Tuman (Tamugusi ke - 282)
Tuman
Oleh: Siti Nurhayati
Hacker itu tuman ngehack akun WA orang-orang yang terlalu baik, sehingga kurang waspada bahwa orang yang sedang mengajak ngobrol itu adalah hacker. Orang yang menjadi langganan hacker biasanya mereka yang profile-nya bagus dengan pergaulan yang luas, namun kurang begitu paham teknologi informasi. Contohnya adalah kekasih hatiku alias bapak dari anak-anakku.
Sepuluh hari lalu WA suami diretas orang. Padahal pernah juga sekitar tiga tahun lalu juga kejadian yang sama. Modusnya yakni, seseorang ngajak pertemanan. Melihat banyak teman yang sama, tanpa curiga langsung mengkonfirmasi. Tetiba yang di sana bilang untuk ngobrol via WA saja. Setelah dikasih nomornya, dia minta mengonfirmasi kode. Begitu diklik OK, WA-nya sudah pindah ke tangan orang tersebut, dan suami panik karena tidak bisa menggunakan WA lagi.
Saat itu, saya langsung menulis status di facebook, “WA suami diretas orang. Barangkali ada yang bisa membantu mengatasi hal itu. Bila ada WA mengatas namakan suami untuk meminta sejumlah dana, mohon untuk tidak memenuhinya.”
Status facebook mendapat banyak tanggapan tentang bagaimana mengatasi WA yang diretas. Pada saat itu juga banyak teman suami yang mengonfirmasi ke saya bahwa WA suami diretas. Saya bilang bahwa benar WA suami sedang dipakai orang yang tidak bertanggungjawab untuk menipu. Beruntung bahwa mereka, teman dan famili, tidak yakin bahwa itu omongan suami, sehingga tidak serta merta memenuhi keinginan orang tersebut. Bahkan yang mencoba menelepon orang itu, langsung diblok oleh dia.
Butuh waktu tiga hari untuk memulihkan aku WA-nya. Namun nomornya yang tergabung di dalam grup- grup WA telah dikeluarkan oleh admin, sehingga harus mencari admin untuk memasukkan kembali nomor WA-nya. Beruntung suami bukan admin grup sehingga sang hacker tidak mengacaukan grup.
Kejadian WA diretas terjadi lagi sepuluh hari lalu. Metodenya sama persis dengan yang terjadi tiga tahun lalu, yakni seseorang minta pertemanan di facebook. Namun karena suami begitu baik sama orang, apalagi sederet temannya adalah orang-orang yang sangat dikenal, sehingga langsung saja konfirmasi. Saat orang itu minta nomor WA, tanpa curiga suami langsung memberikannya. Kemudian diminta mengonfirmasi sebuah kode. Begitu tekan OK, seketika itu juga akun WA-nya pindah ke tangan hacker laknat. Padahal beliau akan ada kegiatan penting yang sangat memerlukan kordinasi melalui WA, kacaulah jadinya.
Saat suami bilang kalau WA-nya diretas orang, saya langsung sakit perut. Masalahnya “tuman”. Sudah pernah diretas kok terulang lagi. Saya bilang bahwa besok-besok kalau ada orang minta nomor WA tidak usah dilayani. Atau langsung saja Video call dengan menekan gambar camera di messenger. Jika orang itu menerima panggilan berarti dia bukan penipu. Jika menolak panggilan artinya dia orang tidak benar.
Hacker yang sekarang, lebih pintar. Dia sudah berhasil konfirmasi dua langkah sehingga sudah berhasil menembus email suami. Karena itu, untuk pemulihan akun tidak cukup tujuh jam atau tiga hari, melainkan butuh waktu tujuh hari. Bisa dibayangkan betapa repotnya. Suami pergi tanpa menggunakan WA, sehingga untuk komunikasi dengan keluarga melalui FB messenger atau tilpun langsung.
Tadi malam suami baru pulang dari kegiatan di kampung di NTT. Atas bantuan seseorang WA-nya telah bisa dipulihkan. Namun sama seperti dulu, nomor WA-nya telah dikeluarkan dari banyak grup, sehingga harus menghubungi nomor admin grup untuk memasukkan kembali ke dalam grup-grup tersebut. Sama seperti dulu.
Tadi siang, tetiba ada seorang yang sangat dikenal di dunia nyata minta pertemanan di facebook. Tanpa curiga langsung dikonfirmasi. Begitu dikonfirmasi orang tersebut menulis pesan inbox. Karena sudah kenal dengan orang tersebut dan lama tidak berjumpa, maka ngobrol di messenger dengan santai. Kemudian dia minta nomor WA. Lagi-lagi saking baiknya suami dikasihlah nomor WA-nya yang baru saja dipulihkan. Tetiba dia mengirim pesan untuk mengonfirmasi kode. Beruntung suami sadar bahwa ini pesan kok sama dengan pesan saat WA-nya akan dihack, sehingga tidak langung klik OK. Suami bilang ke saya, sepertinya seseorang akan meretas WA-saya lagi. Saya langsung ambil HP suami dan klik keluar. Pesan yang dikirim lewat SMS saya hapus. Begitu pesannya tidak dihiraukan, langsung orang tersebut ngeblokk facebook suami. Alahmdulillah itu lebih baik. Ya Allah lindungi kami semua dari para penjahat.
Maguwoharjo, 18/03/2021
Sumber gambar: teahub.io
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
