Drama di Rumah Kirana (Tamugusi ke - 315)
Drama di Rumah Kirana
Oleh: Siti Nurhayati
“Bagaimana bu, apakah Kirana mau ke sekolah untuk menyelesaikan masalah PKL?” tanya saya pada ibunya melalui pesan WA.
“Sudah saya bujuk sejak tadi malam, anaknya tetap tidak mau bu. Saya bingung harus bagaimana,” jawab ibunya.
“Ya sudah, nanti saya ke rumah Kirana bersama guru BK.”
Kemudian saya menghubungi bu BK untuk bersama mengunjungi Kirana. Saya ingin mengetahui apa maunya. Saya rencana ke rumahnya pagi hari, karena sekarang jika siang panas demikian menyengat. Namun ternyata ibu BK juga sedang menangani anak yang PKL di tempat lain yang juga membutuhkan penanganan segera. Akhirnya disepakati bahwa ke tempat Kirana pukul sebelas. Bisa dibayangkan itu sedang puncaknya panas.
Jelang jam sebelas bu BK kirim pesan bahwa sudah di sekolah. Saya segera meluncur ke sekolah untuk berangkat ke tempat Kirana. Saya berangkat dengan sepeda motor, bu BK mengikuti dari belakang, karena saya lebih hapal wilayah utara. Sebenarnya saya juga belum tahu rumahnya, namun saya minta ancer-ancer persisnya rumahnya di mana, sehingga yakin ketemu dengan tidak terlalu sulit.
Setelah sampai di dusun yang dimaksud, saya bertanya di mana rumah pak Iwan ke seorang ibu tua, dia tidak tahu rumah pak Iwan. Padahal ternyata cuma di depannya. Kemudian saya bertanya dengan seorang bapak yang sednag berjalan. Ternyata dia juga tidak tahu. Kemudian saya menghubungi ayahnya via hp. Ternyata malah ibu Kirana mendengar, kemudian keluar rumah lalu mengajak kami masuk ke rumah. Rumahnya sangat sederhana dan masih kontrak.
Sungguh di luar perkiraan, Kirana tetap berada di kamarnya, walau ibunya telah membujuk berkali-kali untuk keluar tetap tidak mau. Akhirnya saya minta ijin ke ibunya untuk masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya ibunya malu karena kondisi kamarnya, namun akhirnya saya diijinkan masuk.
Saya ketuk pintu kamarnya sambil mengucapkan salam, dia tidak menjawab. Akhirnya saya masuk walau dia tidak jawab salam. Dia hanya tiduran di kasur tanpa dipan mengahadap ke tembok. Dia terus membelakangi saya yang duduk bersimpuh sambil membujuknya agar bangun dan omong-omong. Dia tak bergeming tetap asyik bermain HP. Dengan berbagai bujukan, dia tetap kekeh tidak mau keluar kamar.
Saya kehabisan cara, akhirnya saya keluar kamar. Setelah saya keluar giliran ibu BK masuk. Dia tetap asyik dengan HP tanpa menghiraukan siapapun. Bu BK juga hanya dicuekin. Akhirnya HPnya diminta. Dia kasihkan namun dikunci dengan password yang hanya dia yang tahu.
Bu BK lalu tanya, "bener ini ibu boleh bawa HPmu?"
"Ya silahkan aja," jawabnya tanpa berpaling dan tetap membelakangi.
Kemudian bu BK kebingungan bagaimana mengetahu isi WA jika passwordnya tidak dikasih. Dia berusaha minta tolong beberapa counter HP, namun tidak ada yang tahu satupun.
Bu BK balik lagi ke tempat Kirana bilang untuk pinjam HPnya sebentar untuk dibawa pulang. Saat itu seketika dia marah minta HP segera dikembalikan. Dia mengancam akan pergi dari rumah jika HP dibawa bu BK.
Bu BK sempat ragu mau bawa pulang apa dikasihkan lagi. Belaiu khawatir anaknya bertindak nekat. Ibunya juga sempat terlihat akan mengalah kepada kemauan Kirana. Saya kemudian bilang jangan mau dipermainkan emosi kita oleh Kirana. Kita harus tegas.
Mengapa bu BK menyita HP, adalah untuk mengintip dengan siapa dia sering chat yang akhirnya lebih nurut dengan mereka dari pada sekolah. Dia menjadi tidak takut pada siapapun. Dia seperti orang kesurupan ngamuk tidak jelas. Kebetulan suami bu BK bisa membukanya walau tidak tahu passwordnya. Setelah mengetahuinya HP akan disadap untuk memantau Kirana dan teman-teman yang tidak baik itu.
Saat saya dan bu BK pamit, Kirana ngamuk semakin tidak terkendali. Namun kemudian abangnya keluar kamar dan ikut kesal sama adiknya dan memarahinya karena tidak berlaku sopan pada ibu dan juga gurunya.
Kami berdua segera pulang dari tempat Kirana kemudian balik ke sekolah untuk melaporkan hasil kunjungan kepada ibu kepala sekolah. Saya terus berdoa agar hati anak itu dilembutkan dan sadar akan kekeliruannya.
Sesampai di rumah saya kirim pesan ibunya menanyakan apakah Kirasa masih ngamuk apa sudah reda. Sore baru ibunya membalas bahwa sudah tidak ngamuk lagi dan dia sedng nonton TV di kamarnya. Alhamdulillah.
Maguwoharjo, 20/04/2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
