Berkunjung ke Radiomu Yogyakarta (Tamugusi ke - 295)
Berkunjung ke Radiomu Yogyakarta
Oleh: Siti Nurhayati
Kebiasaan membagi link tulisan dari blog gurusiana ke berbagai grup wa maupun facebook membuat salah satu dari yang membaca menghubungi saya. Orang tersebut kebetulan seorang manager sebuah radio komunitas yakni radiomu milik Pimpimnan Wilayah Muhammadiyah DIY. Kebetulan beliau dulu satu almamater saat kuliah, sehingga secara personal memang kenal baik. Beliau minta saya datang ke studionya untuk membacakan cerita yang saya tulis.
Atas kesepakatan bersama, kemarin pukul sebelas saya datang ke radiomu di jalan Gedong Kuning Yogyakarta, bersebelahan dengan gedung Erlangga. Saya parkir kendaraan lantas berjalan masuk ke gedung tersebut. Saya bertanya pada penjaga bahwa akan bertemu dengan pak Juma Radiomu. Oleh penjaga saya ditunjukkan tempat pak Juma berada.
Saya berjalan naik ke lantai dua. Ada tertulis di depan ruangnya “Radiomu”. Saya mengetuk pintu, lantas dipersilahkan masuk. Saya dipersilahkan duduk lalu disuguhi segelas air putih. Saya ngobrol dengan pak Juma tentang ini itu terkait dengan kedatangan saya ke radiomu.
Ruang studio terbagi dua. Satu ruangan untuk pak Juma, yang sebelahnya untuk operator. Seting ruang cukup simple. Ada meja yang berisi computer, mixer untuk atur audio, kemudian ada mike untuk siaran. Ruang sebelahnya ada dua mike, kemudian ada mixer dan juga laptop untuk rekaman dan mengedit suara. Dinding kedua ruangan dilapisi karpet untuk peredam suara. Juga dilengkapi AC. Berada di dalam studio sangat nyaman, adem dan tidak berisik.
Pak Juma kemudian mengarahkan mahasiswa yang sedang magang untuk merekam suara saya saat membacara cerita yang saya tulis. Mereka bertiga dari mahasiswa Ilmu Komunikasi UAD semester enam. Mereka adalah Lusi dan Bagas, keduanya berasal dari Lampung, dan satu lagi bernama Indrajaya asli Indramayu.
Luci yang memasang mike agar suara saya bisa fokus. Kemudian Indra dan Bagas yang merekam. Mereka mengawasi lewat monitor computer sambil merekam suara saya. Saya membuka cerita yang terdapat dalam laptop lalu membacanya seperti orang sedang bercerita.

Cerita yang saya bacakan adalah berjudul “Hanya untuk Putriku” sebuah cerita yang baru saya tulis. Cerita ini merupakan cerita bersambung yang saya tulis di blog gurusiana. Bercerita tentang seorang perempuan yang diperlakukan tidak adil oleh keluarganya sendiri. Dia berjuang sendiri hingga putri tunggalnya menjadi orang sukses. Tulisannya belum selesai karena baru saya tulis lima bagian. Rencananya masih ada sekitar dua puluh lima bagian lagi yang akan saya tulis hingga tuntas. Saya membaca per bagian kemudian berhenti. Setelah itu dicek rekaman suaranya. Setelah ok, membaca lagi bagian berikutnya. Demikian seterusnya hingga selesai.
Saat saya membaca cerita tersebut saya membayangkan bahwa saya sedang menjadi dubber atau pengisi suara dalam serial televisi. Sangat sensasional. Pengalaman yang berbeda yang saya alami. Hanya saja suara saya tidak sebagus sebelum saya operasi tiroid. Saya harus sering minum air putih saat membaca, karena jika kering tenggorokan saya, suara menjadi serak dan tidak jelas.
Setelah selesai membaca lima bagian, saya membuka WA. Ternyata pak Juma pamit tidak bisa menemani saya hingga selesai, karena beliau harus ke kantor Pemda DIY mengantar proposal kegiatan karena hari itu hari terkahir proposal harus sudah masuk. Ada seseorang juga yang menemui saya untuk memamitkan pak Juma. Orang itu bernama Budi, orang yang bertanggungjawab di MCCC yakni Muhammadiyah Covid Crisis Center, yang kantornya di gedung sebelah persisnya dilantai dua masjid Haiban Hadjid.
Mendengar kata MCCC saya lantas bilang bahwa putri saya juga sering ke MCCC. Mas Budi bertanya siapa nama putri ibu. Saya menjawab namanya Zidna Navela Kamelia. Beliau langsung bilang, “Oh ini ibunya Zidna to. Wah ibu...saya bangga sekali dengan Zidna bu. Anaknya luar biasa aktif, sregep dan bekerjanya maksimal. Dia memiliki multi talenta bu.” Mas Budi langsung minta foto bareng saya kemudian dikirim ke putri saya dan langsung menilpunnya. Kebetulan putri saya sedang mengisi Taruna Melati di Cangkringan sehingga agak susah sinyal Ditilpun suaranya putus-putus. Mas Budi bahkan cerita kalau Zidna yang membuat mural di kantor MCCC.
Saat mau pulang kebetulan hujan deras. Sambil menunggu hujan reda saya salat zuhur di masjid. Selepas salat saya naik ke lantai dua untuk melihat mural yang dibuat putri saya. Saya naik malah ketemu teman Zidna yang juga aktif di MCCC Namanya Ika. Dia juga mahasiswa dari UGM juga, hanya saja fakultasnya berbeda. Ika mahasiswa di fakultas kedokteran sedangkan putri saya dari fisipol jurusan HI. Karena hujan tidak kunjung reda, saya kenakan mantel terus pulang.
Saya terobsesi punya radio podcast sendiri. Semoga mimpi saya terwujud. Doakan ya man teman. Aamiin.
Maguwoharjo, 31/03/2021
Sumber gambar: galery pribadi

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
