Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dua Perempuan Hebat ( Tamugusi ke - 318 )
Sindonews.com & Halodoc

Dua Perempuan Hebat ( Tamugusi ke - 318 )

Dua Perempuan Hebat

Oleh: Siti Nurhayati

Dua perempuan hebat yang kebetulan adalah perempuan Jawa ini bernama Siti Walidah dan Raden Ajeng Kartini. Mereka adalah pahlawan nasional bangsa Indonesia. Apa kepahlawanan mereka berdua? Pelajaran apa yang bisa dipetik dari keduanya? Untuk mengetahui jawabannya, mari simak uraian berikut ini.

Siti Walidah yang kemudian dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, setelah beliau menikah dengan sepupunya sendiri yakni Mohammad Darwis yang kemudian disebut sebagai Kyai Ahmad Dahlan, lahir di Kauman Yogyakarta Hindia Belanda pada tanggal 3 Januari 1872. Sedangkan Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879. Jika dilihat dari tahun lahir maka Siti Walidah berusia tujuh tahun lebih tua dibanding Raden Ajeng Kartini. Siti Walidah meninggal pada 31 Mei 1946 pada usia 74 tahun di Kauman Yogyakarta, sedangkan RA Kartini meninggal pada 17 September 1904 pada usia 25 tahun di Rembang Jawa Tengah.

Kedua perempuan hebat ini hidup pada masa penjajahan Belanda. Hanya saja Siti Walidah berusia lumayan panjang yakni 74 tahun, sedangkan RA Kartini berusia tidak panjang yakni 25 tahun saja. Di usianya, mereka berdua benar-benar mengisi hidupnya dengan berjuang sekuat tenaga untuk lepas dari penjajahan. Bangsa Indonesia menderita karena dijajah oleh kaum penjajah, namunkaum perempuan mengalami penderitaan ganda karena selain dijajah oleh penjajah juga dianggap sebagai mahluk hidup nomor dua setelah laki-laki. Kehidupannya sangat terbelenggu oleh tradisi patriarki yang mana sangat mengunggulkan laki-laki.

Kita tengok kehidupan RA Kartini. Beliau lahir dari seorang priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Dari garis ibunya yang bernama Ngasirah, adalah keturunan santri. Neneknya bernama Nyai Haji Siti Aminah, sedangkan kakeknya bernama Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur Jepara. Dari garis ayahnya yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat adalah seorang patih yang kemudian diangkat menjadi bupati Jepara setelah kelahiran Kartini.

Kartini memang terlahir dari seorang perempuan bukan ningrat, karena ayahnya kemudian menikah lagi dengan wanita bangsawan dari raja Madura sebagai syarat agar bisa diangkat menjadi bupati. Namun beruntung ayah Kartini berpikiran lebih maju dibanding para lelaki pada saat itu, karena memberikan kesempatan pada putrinya untuk belajar bersama putranya walaupun hanya sampai usia dua belas tahun saja. Setelahnya hanya putranya yang bernama Sosrokartono yang boleh meneruskan pendidikannya lebih jauh. Sedangkan Kartini harus mengikuti tradisi yakni dipingit sejak usia dua belas tahun hingga kelak akan dijodohkan dengan lelaki yang tidak dikenalnya. Dalam pemingitan beliau diawasi langsung bukan oleh ibu kandungnya, melainkan oleh ibu utamanya.

Meskipun hanya belajar hingga usia dua belas tahun di ELS, namun Kartini yang cerdas telah menguasai bahasa Belanda dengan baik sehingga beliau bisa membaca berbagai buku, majalah dan surat kabar berbahasa Belanda dan juga rajin berkoresponden dengan teman-temannya yang berkebangsaan Belanda. Beliau bahkan juga rajin mengirim artikel ke surat kabar berbahasa Belanda. Sungguh Kartini adalah seorang literat yang brilian.

Kartini tidak bisa menolak saat harus dinikahkan dengan bupati Rembang yang sebelumnya telah memiliki tiga orang istri. Dia suka tidak suka harus rela menjadi istri keempat dari seorang lelaki bangsawan bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Beruntung suaminya paham cita-citanya dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang.

Kartini meninggal dunia tujuh belas hari setelah melahirkan putra pertama dan terakhir yang bernama Soesalit Djojoadiningrat pada usia 25 tahun. Jasadnya dimakamkan di desa Bulu Rembang Jawa Tengah. Belakangan didirikan Yayasan Kartini yang kemudian mendirikan Sekolah Kartini di banyak wilayah di pulau Jawa. Yayasan tersebut didirikan oleh keluarga Van Deventer.

Kartini memang berusia pendek, namun ide-ide cemerlangnya yang ditulis dalam surat-suratnya yang bersejarah membumikan litersi sedemikian rupa. Hingga kumpulan surat-suratnya dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang atau Door Duisternis tot Licht. Sejak itu para wanita sadar akan emansipasi perempuan.

