Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hanya untuk Putriku  (Tamugusi ke  290)

Hanya untuk Putriku (Tamugusi ke 290)

Hanya untuk Putriku

Oleh: Siti Nurhayati

Part 2.

Mawar sangat rajin membantu ema (ibu) mengolah ikan hasil tangkapan epa (ayah) dan kakaknya. Namun demikian tidak serta merta membuat ibunya bersikap baik padanya. Sebagus apapun yang dilakukan Mawar, selalu saja ada kekurangannya. Seperti siang itu, lantaran ia capek setelah melakukan banyak kerjaan rumah termasuk menjemur ikan-ikan itu, dia tertidur di kamarnya. Karena itu, saat tempat menjemur ikan yang terbuat dari anyaman bambu lalu di letakkan di atas jemuran bambu itu terbalik oleh tiupan angin kencang dan membuat ikan-ikan yang belum terlalu kering berantakan di tanah pasir, dia tidak tahu.

“Mawaaaaar...apa kerja kamu? Kenapa dibiarkan ikan-ikan ini berantakan?” teriak ibunya dengan penuh kemarahan.

Mendengar terikan emaknya dia yang sedang tertidur sangat kaget dan langsung lari ke halaman untuk memunguti ikan-ikan itu kemudian dimasukkan ke dalam ember. Melati yang sedang ngobrol dengan suami hanya menyaksikan saja. Malah Nurdin yang membantu memunguti ikan. Melati nampak tidak senang melihat pemandangan itu, kemudian menarik tangan suaminya untuk masuk ke rumah. Mawar hanya melirik saja pada mereka berdua yang berjalan masuk ke rumah.

“Kamu kok tega sih melihat kakakmu repot memunguti ikan bukannya membantu, malah menarik tangan saya untuk berhenti membantunya?” ucap Nurdin pada istrinya.

“Alah...biarain saja kak Mawar yang kerja. Dia sudah terbiasa kerja begitu,” jawabnya dengan nada tidak suka.

Setelah selesai memunguti seluruh ikan yang jatuh dan memasukkan ke dalam ember, Mawar membawanya ke sumur untuk dicuci. Kemudian dia meletakkan kembali ke atas tempat penjemur dan meletakkannya di atas bambu jemuran. Kemudian dia masuk kembali, terpaksa dia melewati Melati dan Nurdin. Dia berlalu begitu saja dan kembali ke kamarnya. Melati dan Nurdin hanya melirik saja pada Mawar yang berlalu.

Setiba di kamar dia hanya bisa meneteskan airmata. Dia bertanya-tanya dalam hati, mengapa perlakuan ema berbeda kepadanya. Seolah dia hanyalah seorang pembantu. Mengapa harus terlahir di dunia jika hanya menderita, berontaknya dalam hati. Namun dia tidak berdaya, maka sering dia hanya melamun di jendela dengan melihat ombak lautan nan luas. Ingin rasanya dai berenang ke pulau seberang untuk mencari kebahagiaan di sana.

Belum lagi dia puas memandang lautan dengan ombaknya dan suara deburannya yang khas, tetiba ema memanggilnya untuk mengerjakan pekerjaan lain di rumah. Dia jadi merasa sebal dengan adiknya, yang hanya bersenang-senang, sementara pekerjaan rumah semua harus dia yang menyelesaikan. "Sebenarnya saya ini anak ema atau bukan sih?" bisiknya dalam hati sambil dia membersihkan rumah dan beberes di dapur. Dia harus membersihkan beras yang akan dimasak untuk makan malam.

Maguwoharjo, 26/03/2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post