Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hanya untuk Putriku - Cerbung (Tamugusi ke - 296)
CNN. Indonesia

Hanya untuk Putriku - Cerbung (Tamugusi ke - 296)

Hanya untuk Putriku

Oleh: Siti Nurhayati

Part 6.

Melati sengaja menunggu kakaknya keluar dari kamar mandi. Dia ingin menginterograsi memuaskan hasrat keponya tentang kondisi kakaknya yang belakangan suka mual dan muntah. Begitu Mawar keluar kamar mandi segera dia menjadi polisi dengan bertanya banyak hal.

“Kak Mawar sebenarnya ada apa? Tidak biasanya seperti itu? Bawaannya kok lemas dan muntah-muntah terus?” tanya Melati mencecar kakaknya dengan antusias

Mawar tidak menghiraukan pertanyaan adiknya. Dia malah menuang air panas ke dalam gelas membuat teh panas. Setelah air berwarna merah dan tidak terlalu panas, dia lantas meneguknya hingga separoh gelas. Melati yang terus memperhatikan semakin penasaran. “Kak Mawar ditanya kok tidak menyahut?”

“Kakak tidak apa-apa. Hanya kecapekan dan sedikit tidak enak badan,” jawabnya sambil menyeruput teh manis hangat hingga habis.

“Saya tidak percaya kalau kakak sakit biasa. Perasaan saya mengatakan kak mawar sedang hamil muda,” ucap melati begitu beraninya yang membuat Mawar tersentak kemudian menatap Melati lekat-lekat sambil melotot.

“Jangan kurang ajar kamu Melati. Selama ini kakak diam walau kamu sering berbuat yang tidak sopan pada kakak. Tapi kali ini kakak tidak suka kamu omong begitu. Tolong jaga ucapanmu,” ucap Mawar yang membuat Melati juga kaget.

Emanya yang sedang di luar lantas masuk ke dapur karena mendengar kedua putrinya seperti sedang bertengkar. “Kalian ada apa sih kok berantem. Tidak pantas sudah besar omong teriak terdengar hingga di luar. Malu kalau ada orang yang tahu,” emanya menegur kedua putrinya.

“Ayo kalian keluar. Hari sudah hampir petang. Angkat semua ikan-ikan itu kemudian tumpuk seperti biasanya. Besok baru dijemur lagi,” ema memerintahkan mereka berdua.

Mereka bertiga lantas keluar ke halaman untuk mengangkat ikan-ikan dengan para-paranya kemudian ditumpuk di ruang depan agar tidak kena embun malam. Hal itu dilakukan setiap hari hingga ikan-ikan itu mengering dan siap diangkat dari para-para untuk ditimbang dan dijual ke pengepul.

***

Mawar dan Melati masih saling memendam rasa tidak nyaman. Keduanya tidak teguran. Malam selepas makan malam dan mencuci piring kotor, Mawar langsung menuju ke kamarnya. Dia berbaring di tempat tidur yang hanya dipan beralas tikar dengan bantal yang tidak terlalu empuk. Pikirannya menerawang langit-langit kamar. Lampu teplok yang sangat redup menemani malam-malamnya yang sepi.

Dia memikirkan ucapan Melati yang menohok dan membuat hatinya makin gundah. Rasanya bom waktu telah siap meledak sewaktu-waktu. Dia bingung apa yang harus dilakukan jika mereka semua tahu bahwa dirinya kini tengah berbadan dua. Tidak mungkin dia terus berbohong bahwa dirinya bukan sedang mengandung.

Perbuatan adik ipar ada dirinya malam itu sungguh telah menjadikan dirinya serba salah. Mawar juga tidak ingin rumah tangga adiknya berantakkan gegara dirinya. Lima bulan sudah Mawar tidak bulanan. Ini artinya kandungannya telah berusia lima bulan. Dia tidak bisa lagi menutupi perutnya yang semakin membuncit. Penat memikirkan semuanya akhirnya Mawar tertidur.

Di kamar yang berbeda Melati mencoba membicarakan Mawar yang sepertinya sedang mengandung, dengan suaminya. Suaminya merasa sangat tidak nyaman Melati membicarakan kondisi kakaknya yang tidak biasanya.

“Bang...pernahkan memperhatikan kak Mawar belakangan ini? Dia terlihat aneh. Sering muntah-muntah di kamar mandi. Mungkinkah dia sedang hamil?” ucap Melati mencoba membuka pembicaraan.

“Kamu omong apa sih? Kakakmu kan gadis kenapa kamu berpikiran bahwa dia sedang berbadan dua? Jangan sembarangan kalau omong. Itu bisa menjadi fitnah,” Nurdin mencoba memperingatkan istrinya.

“Justeru karena dia masih gadis sehingga saya mempermasalahkan. Jika dia wanita bersuami tentu dengan senang hati saya menyambut kehadiran calon keponakan,” sahut Melati mendebat suaminya.

“Lah kamu sendiri kapan akan memberiku seorang anak. Sudah dua tahun lebih kita berkeluarga namun belum ada tanda-tanda kamu hamil,” suaminya berujar membuat Melati ciut hatinya.

“Ayo tidurlah sudah malam. Biar besok bisa bangun pagi,” lanjut Nurdin sambil memeluk guling.

Nurdin sebenarnya juga tidak bisa tidur. Dalam hatinya ada juga rasa takut dan khawatir jika Mawar benar-benar hamil karena dirinya. Deburan ombak laut di belakang rumahnya begitu syadu. Para nelayan berbekal lampu penerang melaut ke tengah lautan mengais rezeki menangkap ikan. Namun pikiran Nurdin belum hendak istirahat. Ia masih mengembara entah ke mana.

Bersambung.

Maguwoharjo, 01/04/2021

CNN Indonesia

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post