Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Cuma Dua Jam  (Tamugusi ke - 288)
Nyetir

Cuma Dua Jam (Tamugusi ke - 288)

Cuma Dua Jam

Oleh: Siti Nurhayati

Adalah Iyan namanya. Merasa lama tidak kunjung bundanya, maka jelang Ramadan tahun lalu, dia bersama sopirnya berangkat dari Jakarta ke Yogyakarta. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dengan pemeriksaan di beberapa titik perjalanan, akhirnya pukul empat pagi dia sampai di tempat bundanya.

Bundanya tinggal sama kedua adiknya, cowok dan cewek di sebuah rumah kontrakan di Kotagede. Hal itu lantaran menunggu kedua adiknya menyelesaikan kuliahnya di Yogyakarta. Rencananya setelah kedua adiknya selesai kuliah, bundanya akan diajak lagi tinggal di Jakarta. Ayah mereka sudah lama tiada.

Setelah mesin mobil dimatikan dan parkir di halama depan rumah, Iyan dan sopirnya mengetuk pintu. Tak lama bundanya membukakan pintu dan meminta mereka masuk dan istirahat. Karena teramat sangat penat, Iyan tertidur sama sopirnya juga di atas tikar yang digelar di ruang tamu.

Rumah kontrakannya tidak terlalu besar. Terdiri dua kamar, ruang tamu yang berbentuk L kemudian dapur dan kamar mandi. Halaman depan adalah pekarangan kosong. Lokasinya di pinggir dan ada satu keluarga di sebelah kanannya. Suasana sepi karena termasuk di daerah dalam.

Selepas subuh, bundanya telah menyiapkan teh hangat dan juga pisang goreng. Namun karena masih penat dan ngantuk, Iyan tidur lagi setelah salat subuh. Saat jam enam pagi tetiba pintu rumah diketuk pak RT. Saat adik Iyan yang cowok membuka pintu, betapa terkejut saat melihat banyak sekali orang di halaman rumah.

Pak RT sebelumnya minta maaf kepada ibu dan adik Iyan karena membawa pasukan. Bukan apa-apa namun hanya keberatan jika orang Jakarta bertandang ke Yogyakarta karena terkait wabah virus corona. Mereka tahu karena ada mobil parkir di halaman dengan plat B. Terlebih Jakarta adalah zona merah pekat casus covid-19. Dengan berat hati diminta Iyan untuk segera meninggalkan Yogyakarta secepatnya.

Tidak mau terjadi keributan atau hal lain yang tidak diinginkan, maka Iyan dibangunkan untuk siap-siap balik ke Jakarta. Bundanya sangat sedih, namun karena situasi dan kondisinya yang benar-benar sedang tidak menguntungkan sehingga hanya bisa pasrah.

Mata dan tubuh masih tidak nyaman, namun tidak mampu menolak permintaan warga agar segera meninggalkan Yogyakarta. Sopirnya diminta menghidupkan mesin mobil. Iyan memeluk dan mencium bunda dan kedua adiknya, lantas masuk mobil dan balik lagi ke Jakarta. Cuma dua jam pulang terus balik.

Covid- oh covid, engkau telah membuat pertemuan mereka menjadi sangat singkat.

Maguwoharjo, 24/03/2021

Sumber gambar: Otomotif.Bisnis.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post