Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hanya untuk Putriku - Cerbung (Tamugusi ke - 293)
Ikan segar. BeritaSatu.com

Hanya untuk Putriku - Cerbung (Tamugusi ke - 293)

Hanya untuk Putriku

Oleh: Siti Nurhayati

Part 4.

Nurdin sebenarnya ingin punya kesempatan bicara dengan Mawar, namun kini dia justeru berubah haluan. Perasaan sayang pada Nurdin telah berubah menjadi rasa tidak suka. Dia selalu berusaha untuk tidak memberi kesempatan pada Nurdin mendekatinya.

Perbuatan Nurdin malam itu sungguh membuatnya marah dan benci. Kalau memang dia suka padanya, mengapa justeru yang dilamar adiknya. Sudah demikian justeru dia telah berbuat noda pada dirinya. Apa yang dia mau sebenarnya? Apakah dia berpikiran jahat walau di luarnya dia bersikap baik pada dirinya? Banyak pertanyaan yang dia tidak mungkin tanyakan. Namun hal itu sungguh menyiksanya. Dalam sujudnya Mawar hanya bisa menangis. Karena tiada tempat berbagi rasa kecuali dia tumpahkan segala sesak hatinya pada Allah yang Maha Kuasa.

Telah enam pekan berlalu sejak kejadian malam yang tek pernah dia bayangkan. Bulan yang harusnya telah datang, belum muncul juga. Hati Mawar mulai risau. Jika bulan benar-benar tak mau muncul, maka petaka besar akan menghadang di depan.

Pagi itu epa dan abangnya pulang melaut membawa tangkapan ikan yang lumayan banyak. Di perahunya hampir dipenuhi ikan. Ikan tuna, ikan selar, ikan kombong, ikan cakalang. Sebagian ikan dibeli langsung oleh masyarakat untuk konsumsi. Ada juga yang membeli banyak untuk dibuat ikan kering. Jika masih ada sisi akan di jual ke pasar di pulau seberang dan juga sebagain dibuat ikan kering dengan cara dijemur.

Seperti biasa Mawar menyiapkan masakan di dapur, sedangkan yang lain menyambut nelayan di pantai yang tak jauh dari rumahnya. Suasana di pantai menjadi sangat ramai. Seketika berubah menjadi pasar ikan. Ada yang membeli banyak, ada yang cuma sedikit sekedar untuk konsumsi. Melati dan ema juga ikutan ke pantai untuk melihatt suasana dan juga membawa tempat untuk membawa ikan ke rumah. Saat itu Nurdin yang masih di rumah mencoba mendekati Mawar yang sedang merebus air dan menyiapkan kue di dapur.

“Kak Mawar tidak ikut ke pantai ambil ikan?” dia berusaha bertanya sesopan mungkin.

“Tidak. Tugasku adalah menyiapkan makan dan minum di rumah,” Mawar menjawab dengan tidak melihat Nurdin sama sekali, melainkan terus sibuk dengan pekerjaanya.

Tetiba Nurdin mendekat dan memegang tangan Mawar untuk menyampaikan rasa sesalnya karena malam itu telah merusak masa depannya. Dengan reflek Mawar mengibaskan tangannya hingga mengenai teh panas yang baru saja dituang dari ceret sehingga mengenai tangannya. Mawar teriak kepanasan dan kulitnya seketika melepuh. Nurdin menjadi semakin grogi. Dia ambil kain dan memegang tangan Mawar yang melepuh untuk dilap dan diusap dengan minyak goreng agar mengurangi panasnya. Pada saat yang bersamaan Melati tiba dari pantai dan melihat tangan Nurdin yang sedang memegang tangan Mawar.

Melihat kejadian yang tidak diharapkan, kepala Melati mendidih dan hatinya penuh prasangka. Hal-hal yang dikhawatirkan terjadi kini terlihat dengan mata telanjang. Mawar dan Nurdin terlihat sangat dekat. Mulutnya lantas teriak dan matanya melotot. “Apa yang kalian lakukan berduaan di dapur hah? Dasar tukang mesum...mengapa kak Mawar membiarkan tanganmu dipegang suamiku hah?” Melati berteriak membuat kegaduhan di pagi hari. Ikan yang dibawanya dari pantai dibanting begitu saja di dapur.

Nurdin langsung mendekati Melati dan memeluknya untuk menenangkan. “Yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan. Jangan salah memahami yang terjadi,” ucap Nurdin dengan terus memeluk Melati. “Jelas-jelas kalian saling berpegangan tangan, mengapa masih mangkir?” ucap Melati teriak sambil mendorong suaminya kuat-kuat.

Nurdin pun hampir terjatuh. Dia terus bilang, “Lihatlah tangan Mawar melepuh karena menyenggol gelas yang barusan dituang teh yang masih sangat panas. Saya hanya menolongnya saat dia teriak kepanasan. Saat itu saya yang kebetulan sedang lewat dapur otomatis menolongnya. Masa saya harus membiarkan orang yang butuh pertolongan?”

Melati yang sudah memendam cemburu lama bukannya mau memahami ucapan suaminya justeru menyerang Mawar, “Kamu itu kak yang memancing dengan sengaja menumpahkan teh, agar Nurdin mendekatimu. Iya kan kak? Ayo mengaku saja bahwa kamu itu suka sama suamiku.”

Mawar rasanya pingin menyiramkan teh ke wajah adiknya yang kurang ajar. Namun Mawar berhasil mengendalikan diri. Dia tidak membalas omongan adiknya yang menyayat hati. Dia tidak ingin memperpanjang keributan. Khawatir memancing orang-orang datang ke rumahnya. Beruntung orang-orang masih ramai bertransaksi ikan di pantai sehingga kejadian itu hanya mereka bertiga saja yang tahu.

Nurdin mengajak Melati ke kamarnya. Mereka berdua ke kamar. Tinggal Mawar seorang diri yang berada di dapur meneruskan pekerjaannya sambil gerimis deras dari sudut netranya. Namun buru-buru dia mengeringkannya agar tidak ada yang tahu duka di hatinya.

Maguwoharjo, 29/03/2021 Sumber gambar: BeritaSatu.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post