya.

“Ibu dan ayah...mohon maaf sebelumnya jika yang Rio ingin sampaikan membuat tidak nyaman, namun ini harus Rio sampaikan,” ucap Rio mengawali obrolan malam itu.

“Ada apa sih Rio...serius banget ibu jadi deg-degan,” timpal ibunya.

“Ya kalau mau omong ya omong aja tidak usah bertele-tele,” ucap ayahnya yang rambutnya sudah mulai beruban banyak dan sudah hampir pensiun tinggal satu tahun lagi.

“Begini ayah ibu...Rio kan sudah dewasa dan sudah bekerja. Terimakasih ayah ibu telah menyekolahkan Rio hingga sarjana. Rio sudah berusaha menjadi anak ayah dan ibu sebaik mungkin...” ucap Rio bimbang mau melanjutkan kalimatnya.

“Iya ...itu sudah menjadi kewjiban orangtua menyekolahkan anak...dan kini kamu sudah bekerja tapi kapan kamu akan menikah, berkeluarga seperti kakakmu?” kalimat ayahnya mengalir begitu lancar.

“Iya Rio...kamu kenapa belum juga mengenalkan calon kamu ke ayah ibu? Kamu kan gagah masa sih gak ada perempuan cantik yang mau sama kamu?” ibunya menimpali.

“Ini yang akan Rio sampaikan. Makanya Rio ngajak ngobrol, tapi mohon sbelum Rio ngomong sampai selesai jangan dipotong dulu. Selama ini Rio nurut sama ayah ibu, sekarang Rio minta ayah ibu nurut sama Rio untuk menjadi pendengar yang baik,” ucap Rio berusaha tenang sambil melihat wajah ayah ibunya.

Bersambung

Maguwoharjo, 02/02/2021

Sumber gambar: id.pinterest.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post