Menyapu Halaman (Tamugusi ke - 284)
Menyapu Halaman
Oleh: Siti Nurhayati
Halaman rumah saya harus di sapu setiap hari. Terkadang bahkan dua kali sehari, pagi dan sore. Maklum banyak pohon di pekarangan, sehingga daun rontok hampir setiap saat tanpa bisa dicegah. Terlebih jika ada angin kencang maka daun yang rontok akan lebih banyak lagi.
Pagi ini saya harus menyapu halaman karena terlihat sangat kumuh oleh banyak daun yang rontok. Terlebih kemarin sore tidak sempat menyapu sehingga tidak tahan mata memandang. Dengan segera tanganku meraih sapu lidi yang bertangkai panjang sehingga tidak perlu membungkuk saat menyapu.
Daun-daun yang rontok berasal dari pohon mangga, alpukat, kersen ini yang paling banyak, jambu air, belimbing, belimbing sayur, kelengkeng dan ada pohon lainnya juga. Pokoknya kalau sehari apa lagi berhari-hari tidak menyapu halaman, sudah bisa dipastikan daun-daun kering yang rontok itu akan menggunung. Ditambah lagi ayam tetangga suka datang ke pekarangan mengacak-acak sampah. Sungguh tidak sedap dipandang, karena membuat pekarangan menjadi kumuh.
Saya menyapu mulai dari belakang terus ke depan hingga ke jalan. Jika ketemu rumput yang tumbuh, aku berhenti untuk mencabutnya agar tidak makin tinggi sehingga menambah kekumuhan. Karena semakin banyak sampah yang tersapu maka menjadi semakin berat jika harus sampi di tempat sampah yang terbuat dari bis.
Ada tiga bis yang melingkar di pekarangan untuk menampung sampah. Sampah saya kumpulkan di beberapa titik, kemudian saya angkut menggunakan cikrak yang terbuat dari kaleng besar yang dibelah dua kemudian dikasih pegangan dari bambu. Setelah sampah masuk ke cikrak, kemudian saya bawa dan ditumpahkan ke dalam bis.
Saat saya menyapu hingga di jalan, seorang ibu sepuh tetangga sebelah kiri menghampiri. Beliau mengajak ngobrol. Untuk menghargai maka kegiatan menyapu halaman saya hentikan sejenak untuk mendengarkan ceritanya.
Pertama beliau menanyakan apakah sudah tahu bahwa anaknya bu Sugeng (ponakannya) telah melahirkan namun masih berada di rumah sakit. Saya bilang bahwa sudah tahu karena ada dua kresek kecil Brokohan di atas meja dapur yang isinya beras, kecap, telor mentah, dan mi instan.
Kemudian beliau cerita, bahwa saat beliau sedang memasak dan akan menuang santan ke dalam masakannya, tetiba istri ponakannya datang memintanya untuk membacakan doa brokohan sebagai tanda syukur bahwa sang jabang bayi telah lahir dengan selamat dan mohon keberkahan. Karena masak sedang berlangsung maka beliau bilang bahwa akan ke tempat bu Sugeng setelah selesai masak.
Konon saat membacakan doa brokohan, beliau sempat terharu dan meneteskan airmata karena bayi itu terlahir dengan selamat, namun keluarga sang ayah jabang bayi belum mau mengakuinya. Padahal aib itu akan selamanya ditanggung oleh keluarga bu Sugeng.
Cerita berikutnya, beliau bilang bahwa satu-satunya pohon di halaman rumahnya ditebang karena tidak tahan dengan sampahnya. Kemudian beliau mengeluhkan kalau tetangga depan rumah meletakkan tempat sampah yang penuh sampah tanpa ditutup sehingga tumpah ke jalan depan rumahnya.
Selanjutnya, beliau minta agar pohon-pohon di pekarangan rumah saya ditebang supaya daun-daun kering tidak terbang ke halaman rumahnya atau terbawa air saat hujan. Kemudian saya menjawab bahwa kalau pekarangan tidak ada pohon nanti menjadi panas. Dengan adanya pohon itu mendatangkan burung-burung yang memberikan suara indah di pagi dan sore hari. Dan masih banyak lagi yang beliau keluhkan. Intinya bahwa semua tetangganya salah. Yang punya ayam salah, punya pohon salah, punya tempat sampah salah. Tak lama, anaknya memanggilnya agar pulang.
Setelah ibu sepuh itu pulang, saya meneruskan membersihkan halaman. Sekarang halaman rumahku sudah bersih. Nanti kalau daun-daun yang menguning itu rontok lagi tertiup angin ya disapu lagi. Beres kan? Berhenti mengeluh. Bersyukurlah masih bisa menyapu, tandanya sehat. Orang sakit tidak bisa beraktifias dengan baik.
Maguwoharjo, 20/03/2021
Sumber gambar: dokpri
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