Kehidupan beliau sangatlah dramatis. Sejarahnya bahkan telah diangkat menjadi film hingga beberapa kali dengan dengan sutradara dan pemeran yang berbeda. Hal ini tidak lain karena banyak keteladanan beliau yang ingin disebarkan kepada generasi berikutnya yang tidak hidup sejaman dengannya.

Bagaimana dengan Siti Walidah? Beliau adalah putri dari seorang tokoh agama Islam atau ulama dan anggota kesultanan Yogyakarta bernama Kyai Haji Mohammad Fadli. Siti Walidah bersekolah di rumah atau Home Schooling. Beliau belajar berbagai aspek tentang keislaman, baca tulis bahasa Arab dan Al Qur’an dalam naskah Jawa yang dikenal dengan huruf pegon.

Beliau kemudian dinikahkan dengan sepupunya sendiri yakni Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Beliau mendampingi suaminya mengembangkan Muhammadiyah hingga ke luar Yogyakarta. Bersama suaminya sering mendapatkan perlawanan dari kaum yang menentang dakwah suaminya yang dianggap melawan arus pada saat itu, namun semua berhasil diatasinya.

Bersama sang suami. Siti Walidah mendirikan kelompok pengajian perempuan yang umunya para juragan dan buruh batik di daerah Kauman yang diberi nama Sopo Tresno. Hal ini dimaksudkan agar para perempuan juga menjadi pandai mengaji dan mengetahui isi kandungan Al Qur’an. Mereka bukan saja diajari membaca Al Qur’an namun juga mendiskusikannya sehingga paham isinya dan mendapatkan petunjuk. Selanjutnya fokus pada aya-ayat yang terkait dengan isu-isu perempuan.

Kelompok Sopo Tresno kemudian dijadikan organisasi perempuan oleh KH Ahmad Dahlan. Awalnya ada yang mengusulkan namanya Fatimah, namun kemudian nama Aisyiyah yang berasal dari istri nabi Muhammad saw yang bernama Aisyah yang disetujui. Sehingga secara resmi kelompok pengajian Sopo Tresno diberi nama Aisyiyah pada 22 April 1917. Lima tahun kemudian Aisyiyah resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah.

Nyai Ahmad Dahlan bersama Aisyiyah mendirikan sekolah-sekolah putri dan asrama, program keaksaraan serta Pendidikan agama Islam bagi perempuan. Beliau juga lantang berkhotbah menentang kawin paksa, mengunjungi cabang-cabang Aisyiyah di banyak cabang di seluruh Jawa. Berbeda dengan tradisi masyarakat Jawa yang patriarki, Nyai Ahmad Dahlan berpandangan bahwa istri itu dimaksudkan menjadi mitra bagi suaminya, yakni sederajat sehingga saling mendukung satu sama lain untuk hal-hal yang maslahat. Sekolah Aisyiyah dipengaruhi oleh ideologi pendidikan Ahmad Dahlan yakni Catur Pusat: pendidikan di rumah, pendidikan di sekolah, pendidikan di masyarakat, dan pendidikan di tempat-tempat ibadah.

Setelah suaminya meninggal dunia, bukan lantas surut perjuangan nyai Walidah, melainkan beliau meneruskan aktif di Muhammadiyah dan Aisyiyah. Bahkan pada tahun 1926, beliau memimpin kongres Muhammadiyah ke 15 di Surabaya. Beliaulah perempuan pertama yang memimpin konferensi sebesar itu. Beliau menjadi public speaker yang hebat.

Beliau memimpin Aisyiyah hingga tahun 1934. Saat pendudukan Jepang. Aisyiyah sempat dilarang, namun Nyai Walidah tetap menjaga anak-anak didiknya dari paksaan menyembah matahari. Beliau bahkan membuat sup yang kemudian dikirim untuk para tentara Indonesia. Beliau mempromosikan beberapa muridnya dalam dinas kemiliteran. Bersama jendral Sudirman dan Presiden Soekarno, beliau berdiskusi tentang strategi perang melawan kaum penjajah.

Sungguh luar biasa pelajaran yang bisa diambil dari dua perempuan hebat ini. Keduanya mengajarkan tentang pentingnya literasi, keberanian menyuarakan ketidakadilan, menegakkan kepemimpinan. Nyai Ahmad Dahlan mengajarkan pentingnya berorganisasi dan pendidikan agama. Sekarang bahkan Aisyiyah telah melahirkan banyak sekali amal usaha termasuk universitas dan rumahsakit. Dan tentu masih banyak lagi pelajaran yang basi digali dari kedua pahlawan perempuan nasional ini.

Maguwoharjo, 23/04/2021

Sumber: **(censored)**, **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post