Petik Pepaya Matang (Tamugusi ke - 283)
Petik Pepaya Matang
Oleh: Siti Nurhayati
Pepaya di pekarangan berbuah banyak. Umurnya sudah tua, tetapi buahnya masih banyak. Pohonnya tinggi sekitar enam meter. Aku amati dari bawah ternyata ada tiga yang matang. Aku minta tolong suami untuk memetiknya. Kalau tidak ada suami, biasanya aku sodok saja papaya itu dengan galah lalu aku biarkan jatuh ke tanah. Jika belum terlalu masak, papaya tidak akan pecah. Kalau sudah dipetik mau dikonsumsi satu saja. Selebihnya dibagi ke bu lik dan juga tetangga. Namun hingga sore, papaya belum juga dipetiknya
Menjelang maghrib suami bilang kalau akan petik pepaya. Beliau minta berdua memetik. Sudah ada galah yang selalu diletakkan di dekat pohon papaya. Maunya, aku yang mendorong ke atas dengan keras papaya yang matang itu dengan galah, suami yang menangkapnya. Biasanya memang cekatan kalau soal tangkap menangkap.
Aku ambil galah bambu yang agak berat. Kepalaku mendongak ke atas sambil ujung galah aku paskan pada badan pepaya untuk kemudian disodok ke atas dengan kuat agar terlepas dari pohonnya. Suamiku siap siaga untuk menangkap. Aku bilang, “Siap ya...satu...dua...tiga.” Seketika papaya itu jatuh, tetapi tidak tertangkap tangan malah mengenai bahu suami dan terjatuh. Pepaya kedua, aku sodok lagi dan kubiarkan jatuh namun tidak pecah. Pepaya ketiga maunya suami yang menyodok. Tapi entah mungkin lagi apes, pepaya itu kena kepalanya. Kami berdua tertawa terpingkal-pingkal.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
