Windi - Bagian 20 (Tamugusi ke - 237)
Windi
Bagian 20
Oleh: Siti Nurhayati
“Iya silahkan bicara, ayah dan ibu akan mendengarkan suara hatimu,” kata ayah Rio yang disambut anggukkan oleh ibunya.
Mendengar perkataan ayah, Rio menjadi lebih punya keberanian untuk mengungkapkan maksud hatinya yang selama ini dipendam. Hal itu lantaran Rio tidak ingin mengecewakan orangtua yang sudah menaungi dan memberikan pendidikan yang baik. Hanya karena Rio melakukan kekhilafan fatallah yang membuat ayahnya marah besar. Sebagai orangtua tentu marah itu wajar, namun jika kemarahan yang melampaui batas akan berakibat tidak baik juga. Saat orang marah biasanya omongannya tidak terkendali dan akan menjadi penyesalan saat marahnya telah hilang. Padahal kata-kata yang setajam silet telah terlanjur melukai dan meninggalkan perih yang tak terkira. Dalam hal ini yang keperihan adalah hati ayah Windi dan tentu saja juga Windi serta ibunya.
Rio mengambil napas kemudian mulai bicara, “Ayah ibu...bukan Rio tidak mau berkeluarga seperti kakak. Rio sudah berusaha untuk mencari pasangan hidup, namun tak satupun wanita yang singgah di hati kecuali Windi.”
Mendengar itu ayah Rio sempat terkejut namun sekarang sudah lebih bersabar , walau ingin bicara pak Yuli tetap menjaga posisi duduknya dan diam. Ibu Rio tidak terkejut karena hatinya telah mengakui bahwa anak Windi adalah anak Rio. Bu Yuli hanya ingin mendengarkan kalimat Rio selanjutnya.
Rio kemudian melanjutkan kalimatnya, “Beberapa hari lalu, Rio ketemu Windi dan anaknya secara tidak sengaja. Windi bermaksud membuka rekening tabungan untuk anak satu-satunya bernama Nugroho Wicaksono. Kebetulan yang melayani pembukaan rekening itu adalah Rio sebagai Customer Service. Windi dan sayapun terkejut pada pertemuan pertama setelah sekian lamanya tak pernah jumpa. Terlebih saat menyaksikan wajah Nugi panggilan anak itu, wajahnya kok mirip banget dengan Rio, hati Rio lantas bergetar seketika. Rio yakin bahwa Nugi adalah darah daging Rio seorang. Yang membuat Rio menangis batin adalah saat mengetahui dalam Akte kelahirannya, hanya tertulis nama Windi sebagai ibu tanpa nama ayah. Melihat kenyataan ini, hati Rio semakin bulat bahwa Windi lah satu-satunya wanita yang berhak untuk menjadi istri Rio.”
Berhenti sebentar karena rasa haru yang mendalam membuat air mata Rio tertahan dan nyaris jatuh. Namun bendungannya jebol juga hingga air matanya jatuh tak bisa dicegah. Ibu Rio juga terlihat sangat sedih mendengar kalimat-kalimat yang terucap dari lisan anaknya, hingga membuatnya tertunduk dan gerismis deras dari kedua sudut netranya.
Setelah berhasil menguasai diri, Rio melanjutkan kalimatnya,” Jadi ayah dan ibu...Rio mohon dari lubuk hati terdalam untuk mendukung Rio dan Windi bersatu sebagai orangtua Nugi. Nugi anak yang baik lagi sholeh. Rio sangat ingin merengkuh dalam dekapan. Rindu yang tak terperi dari seorang ayah pada putranya. Mungkin memang sudah takdir bahwa cucu ayah harus terlahir sangat awal, di saat Rio dan Windi masih belum dewasa. Namun faktanya, Nugi tumbuh menjadi seorang anak laki-laki yang sehat, dan cerdas. Dia siap melindungi ibunya dari segala mara bahaya yang mendekatinya.”
Kalimat Rio yang semakin dalam dan tajam bagai silet mampu meruntuhkan keangkuhan hati ayahnya. Pak Yuli terlarut dalam cerita Rio. Tentu saja hal itu terjadi karena ia bersabar mau mendengarkan suara hati anaknya juga dengan telinga hatinya. Bicara dari hati ke hati mampu memadamkan api amarah yang membara. Suara lembut yang keluar dari hati laksana air dari pemadam kebakaran yang dengan dinginnya air, api yang membara mampu dipadamkannya. Ini juga lantaran Rio senantiasa melangitkan doa agar Allah membukakan hati ayahnya untuk menerima kenyataan bahwa anak Windi adalah cucunya juga.
Ayah Rio tetiba menitik airmata teringat bagaimana ia memperlakukan ayah dan ibu Windi saat bertamu malam itu. Ia menyesal telah sedemikian rupa merendahkan dan menghina Windi yang adalah ibu dari cucunya. Melihat itu, Rio dan ibunya sedikit bertanya dalam hati apa yang telah membuatnya bersedih.
“Ayah...maafkan jika ada kata-kata Rio yang membuat ayah bersedih. Sungguh Rio tidak bermaksud untuk melukai hati ayah,” ucapan maaf Rio kepada ayah dengan penuh takzim sambil menangkupkan kedua tangannya.
Ayahnya dengan perasaan entah bagaimana kemudian berujar, “Bu...jika memang Rio harus menjadi psangan resmi Windi, mari kita berusaha untuk dengan berbesar hati dan menundukkan kepala minta maaf kepada orangtua Windi dan terutama Windi karena telah menelantarkan ibu dari cucu kita.
“Jadi ayah ...?” kalimat ibu Rio tertahan karena seperti tidak percaya akan apa yang diucapkan oleh suaminya.
“Iya...ayah sudah merestui Rio dan Windi bersatu. Cuma masalahnya ayah merasa sangat malu jika nanti harus bersemuka dengan mereka. Masih punya mukakah ayah jika nanti harus melamar Windi untuk Rio?” ucapan pak Yuli bimbang.
“Alhmdulillah. Yang penting hati ayah telah terbuka dan mengakui bahwa Windi adalah ibu dari cucu kita ayah. Selanjutnya kita yang harus bersilaturahmi ke sana ke rumah pak dan bu Suji,” ucap ibu Rio memcoba membesarkan hati suaminya.
“Ayah...ibu...Rio ucapkan terimakasih telah mendengarkan suara hati Rio dan telah memberikan restu untuk Rio lanjut hubungan dengan Windi. Selanjutnya kita akan pikirkan teknisnya mengingat ini bukan pernikahan biasa. Tahapan yang harus dilalui mungkin agak panjang. Dan yang paling penting adalah kita harus tutup telinga terhadap bagaimana omongan tetangga. Karena ini seperti membangunkan macan tidur,” ucap Rio dengan sedikit memberi ingat kepada kedua orangtuanya.
*****
“Ibu...jika nanti Rio serius mau melanjutkan hubungan dengan Windi, bagaiman ngomongnya ya sama ayah. Windi sangat khawatir kalau ayah belum melupakan penghinaan pak Yuli waktu itu,” ucap Windi pada ibunya pagi itu. Ayahnya seperti biasa telah menuju kiosnya untuk menunggu pelanggan.
“Windi tidak perlu khawatir. Nanti ibu yang akan bicara sama ayah. Kamu juga harus omong sama anakmu apakah dia siap kalau tetiba ibunya bersama laki-laki dewasa. Perlu dipikirkan juga bagaimana kamu menyusun kalimatnya untuk meberi tahu bahwa Rio adalah ayahnya,” ucap ibu Windi berusaha mendorong Windi agar juga bicara sama Nugi.
Bersambung
Maguwoharjo, 02/02/2021
Sumber gambar: id.pinterest.com
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
